My Triplet Son

My Triplet Son
Cafe


__ADS_3

Seperti yang Arista katakan kini Meli berada di sebuah kafe tak jauh dari Askandar Corp. Bukan, dia bukan mengajak Razer untuk berkencan. Dia hanya mengajaknya makan siang dan ad beberapa hal yang ingin dia tanyakan.


"Maaf membuatmu menunggu." Ucap Razer segera duduk di hadapan Meli.


"Tak apa aku baru menghabiskan tiga gelas disini. Pesanlah sesuatu dulu." Sindir Meli yang tentu saja tidak di tanggapi Razer.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Razer setelah memesan beberapa menu.


"Kupikir kau tau apa yang akan aku bicarakan."


"Jangan mengulur waktu, katakan ada apa kau menemui ku."


"Aku ingin kau menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi di panti." Lirih Meli dia takut mendengar kenyataan sebenarnya.


Razer menghela nafas sebelum akhirnya dia menatap Meli serius, "Sebelum Arista memintaku menyelidiki tentang panti tempatmu tinggal aku sudah tau apa yang terjadi di sana."


"Aku memang di utus untuk menyelidiki dan melindungi Arista jadi apapun yang berkaitan dengan dirinya tidak akan luput dari penyelidikan ku. Termasuk kau dan Arlan, tidak banyak memang tetapi cukup membuatku yakin kalian orang yang tepat berada di samping Arista." Jelas Razer.


"Aku tidka ingin mendengar itu, katakan saja apa yang sebenarnya terjadi."


"Reshi, salah satu ibu panti mu. Dia banyak menggunakan uang panti untuk kesenangan pribadinya. Dia tidak memperdulikan anak anak yang membutuhkan biaya besar seperti Arlan, dia hanya akan menunggu bantuan dari ormas dan mengatakan bahwa tidak ada donatur di sana. Pada kenyataannya banyak perusahaan yang menjadi donatur tidak tetap di sana beberapa tahun terakhir dan Askandar Corp sudah menjadi donatur tetap sejak 5 tahun lalu." Jelas Razer.


"Apa tidak ada data do..."


"Ada, tentu ada. Tetapi Reshi sangat licik, suaminya bekerja di perusahaan IT terkenal disini. Dia lah yang membuat sistem keamanan data itu dan menyembunyikannya."


Meli teringat lelaki dewasa dengan tubuh gagahnya yang saat itu mengunjungi panti. Pak Arsy, dialah suami Bu Reshi. Tetapi dari wajah dan sikapnya tidak menunjukkan dia tega melakukan hal itu, setiap datang Pak Arsy selalu membawa makanan dan mainan untuk anak anak panti.


"Suaminya tidak mengetahui apa alasan Reshi meminta-nya melakukan itu, Reshi sangat pandai memainkan lidahnya."


"Lalu bagaimana kondisi panti saat ini?"


Razer menggeleng, "Tidak terjadi apapun, Reshi ditangkap dua hari lalu dan panti diurus oleh Bu Risma sebagai pemimpin utama."


"Terima kasih telah membantu kami."

__ADS_1


"Aku tidak berniat membantu kalian, Arista yang memintaku." Ucap Razer lalu bangkit meninggalkan Meli tanpa menunggu pesanannya datang.


Meli menatap nanar kepergian Razer, dia tidak munafik. Dia ingin Razer lebih lama di sini dan menikmati makan siang bersamanya.


...Apa cintaku bertepuk sebelah tangan?...


...^^^.....^^^...


Arista berjalan memasuki Cafe untuk menyelesaikan masalah yang lagi lagi dilakukan oleh istri dari ayah anak anaknya:)))


"Siang Bu, Tuan dan Nyonya Muda Dewanto sudah menunggu di ruangan Anda." Ucap Risa, salah satu pegawai di Cafenya ini.


"Apa mereka benar benar ingin membeli cafe ini?"


"Iya Bu, sejak beberapa hari lalu mereka sudah ke sini dan berniat memaksa Mba Meli untuk menjual Cafe ini." Risa menundukkan kepalanya.


"Berikan aku topi dan masker Ris." Perintah Arista yang segera dilaksanakan oleh pegawainya.


Setelah mendapatkan apa yang dimintanya dengan segera Arista memakainya yang disambut tatapan bingung oleh pegawainya.


"Mereka tidak perlu tau kalau aku adalah pemiliknya. Kalian hubungi Meli agar cepat kembali ke sini." Ucap Arista sebelum beranjak pergi menuju tempat dimana dua orang itu berada.


Baru membuka pintu saja pemandangan yang dia dapatkan sangat tidak mengenakan, dimana Kelvan dan Jihan tengah berpangutan mesra di sofa ruang kerjanya.


"Aku senang kau sudah tidak mual lagi jika bersentuhan denganku." Ucap Jihan sembari mengusap pelan wajah suaminya.


"Tentu saja, calon anak kita sudah berbaik hati membiarkan kedua orangtuanya melepas rindu." Balas Kelvan sembari mengusap pelan perut Jihan.


"Calon anak?" Lirih batin Arista nyeri.


Hal yang paling Arista sesali tidak segera menginstrupsi mereka adalah adegan dimana Kelvan mencium perut Jihan lembut dan berbisik lirih pada anak dalam kandungan wanita itu.


"Ehm ehm.." Dehaman Arista mampu membuat Kelvan dan Jihan tersentak dan serempak membenarkan duduknya serta pakaian masing masing.


"Maaf sudah mengganggu kegiatan Tuan dan Nyonya." Ucap Arista mencoba ramah meski di bibirnya tidak ada senyum sedikitpun yang tersungging.

__ADS_1


"Ahh tidak apa apa, kami saja yang tidak tau tempat dalam mengekspresikan perasaan kami satu sama lain." Ucap Jihan dengan pipi bersemu merah.


"Saya bisa memaklumi, euphoria pengantin baru." Ucap Arista membuat Kelvan dan Jihan tersenyum.


Arista duduk dihadapan kedua pasangan itu dengan perlahan sembari memegang pinggangnya.


"Apa Anda pemilik Cafe ini?"


"Iya betul, ada apa kalian ingin menemui saya?" Tanya Arista dengan serius. Kini dia benar-benar sudah terbiasa mengendalikan perasaannya terhadap Kelvan dan Jihan.


"Saya dan Istri saya berniat membeli Cafe ini." Ucap Kelvan langsung pada tujuannya.


"Apa alasan Anda ingin membeli Cafe saya?"


"Karena ibu dari calon anak saya menginginkannya, apapun yang diinginkan olehnya akan saya berikan." Tegas Kelvan sembari menatap tidak suka pada Arista yang menurutnya tidak sopan karena menggunakan topi dan masker dalama membahas hal seperti ini.


Akan saya berikan katanya, lantas bagaimana denganku? Ahh Arista kau harus ingat satu hal, kau mungkin ibu dari anaknya tapi kau tidak diharapkan termasuk juga anak dalam kandungan mu. Dia hanya akan menuruti ibu dari anaknya yang dia inginkan. Ayolah jangan lagi kau pikirkan pria itu.. - Batin Arista


"Tapi saya tidak berniat menjualnya." Ucap Arista tak kalah tegas.


"Maka saya akan memaksa Anda untuk menjualnya."


Jihan hanya diam melihat Kelvan dan wanita pemilik Cafe yang diinginkannya berdebat. Bukan tanpa alasan Jihan meminta Cafe ini, teman temannya banyak yang memuji karena pelayanan dan rasanya. Cafe ini sudah terkenal dan memiliki omzet besar di umurnya yang belum mencapai satu tahun.


"Saya tetap pada pendirian saya. Silahkan keluar dari ruangan saya, alangkah baiknya kalian berdua menghabiskan waktu untuk berbulan madu dibandingkan memaksa saya untuk menjual apa yang tidak saya jual."


"Sombong sekali, lihat saja kau yang akan merasakan akibatnya. Suamiku bahkan bisa membuat cafe yang lebih besar dari ini." Sinis Jihan sembari menunjuk ke arah Arista.


"Oh silahkan.." Santai Arista.


"Ayo sayang, apa yang bisa kita harapkan dari pemilik yang tidak punya sopan santun." Ajak Jihan karena dilihatnya Kelvan hanya diam dan menatap intens pada Arista yang masih memakai masker dan topinya.


Oh Tuhan, apa aku harus pindah sesegera mungkin? Ini sungguh tidak baik untuk kesehatan mentalnya.


"Kau tau aku tengah mengandung keturunan Dewanto, apa pun yang aku inginkan pasti akan terwujud termasuk membeli atau menghancurkan cafe mu ini. Kau hanya perlu memilih menjual dan mendapatkan uang atau kau melihat Cafe mu hancur tanpa mendapatkan apa apa." Peringat Jihan lagi setelah Kelvan bangkit.

__ADS_1


Arista menatap tajam Kelvan dan Jihan, " Lakukan apapun yang bisa kau lakukan aku pun akan melakukan hal yang sama. Silahkan pintu keluar ada di sebelah sana."


TBC


__ADS_2