
"Sialan lu, pergi sana!" Omel Sulis dengan logat Betawinya. Sulis kesal kepada wanita yang sedang bertengger di pohon nangka. Nayra tersenyum kagum pada Sulis, dia tak ada rasa takut sama sekali pada makhluk di atas sana.
Sedangkan Dewi dan Dina saat ini sedang memegangi tangan Nayra karena takut, wanita di atas sana tertawa cekikikan seperti sedang meledek keberadaan ke empat orang di bawahnya.
"Eh, dia malah ketawa minta disambit kayanya nih, pergi kagak lu!" Kesal Sulis lagi.
Hanya Nayra dan Sulis yang dapat berinteraksi dengan makhluk, sedangkan Dewi dan Dina hanya merasakan aura dingin yang membuat bulu kuduk merinding serta daun yang bergoyang namun tak ada angin.
"Cuekin saja Ka Sulis, nanti kalau dia mendekat biar aku sentil," ucap Nayra menenangkan Sulis.
Saat ini Sulis sedang hamil besar dan dia emosi karena mendapati suaminya yang sedang berjudi di rumah kawannya, dia mengajak Dina, Nayra dan Dewi untuk mengantarkannya menemui suaminya.
Sulis adalah kakak sepupu Dina, saat ini mereka sedang menunggu angkutan umum di depan gang, padahal saat mereka datang tadi masih ada beberapa tukang ojek yang mangkal. Tapi, sekarang terlihat sepi sedangkan waktu baru saja menunjukkan pukul sembilan malam, apa mungkin mereka sedang mengantarkan penumpang.
Tiba-tiba saja wanita itu sudah turun dari pohon dan berdiri tidak jauh dari mereka, Nayra bergeser untuk melindungi Sulis. Nayra membuka matanya dengan lebar seperti mengancam wanita itu yang kemudian di sambut dengan tawa terkikik.
Mulut Nayra membaca surah Al-fatihah - ayat kursi - surah Mu'awwizat. Lalu mata kanan Nayra menjadi merah dan membuat nyali wanita berambut panjang itu ciut dan menghilang dari sana. Nayra memejamkan matanya dua sampai tiga kali lalu mata merah Nayra kembali normal.
Setelah menunggu lama dan di tertawakan makhluk cantik sebangsanya, akhirnya mobil angkutan yang mereka tunggu tiba, langsung saja mereka naik dan tancap gas dari sana.
Nayra dan Dewi segera pulang setelah mengantarkan Sulis dengan mengendarai mobil milik Dewi yang ditinggalkan di rumah Dina, rumah yang mereka tuju tadi sulit untuk di jangkau oleh mobil.
Berselang tiga hari Dina menemui Nayra di kelasnya, hanya di tahun pertama saja mereka satu kelas. Dewi cerita kalau saat ini Sulis sedang sakit, kata orang dia ketempelan kuntilanak yang malam itu ditemuinya, Dina meminta Nayra untuk melihat Sulis.
"Ayolah Nayra, selama ini kamu bisa melakukannya, tengok Ka Sulis kasihan dia, sudah berobat tapi tetap saja panasnya tidak turun."
"Baiklah nanti aku main ke sana, tapi aku tidak janji, ya? Aku akan melakukannya sesuai kemampuanku."
"Iya, aku tau, terima kasih ya." Dina memeluk Nayra erat.
"Kamu ikut kan, Wi?" tanya Nayra.
"Sebenarnya aku malas, tiga tahun ini aku harus berurusan dengan makhluk begituan, kayanya tidak pernah deh masa mudaku mencium bau cinta, setan mulu, lama-lama aku buka jasa mengusir hantu nih kaya Ghostbusters."
__ADS_1
"Itu sudah risiko kita, toh Klub kita tiada beda dengan Ghostbusters," ucap Damar yang sejak tadi asyik dengan komputernya.
"Mau ikut tidak, nih?" goda Nayra.
"ya, aku ikut." Sambil cemberut.
"Bagaimana denganmu, Dam?"
"Kali ini aku tidak ikut."
"Ah, sudahlah kita saja yang jalan." kesal Dina.
"jangan lupa, Nay tinggalkan pesan kepada Ka Rio," ujar Damar.
"Siap."
🍇🍇🍇
"Wa'alaikumsalam," ibu Dina dan kakaknya - ibu dari Sulis yang menyambut mereka bertiga. Kedatangan Nayra dan Dewi sudah di tunggu oleh mereka, karena mereka sudah cukup tahu kemampuan Nayra dari Dina. Ibunda Sulis mempersilahkan Nayra dan Dewi untuk masuk dan duduk.
"Ka Sulis kenapa, Bu?" tanya Nayra.
"Kata tetangga dia ketempelan waktu pulang malam itu."
[Tapi malam itu, enggak ada yang ikut] gumam Nayra dalam hati. "Apa suaminya pulang malam itu juga?"
"Iya setelah kalian pulang, suami Sulis ikut pulang." Nayra langsung mengerti, dan minta izin untuk melihat Sulis di kamarnya.
Nayra melihat kondisi Sulis yang sedang terlelap tidur, Nayra tidak melihat apa-apa kecuali rasa mual. "Apa yang dikeluhkan Ka Sulis, Bu?"
"Semalaman dadanya sesak, napasnya berat, badannya panas, tulang punggungnya pegal tidak hilang-hilang, tidak bisa tidur, sekalinya tidur Cuma sebentar itu pun mengigau."
"Bu, kayanya harus panggil ustadz atau Kyai," pinta Nayra, seakan dia tahu yang datang memiliki kekuatan lebih darinya, "Maaf ya Bu, insya Allah Ka Sulis baik-baik saja, dedek bayinya juga sehat tidak ada masalah, hanya saja ada yang usil sama Ka Sulis."
__ADS_1
Si ibu dan adiknya itu kemudian berdiskusi untuk memanggil ustadz. sedetik kemudian mata Nayra berkedut, seperti biasa jika seperti ini pasti ada sesuatu di sekitarnya yang hendak berinteraksi dengan Nayra.
"Bu kalau bisa cepat, ya," ucap Dewi. Dia melihat Nayra mematung dengan bola mata yang berubah merah serta air mata yang mengembang di sudut matanya yang juga berwarna merah, Dewi menutupi Nayra agar matanya tidak di lihat orang lain, Dewi menghapus air mata Nayra dengan tisu yang selalu dia bawa. "Nay, istighfar." Dewi membaca pelan surat Tri-Qul di telinga Nayra.
Nayra menarik napas dalam, "Astaghfirullahalazim." Nayra bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Sulis sambil menarik Dewi. "Aku enggak tahu itu apa, sepertinya ada seseorang yang hendak mencari masalah denganku," ucap Nayra.
"Maksud kamu, Nay?"
"Entahlah."
Beberapa menit kemudian datang seorang pria yang terlihat masih muda, mungkin usianya sekitar dua puluh lima tahun. "Assalamu'alaikum," ucapnya tepat di depan rumah Sulis.
"Wa'alaikumsalam." Jawab semua orang yang berada di sana, Pria itu masuk ke dalam disambut keluarga Sulis.
"Suami Ka Sulis mana, Bu?" tanya Nayra.
"Lagi di rumah orang tuanya."
Ternyata malam itu mereka sempat bersitegang sampai suaminya pulang ke rumah orang tuanya.
"Rumah orang tuanya jauh ya, Bu?"
"Ngga kok dekat sini."
"Bisa di jemput? Suaminya harus menemani Ka Sulis."
"Iya bisa, ibu akan jemput sekarang."
Sudah mau Maghrib suami Sulis belum datang juga, sedangkan pria muda tadi sudah mau pamit, dia memberi minuman botol yang sudah dia bacakan beberapa surah untuk diminum Sulis, karena lemasnya Sulis belum beranjak dari kasur.
"Nanti saya akan datang lagi setelah Maghrib, saya akan ajak Kyai Mahmud," ucap pemuda tadi. Lalu dia pamit pulang karena sudah waktunya Shalat Maghrib.
Nayra dan Dewi menumpang Shalat dirumah Sulis, sampai selesai Shalat Maghrib suami Sulis belum datang juga, Nayra meminta tolong kepada Dina untuk menghubungi ibunya Sulis yang sedang menjemput menantunya itu.
__ADS_1