
Burhan memanggil tim SAR untuk mencari Nayra yang hilang di hadapannya. Kinan ibu dari Dewa dan Dewi datang karena mendengar berita dari asisten rumah tangganya, Dewi masih menangis sedangkan Deden dan Dewa terlihat pucat dan panik.
"Nayra, cepat kembali," ucap Dewa pelan.
Tim SAR yang datang langsung mencari Nayra di tiap sisi area tenggelamnya Nayra. "Sebenarnya apa yang kalian cari?" akhirnya Adam membuka suara.
"Nayra ingin mencari anak kecil yang tenggelam di sana," ucap Dewa.
"Om sudah pernah bilang Dewa, jauhi Nayra dalam hal-hal diluar logika."
"Maafkan Dewa Om, tapi tiap malam tidurnya terganggu karena roh itu mendatangi Nayra."
Adam mengusap wajahnya gusar, dia tau hal itu, karena sudah beberapa malam Nayra bangun karena mimpi buruk.
Dua jam pencarian berlalu, mereka pun memperluas pencarian, tiba-tiba muncul beriak air di tempat Nayra tenggelam dan Deden yang melihat pertama kali.
"Itu Nayra."
Perlahan-lahan Nayra keluar dari air dan berjalan ke daratan seperti tidak sadar dengan tas yang berat ditangannya, Semua melihat dengan tidak percaya.
Adam mendekati Nayra, mata Nayra masih memerah, Adam membantu memegang tas yang Nayra pegang. Nayra menarik napas panjang dan dia sadar.
"Om."
Burham membuka tasnya dia terkejut melihat ada mayat di dalamnya, dan Nayra terjatuh pingsan dengan cepat Adam menangkap tubuh Nayra dan membawanya ke rumah sakit.
Nayra tersadar di tengah malam dengan tangan yang di infus. Dia melirik ke semua ruangan.
"Tiga jam di dasar air tanpa udara tapi paru-parunya baik-baik saja, apa dia memiliki insang," ucap Burhan bergumam ketika berada dirumah sakit hendak mengambil informasi dari Nayra.
Nayra menceritakan semua yang dia ketahui, Burhan hingga bingung menyusun kalimat untuk laporannya nanti.
__ADS_1
Antoni dilakukan sidang ulang dan di jatuhi hukuman mati, sedangkan Tari sudah tidak lagi berkeliaran, dia sudah meninggalkan rumah sakit untuk selamanya. Nayra sudah kembali lagi ke sekolah, setelah beristirahat dua hari di rawat.
Tiga bulan telah berlalu Nayra sangat menikmati keseharian sebagai gadis biasa, menjalani aktivitasnya sebagai seorang siswi tanpa ada masalah.
Meski ada banyak dari mereka yang tak terlihat orang lain mendekati Nayra sekedar menyapa gadis bernetra merah itu. Tetapi, Nayra dapat menguasai dirinya untuk tidak terlibat dengan mereka yang tak kasat mata.
Tetapi, entah untuk esok hari. Bisa saja yang ada di belakangmu sekarang sedang menunggu Nayra.
Nayra sedang berbalas pesan dengan Dewa, teman Dewa sedang sakit di bagian perut sudah 4 hari tak kunjung ada perubahan bahkan sampai dirawat, sudah berbagai obat diminum tapi tak juga sembuh, dan anehnya di dalam perutnya ada yang bergerak, Pasien sampai dilakukan USG namun tidak ditemukan apa-apa.
Maka dari itu Dewa mengharapkan bantuan Nayra, Dewa menduga penyakit yang diderita temannya itu adalah buatan gaib.
"Aku akan ke sana sepulang sekolah." Balas Nayra kepada Dewa.
Sepulang sekolah Nayra dan Dewi menuju Karawaci untuk menemui Dewa di sana. Ketika turun dari mobil, Nayra merasakan aura sangat aneh Nayra pun sedikit sesak. Dewa sudah menunggu dilobi bersama Deden, Nayra dan Dewi mencium tangan kedua orang yang lebih tua darinya itu.
Mereka berempat menaiki lift untuk menuju kamar pasien, Nayra masih sedikit sesak seperti dirinya menghisap asap rokok. Netra merah Nayra sudah memberi sinyal karena terjadi hal aneh di dekatnya. Nayra terhenyak ketika dentuman keras terdengar ketika pintu lift terbuka.
Dewa dan Dewi sudah bersiap diri ketika Nayra mengalami hal aneh di lift, mereka berjalan menuju kamar di mana teman Dewa di rawat. Nayra berdehem ketika Dewa memegang knop pintu kamar, Dewa menoleh ke arah Nayra.
"Ada sesuatu di dalam," ucap Nayra melihat kearah Dewa.
"Ada keluarganya," ucap Deden.
Nayra tersenyum sambil menunduk, "Bukan itu."
"Ayo masuk," ajak Dewa.
Nayra mengangguk dengan menarik Dewi ke belakang Nayra, Dewi seakan paham apa yang di inginkan Nayra.
Bulu kuduk Nayra merinding hingga Nayra memejamkan mata untuk sesaat menikmati aura itu, kakinya mulai melangkah masuk di belakang Deden di ikuti Dewi.
__ADS_1
Nayra melihat sosok bayangan hitam tinggi besar di dekat pasien yang berbaring lemas, Dewa mengenalkan Nayra ke keluarga sahabatnya itu. Wajah Nayra langsung muram melihat keadaan pasien yang ikut tersenyum kepadanya itu.
"Belum seminggu sudah habis begini badannya." Nayra bergumam. Dia berdiri di samping Arga, sahabat Dewa dan Deden.
"Kamu cerita sama Nayra?" bisik Deden pada Dewa.
"Enggak, tapi aku tidak aneh kalau Nayra tahu, dia anak spesial, Den" ucapnya.
"Maaf ya, Ka," ucap Nayra yang langsung memegang perut pasien itu dengan jari telunjuknya. Pasien bernama Arga sedikit mengerang kesakitan.
"Ada sesuatu di dalam," ucap Nayra dalam hati. Bayangan hitam itu mendekati dan hendak menyentuh Arga. Tangan Nayra cukup cepat bergerak ke arah bayangan dan memegang tangan pria hitam di depannya itu.
Bayangan hitam terkejut karena dirinya bisa disentuh oleh gadis di hadapannya, matanya terbuka lebar dengan mata yang sangat merah.
Mata Nayra pun melotot memandang bayangan yang hanya di lihat olehnya itu, dan bayangan tersebut tertawa terbahak-bahak membuat bulu kuduk Nayra merinding lalu melepaskan tangannya dari bayangan hitam itu.
Nayra menegaskan penglihatannya dari bayangan hitam itu, tubuh bayangan hitam di tutupi penuh bulu, mata yang merah serta gigi taring yang sangat runcing.
Makhluk berbulu mengeluarkan suara yang meraung dengan mulutnya yang terbuka lebar, tangan Nayra bergerak seperti menepis gelombang suara dari bayangan hitam itu. Membuat tubuh bayangan itu bergeser mundur karena terbentur gelombang yang Nayra tepis tadi.
Nayra terheran, dia memandangi tangannya yang bergerak seketika barusan. Dan memandang kembali ke arah makhluk berbulu yang sedang kesakitan.
"Apa ini." Bisik hati Nayra yang masih terheran-heran dengan tingkahnya sendiri.
Makhluk berbulu itu semakin keras meneriaki Nayra, dan Nayra kembali menepis gelombang suara dari milik makhluk berbulu hingga dia tersungkur karena terbentur dengan gelombang miliknya sendiri dan menghilang.
Sudah pasti sikap Nayra itu dipandang aneh oleh yang lain. Kecuali Dewa dan Dewi, yang sudah beberapa kali menyaksikan hal-hal aneh bersama.
Tiba-tiba Arga merintih kesakitan sambil memegang tangannya. Nayra mendekati Arga dan mengusap perutnya, Arga mengejan sangat kuat hingga mengeluarkan kotoran dari tubuhnya.
Arga buang hajat dengan bau yang tidak biasa, bau yang tercium seperti bau bangkai busuk.
__ADS_1
"Masih sakit, Ka?" Nayra bertanya kepada Arga, dan Arga mengangguk.
"Jangan kaget kalau ada sesuatu yang ikut keluar," ucap Nayra membuat Arga dan keluarga kebingungan.