
Wanita itu masih di sana memakai gaun merah, dia memandangi Nayra, Nayra yang tak mau lihat terpaksa melihat Ke arahnya. Wajahnya seperti marah pada Nayra, dia mulai melangkah maju mendekati Nayra.
Nayra berkeringat padahal AC di ruangan cukup sejuk, ternyata dia ketakutan.
[Jangan mendekat!! Pergi sana] Wanita itu seakan mendengar bisik hati Nayra.
Setelah memberikan materi, guru tersebut keluar kelas, Nayra mengusap keringat yang berada di dahinya serta air mata yang keluar dari matanya.
"Nayra." Dewi memeluk Nayra.
"Kenapa dia? " Tanya seorang murid laki-laki bernama Damar yang duduk di samping Dewi
"Ga apa-apa."
"Matanya kenapa? sakit?" tanyanya karena sejak pertama masuk semua orang memperhatikan Nayra dengan eye patchnya.
"Iya, sakit mata." Bohong Dewi.
Saat pulang sekolah diluar sudah heboh lagi, ini orang ke empat yang teriak-teriak sambil menangis minta payungnya dipulangkan.
Mata Nayra berkedut lalu Wanita itu lari menghampiri Nayra yang datang dari arah lapangan, dia berdiri di depan Nayra dengan wajah memohon sambil menangis.
"Tolong ambilkan payungku, aku butuh payung itu."
"Mbak, tapi dia tidak pakai payungnya."
"Diam!" Dia membentak, Dewi langsung tersinggung dia pasang wajah marah.
"Sialan nih si mbak main bentak saja."
"Pergi kau!"
Pak Kardi mendekati wanita dan memohon untuk tidak membuat keributan. Sambil menarik si wanita itu untuk keluar.
"Lepaskan, cepat lepaskan." Kini Pak Kardi ikut kena semprot wanita itu.
"Sialan tuh cewek main bentak saja kaya orang kesambet."
Nayra yang sejak tadi tau langsung menoleh kearah Dewi. "Dia beneran Kesambet, Wi?"
__ADS_1
"Ah, serius!"
Nayra terkekeh melihat wajah terkejutnya Dewi.
Nayra menoleh kearah wanita itu dan berkedip dua kali lalu melihat bayangan gadis berbaju merah tadi berada pada tubuh wanita yang sedang berteriak-teriak memaki Pak Kardi.
Tubuh Nayra seperti ada yang menggerakkannya, dia menghampiri wanita itu. Si wanita menoleh kearah Nayra, Seperti tau sedang didekati Nayra.
"Tolong saya, saya butuh payung itu," pinta si wanita.
"Maaf Ka, payungnya bukan sama saya, tapi teman saya yang bawa, saya juga tidak tahu rumahnya di mana, kalau nanti dia sudah masuk, saya akan pinta payungnya."
"Tidak mau, saya butuh payung itu, sekarang!"
"Maaf saya tidak bisa bantu." Mata Nayra berkedip, lalu wanita itu terdiam dan terjatuh ke tanah. Wanita yang pingsan tadi di bawa ke ruang pos satpam dan berapa menit kemudian sadar ketika hidungnya diberi minyak angin.
"Aduh Pusing," Dia diam sejenak dan kebingungan, "loh, saya di mana ini?" Ucap gadis itu sambil memegang kepalanya.
"Mbaknya tadi pingsan," Ucap Nayra.
Setelah beberapa menit wanita itu pamit pulang.
"Pak Kardi apa ke empat wanita yang mencari payung ketika sadar dari pingsannya akan selalu berakhir seperti tadi?"
"Dia mencari payungnya, dia mau payungnya, apa kita bisa minta alamat Dina ke guru?" Memandang kearah Dewi.
"Bisa saja sih, tapi alasannya apa?"
"Besuk dia, karena kan dia memang sakit."
Nayra dan Dewi segera pulang karena sopir Dewi sudah menjemput mereka berdua, saat melewati pagar wanita berpakaian merah itu ada di sana. Nayra dengan cuek melewati wanita tersebut, lalu di kejauhan Nayra menoleh ke arahnya, dia berdiri tertunduk di sana.
Keesokan harinya, ketika Nayra dan Dewi sampai disekolah tidak ada keramaian seperti hari sebelumnya. Tapi Nayra melihat wanita itu dan mereka berdua saling beradu pandang. Wanita berbaju merah berjalan mendekati Nayra.
[Aku mohon jangan mendekat] bisik Nayra dalam hati.
Wanita itu mengurungkan langkahnya karena melihat mimik wajah Nayra yang enggan diganggu.
Wanita berbaju merah selalu menampakkan dirinya di depan Nayra, meski dia tidak mendekat. Tapi perbuatannya membuat Nayra merasa terganggu, bahkan sesekali dia menghilang dari pandangan dan muncul tak beberapa lama.
__ADS_1
Sampai jam pulang pun dia menunggu Nayra di pagar sekolah dengan wajahnya yang memohon. Tapi Nayra tetap pergi meninggalkan wanita itu, si wanita terus memandangi Nayra yang menjauh pergi.
Dina masih belum masuk juga, dia harus dirawat karena usus buntu. Nayra menemui guru wali kelas untuk meminta alamat Dina dengar alasan ingin menjenguknya, Ibu guru memberikan alamat lengkap rumah Dina.
Murid-murid berlarian kearah gerbang sekolah, ternyata ada kakak kelas yang kerasukan. Menjerit-jerit meracau tak jelas. Saat siswi itu dibawa ke mushola sekolah, siswi itu sadar sambil menangis.
Beberapa menit kemudian Masuk lagi yang berbeda, siswi berteriak histeris setelah sebelumnya pingsan terlebih dulu. Semakin bertambah setiap menitnya hingga ada tujuh siswi yang kesurupan.
Mereka bergantian tidak sadarkan diri.
Nayra mendekati siswi kelima, dia sedang dipegangi orang dewasa karena tubuhnya meronta-ronta di tanah. Dia dipegangi agar tidak melukai diri sendiri. Nayra tepat berdiri di bagian kepala seorang siswi yang sedang berteriak-teriak. Siswi tersebut langsung menoleh kepada Nayra, "Payungku, cepat kau ambil Payungku." Matanya terbelalak memandang Nayra.
Dewi yang tidak memperhatikan Nayra kemudian menghembuskan napas kasar ketika melihat Nayra sudah dekat dengan siswi kelima. Dewi mencoba membawa Nayra menjauh darinya, Tapi Nayra menahan Dewi.
"Lepaskan dia, aku akan mengambilnya."
"Sekarang!"
"Ya, sekarang."
"Aku ikut!"
"Baik, tapi keluar dari tubuhnya, kasihan dia kesakitan."
Siswi kelima kemudian sadar dan menangis terisak. Tentu saja sikap Nayra yang seperti itu sangat menarik perhatian murid dan guru. Nayra pamit dengan Dewi untuk ke rumah Dina mencari payungnya.
Awalnya Dewi tidak setuju, kenapa harus Nayra yang repot berurusan dengan roh itu, Nayra kasihan kepada siswi juga wanita yang dia lihat beberapa hari ini, akhirnya dia mau mengantarkan Nayra mencari alamat rumah Dina.
Nayra dan Dewi di antar oleh Pak Juned- guru olahraga dengan mobilnya, serta Yusuf-ketua OSIS juga ikut bersama atas permintaan Pak Juned.
Dewi berpegangan erat dengan Nayra karena takut, karena wanita itu ada di sebelah Nayra, karena waktu naik ke mobil, Nayra menyuruh wanita itu untuk masuk terlebih dahulu.
Pak Juned dan Yusuf hanya mesem-mesem meragukan Nayra tapi saat ini mereka sedikit percaya karena di dalam mobil berbau bunga kenanga. Mereka berjalan dengan bantuan Google map untuk menuju rumah Dina, yang memakan waktu hampir satu jam.
"Kemungkinan ini rumahnya, Pak." Nayra menunjuk salah satu rumah. Pak Juned memarkirkan mobilnya.
"Hmm." Nayra mengangguk.
"Kenapa, Nay?"
__ADS_1
"Dia keluar duluan memastikan ada atau tidaknya payung miliknya."
"Seram ih, Nay." Bau kenanga di dalam mobil hilang beberapa detik setelah Nayra berdehem tadi. Pak Juned dan Yusuf langsung bergidik.