
Dewi membeli beberapa potong pakaian, tas juga sepatu, begitu juga Nayra. Adam meminta bantuan Dewi untuk mencarikan Nayra pakaian untuk dia pakai sehari-hari.
Saat pulang Nayra dan Dewi menunggu bus di sebuah halte, karena Pak Tarno sopir Dewi tidak bisa menjemputnya, ban mobilnya pecah dan butuh waktu lama untuk membawa ban itu ke tukang tambal, karena tidak ada ban serepnya, akhirnya mereka harus naik bus.
Mata Nayra berkedut lagi, Nayra langsung mencari keberadaan si bayangan hitam tapi tidak menemukannya, yang ada hanya seorang Nenek mendekati mereka dan duduk di sebelah Dewi, dan Dia menyapa mereka berdua.
"Nak, kamu mau pulang, ya?"
"Iya Nek," jawab Dewi.
Nenek itu memandang kearah Nayra, "Mata kamu indah, kau akan terbiasa dengan apa yang kamu lihat, jangan takut, mereka butuh bantuanmu."
Nayra dan Dewi tidak paham mereka sampai saling memandang.
"Maksudnya apa, Nek? " tanya Dewi.
"Mata merah itu adalah pemberian langit."
[Mengapa dia tau dengan mata merahku? Sedangkan Dewi saja tidak tahu kalau mataku berwarna merah.]
"Tentu saja Nenek tahu," Nayra terenyak. "jangan takut, mata merah akan membantu melihat semuanya, bersabarlah."
Dewi bingung dengan ucapan nenek, Nayra juga terheran kenapa Nenek itu bisa mendengar isi hatinya, bagaimana dia tahu sedangkan Nayra sedang menggunakan softlens warna hitam. Lalu nenek itu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka berdua dengan penuh tanda tanya.
"Sepertinya dia sudah pikun!"
"Hah, mungkin kamu benar, Wi" Nayra mengernyit. Nayra sadar bahwa kehadiran Nenek tadi membuat matanya juga berkedut tapi Dewi bisa melihat si Nenek, sedangkan Joni tidak bisa melihat bayangan hitam. Lalu apa perbedaan si Nenek dengan bayangan hitam, atau ada hantu yang mengikuti si Nenek.
Nayra memikirkan ucapan si Nenek tentang matanya, mengapa dia tahu dengan mata ini.
"Om, bisakah periksakan mataku?"
"Ada apa?"
"Tidak seperti biasanya mataku ini seperti buram atau salah mengenali sesuatu."
"Coba sini Om lihat, kita buka dulu softlens nya, ya." Adam sangat berhati-hati sekali memperlakukan Nayra. "Bagaimana sekarang, apa ada perubahan saat dibuka softlens nya?"
"Om, tadi di halte ada seorang Nenek yang mengajak Nayra bicara, dia bilang mata merah itu pemberian langit, padahal Nayra masih pakai softlens."
Wajah Adam terheran, "Bagaimana bisa dia tau?"
"Entahlah Om, tapi Om__" Nayra juga menceritakan kedutan matanya ketika melihat nenek dan bayangan hitam.
Sudah dua hari semenjak pesta hajatan tetangganya selesai, Nayra merasa aman karena tidak harus lewat ke gang itu lagi, di mana bayangan hitam berada. Nayra bertemu Joni di halte bus ketika akan pergi les.
__ADS_1
"Ka Joni." Nayra berdiri di samping Joni yang sibuk dengan ponselnya. Tubuh Nayra mendadak bergidik seperti ada udara dingin yang berembus ke tubuhnya.
"Eh, Nayra. Bagaimana keadaanmu, masih sakit perutnya?"
Nayra bingung siapa yang sakit perut, kemudian Nayra teringat alasan terakhir bertemu yaitu sakit perut ketika menghindari si bayangan hitam.
"Alhamdulillah sudah mendingan."
"Syukur deh, kamu mau ke mana?"
"Nayra mau ke tempat les, Kakak sendirian saja, temannya Kakak pada ke mana?"
"Ck, Kata-kata kamu benar waktu itu, pulang dari rumah kosong temanku bergantian pada sakit dan kesurupan, kayanya penghuninya mengamuk, sudah empat orang yang sakit, Alhamdulillahnya aku kagak kena, memang malam itu kamu lihat apa?"
Nayra bingung menjelaskannya, apalagi sejak tadi Nayra merasakan udara yang tidak enak di samping Joni.
"Kagak lihat apa-apa sih, Ka. Ya namanya juga rumah kosong, kan." Bohong Nayra.
"Padahal kita sudah lama loh nongkrong di situ, sebelum tempat ini jadi komplek perumahan, tapi baru sekarang anak-anak ada yang kesambet."
"Kaka, tinggal di mana?"
"Di belakang komplek, Kakak AKAMSI."
"Apa AMKASI?"
"Ga tiap hari juga, tapi lebih sering pulang malam."
"Kamu sekolah di mana?"
"Hm, Nayra enggak sekolah, pertengahan tahun kemarin Nayra kecelakaan jadi masih pemulihan."
"Hah, serius kamu, tapi kita enggak dengar apa-apa, biasanya ada ribut hal kecil saja kita tahu beritanya."
"Ternyata laki-laki juga bergosip ya." Nayra tertawa geli.
"Ya, tembok kan punya kuping, Nay."
Hari ini Nayra pulang sore, dia melihat ambulans keluar dari gerbang kompleknya. Sekilas Nayra melihat Joni berboncengan motor dengan temannya, Nayra melanjutkan kembali langkahnya untuk pulang ke rumahnya.
Sepanjang melewati gang, ada ibu-ibu yang sedang membicarakan pasien yang berada di ambulans tadi. Sakit muntah darah.
Sesampainya di rumah Nayra bertemu Adam.
"Assalamualaikum," Nayra mencium punggung tangan Adam.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, kamu capek?"
"Tidak, Om." Nayra tersenyum dan duduk tak jauh dari Adam.
"Mulai ajaran baru nanti, kamu bisa sekolah bareng Dewi. Nilai kamu harus bagus biar bisa masuk sekolah Negeri, kamu kan lagi kejar ijazah SMP."
"Serius Om, Alhamdulillah akhirnya Nayra sekolah juga. Terima kasih ya, Om." Nayra memeluk lengan Adam.
"Sama-sama." Mengusap lembut rambut Nayra.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," ucap Adam dan Nayra bersamaan.
"Om, tahu enggak anak belakang komplek. Barusan di bawa ambulans gara-gara muntah darah padahal badannya tidak dalam keadaan sakit." Dewi duduk di samping Adam.
"Yang barusan, Wi?" tanya Nayra.
"Iya, dia Kakak kelas aku, katanya gara-gara dia nongkrong di rumah kosong gang sebelah makanya dia sama temannya pada sakit, kesurupan pula."
"Ah, masa sampai kaya gitu cuma karena nongkrong di rumah kosong?"
"Iya Om, Om mah kagak percaya yang berbau horor, sih."
"Percaya itu sama Allah saja Dewi."
"Tapi Om, jin itu ada loh, ada yang baik ada juga yang jahat."
"Sebenarnya Nayra melihat hantu yang tinggal di rumah itu kok Om, yang Nayra ceritakan ke Om waktu itu, tapi om bilangnya halusinasi."
"Kamu lihat apa, Nay?"
Karena Nayra khawatir Dewi takut, Nayra tidak menceritakannya. Adam hanya menasihati untuk tidak berurusan dengan dunia jin, karena itu menakutkan. Benar kata Adam, si hitam itu memang menakutkan.
"Oh iya, Nay, kamu kenal Joni?"
"Iya kenal."
"Pantas, dia nge-chat aku, dia banyak bertanya tentang kamu. Kenal di mana?"
"Kenal di rumah kosong waktu aku pulang les, dia ikutan nongkrong di rumah kosong itu."
"Kok, kamu lewat situ?"
"Kan kemarin ada pernikahan, aku malu kalau harus terobos saja."
__ADS_1
"Aku sih lewat saja, dari pada muter, jauh."