Netra Merah

Netra Merah
Sejarah 1998


__ADS_3

Datang bayangan transparan yang sudah Nayra lihat dua kali ini, dia menghampiri dan terdiam di dekat menantu Mira, sebenarnya bayangan itu sudah lama berkeliaran di dekat menantu Mira.


“Sudah ada yang datang,” ucap Nayra memejamkan mata.


“Maaf, semua harus mengikhlaskan,” ucap Nayra sambil mengembang air mata.


Nayra bangkit di bantu Adam, lalu keluar dari kamar itu. Tubuh pria itu mengejang, suara jeritan terdengar dari pihak keluarga. Dokter dan suster yang sejak tadi ikut berada dikamar pasien langsung memompa jantung pasien yang berhenti berdetak.


Entah apa lagi yang terjadi di dalam, lalu keluar seorang pria tersenyum kearah Nayra, dia menghampiri istrinya sambil menangis seraya membelai lembut wajah anak Mira yang sedang menangis terisak.


Nayra menghampiri anaknya Mira dan memegang tangannya, anak Mira memeluk tubuh Nayra dan pingsan di pelukan Nayra.


Hampir satu jam anak ibu Mira pingsan, pria itu kini menjadi tubuh tak bernyawa, kulitnya berubah pucat, wajahnya kembali seperti semula tidak menyeramkan lagi. Anak ibu Mira kembali sadar, dia bercerita kalau dia bermimpi bertemu suaminya.


Suasana berkabung terlihat di daerah lingkungan rumah Nayra, bendera kuning terpasang di tiang. Kursi sudah berjajar dan tenda mulai berdiri tegak di depan rumah Mira.


Nayra kembali pulang bersama Adam dua jam Kemudian dibarengi dengan datangnya keluarga Mira. Tamu berdatangan berbelasungkawa di pagi harinya, beberapa orang yang hadir membacakan surah Yasin.


Beberapa orang bercerita tentang kehidupan sehari-hari si almarhum, bahkan ada cerita yang kurang enak di dengar Nayra, cerita itu bisa menimbulkan kesalahpahaman.


Nayra yang saat itu duduk diluar bersama Dewi juga Dewa merasa tidak senang dengan pembicaraan orang yang duduk tidak jauh dari mereka.


Terlihat Joni dan teman-temannya membantu di rumah duka, Sore hari sebelum Maghrib mayat  segera dikebumikan.


Suara Isak tangis mengiringi mayat masuk ke liang lahat, sedikit demi sedikit tanah menutupi, hingga bunga warna-warni bertaburan di atas makam.


Nayra mengusap lembut punggung anaknya Mira, “yang ikhlas ya ka, suami Kaka sudah tidak sakit lagi, jangan terpuruk terlalu lama, kasihan suami Kaka” wanita itu mengangguk dan memeluk Nayra.


Sekilas Nayra melihat wajah yang tidak asing di hadapannya, seorang wanita sedang di pelukan wanita lain tepat di depan makam menantu Mira.


Mereka kemudian pergi menjauhi makam, Nayra pamit yang di ikuti Dewi dan Dewa.


“Lucu tadi membicarakan hal yang buruk, sekarang malah menangis,” ucap Dewi membuat Nayra melihat ke arahnya. Dewi yang sadar sedang diperhatikan Nayra kembali bicara.

__ADS_1


“Itu mereka yang tadi duduk dekat kita sambil membicarakan hal buruk menantunya ibu Mira, Nay.”


Nayra melangkah cepat menghampiri tiga wanita tadi, kini Nayra berdiri di hadapan mereka.


“Kenapa ya dek?” ucap salah satu dari mereka.


Nayra sangat memperhatikan wajah wanita yang berada di depannya, dia serasa tidak asing bagi Nayra. Seketika Nayra ingat kepala ular itu mirip wajah wanita tersebut.


Nayra tersenyum mengejek, “Wanita ular.”


“Eh, anak kecil mulutnya!”


“Aku sedang bicara dengannya.” Nayra menunjuk wanita yang ada di tengah.


“Tidak sopan tau,” ucap temannya membela.


“kamu pikir tidak ada yang tahu?”


“Jangan pernah mengaku kekasih almarhum lagi pada siapa pun, jangan bicara buruk lagi tentang almarhum, bau-mu sangat busuk, hidup kamu tidak akan tenang sampai mati, ular itu akan terus melilit bersama dosamu, bertobatlah dan segera minta maaf," ucap Nayra dengan nada sedikit meninggi dan wanita itu menutup kedua wajahnya. “Kau datang ke tempat yang salah kak, kalau aku mencoba untuk putar giling ular itu bagaimana?” Si wanita menangis hingga berjongkok. “Aku pamit kak, semoga Kaka sadar.”


Nayra pergi meninggalkan pemakaman, Dewa dan Dewi mengikuti.


“Dia siapa, Nay?” tanya Dewi.


“Orang yang bergosip soal almarhum, kan?” Nayra sengaja tidak menceritakan siapa wanita itu. Karena cukup dia saja yang tahu siapa wanita tersebut.


Di kejauhan Adam sudah berada di dalam mobil menunggu Nayra dan kedua ponakannya, Nayra menoleh sebentar ke arah pemakaman Kemudian masuk ke dalam mobil mereka kembali ke rumah.


Dewa mengajak Dewi dan Nayra berlibur ke pantai Anyer, saat itu ombak terlalu tinggi membuat Nayra enggan bermain air. Sedangkan Dewi dengan serunya berjalan di sepanjang bibir pantai.


“Ayo, susul Dewi!” Dewa menarik tangan Nayra dan berjalan sambil berfoto.


Banyak pengunjung datang dengan keluarga dan bahkan pasangan mereka.

__ADS_1


Nayra tertawa geli ketika Dewa mengusili Dewi.


Tubuh Nayra merasa tidak nyaman ketika ombak menyentuh kakinya, Nayra berkali-kali melihat kearah pantai.


Alarm pengingat dari matanya mulai bekerja Nayra berkeliling melihat sekitar, benar saja ada sosok cantik sedang duduk di tempat Nayra duduk tadi, dia sedang memandang kearah laut.


Nayra mendekati wanita itu, karena barang miliknya tepat berada di tempat yang dia duduki, Saat Dewa hendak duduk, Nayra menarik perlahan tangan Dewa.


“Kenapa?”


“Celana Kaka kotor.” Sambil menunjuk kearah celana Dewa, Wanita itu tetap diam saja di sana, melamun kearah laut dengan wajah yang sangat pucat.


“Balik yuk!” ajak Dewi.


“Tapi kita mampir dulu di Karawaci bentar ya, Kaka ada janji sama teman, sekalian kita makan di sana.” Nayra dan Dewi mengangguk setuju.


Hampir dua jam mereka melaju membelah jalan dengan memandang langit sore. Dewa sudah menghubungi temannya janji KOPDAR di dalam mall. Mata Nayra berkedut saat mobil masuk ke area parkir yang berhadapan dengan sebuah universitas yang memiliki logo seekor burung.


Kaki mereka melangkah masuk ke dalam mall, Nayra sudah bersiap ketika nanti dia akan bertemu sesuatu. Tidak disangka sepanjang mata memandang Nayra melihat mereka ada di mana-mana. Semua terlihat hitam dan berbau matang. Nayra sampai merasa kepalanya berputar karena tak tahan dengan baunya.


“Kaka kalo bisa jangan lama-lama ya di sini.” Memandang Dewa dengan wajah seperti ingin menangis. Dewa tersenyum menanggapinya. Tidak beberapa lama teman yang dimaksud Dewa datang lalu mereka duduk bersama di area foodcourt yang bersebelahan dengan Timezone. Nayra terus makan dengan wajah tertunduk.


“Adik lu, yang ini pemalu ya?”


Nayra menoleh kearah teman Dewa, dia bernama Deden.


“Bukan pemalu dia Ka, tapi ada yang dilihat.” Ucap Dewi berbisik.


“Aish Dewi,” ucap Nayra sedikit kesal, dia khawatir makhluk yang terbakar itu menoleh ke arahnya, bisa runyam urusannya.


“Dia indigo, apa yang dia lihat?”


“Astaghfirullah!” Nayra sedikit emosi dan apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi, tidak jauh dari mereka tubuh hangus yang terbakar hampir 24 tahun itu menoleh kearah tempat duduk mereka, “Sial” ucap Nayra lagi.

__ADS_1


__ADS_2