
Sudah satu bulan Nayra tinggal di yayasan dan belum juga ada pihak yang mencarinya. Tanpa ragu Adam Cayapata membawa pengacara dan meminta bantuan pihak komisi perlindungan anak untuk mengadopsi Nayra, tentu saja Nayra tidak menolak kebaikan Adam padanya, kini Nayra memiliki nama di belakang namanya. Nayra Fusena Cayapata, yang memiliki arti gugusan bintang yang bercahaya.
Dua bulan pasca kecelakaan.
Nayra mendapatkan beberapa jadwal pengobatan, dikhawatirkan ada efek pasca kecelakaan. Hari ini jadwal Nayra kontrol ke rumah sakit, mata kanannya di tutup menggunakan eye patch untuk menutupi matanya yang berwarna merah.
Di rumah sakit matanya berkedut untuk yang pertama kali, pandangannya teralihkan kepada wanita yang terlihat pucat, Nayra mempersilahkannya duduk di kursinya. Nayra memilih berdiri tepat di wanita pucat itu, Nayra asyik memainkan game pada ponsel baru pemberian Adam.
Seorang laki-laki sebayanya menyenggol pundaknya tanpa minta maaf lalu duduk di kursi miliknya tadi.
[eh, ke mana ibu tadi], Nayra hanya melirik anak lelaki itu lalu pergi dari sana.
Nayra berjalan ke arah poli mata yang berada di lantai dua setelah mendaftarkan diri barusan, Nayra duduk kembali tepat di ruang tunggu poli mata sebelum namanya di panggil, pasien mata cukup banyak karena melihat kursi di bagian tunggu cukup penuh terisi.
Mata Nayra kembali berkedut diiringi leher belakang yang terasa dingin, terasa ada yang menyentuh bahunya, Nayra melirik dengan ekor matanya terlihat tangan kusam menyentuh bahunya.
Jantung Nayra berdegup kencang karena pikirannya berpikir yang bukan-bukan, Nayra mengikuti setiap inci tangan tersebut, kepalanya sampai mendongak ke atas dan ternyata wanita pucat tadi yang berdiri tepat di belakangnya dengan mata yang menakutkan.
Nayra bangkit dari duduknya karena terkejut, di barengi seorang suster yang memanggil namanya, dengan segera Nayra masuk ke dalam ruangan tanpa menoleh lagi ke belakang.
__ADS_1
Saat ini Nayra bersama Adam, dialah Dokter mata serta orang berhati malaikat yang mengadopsinya. Adam sedang memeriksa mata Nayra membandingkan yang kanan dengan yang kiri.
"Bulan depan kita akan berangkat ke Singapura, kita ada janji dengan Dokter mata di sana," ucap Adam. Nayra mengangguk mengerti. "Sekarang apa yang kamu rasakan, Apa ada keanehan pada matamu?"
"Tadi, mata Nayra sudah berkedut dua kali, Om."
Adam mengerutkan alisnya karena tidak ada kejanggalan lain pada mata Nayra, mata itu masih sama seperti dilihatnya waktu pertama kalinya, bahkan penglihatan Nayra masih normal.
Saat Nayra keluar dari ruangan, wanita pucat tadi masih berdiri di tempat yang sama, sekarang kursi itu diduduki anak laki-laki yang tadi menyenggol Nayra.
Laki-laki itu memandang Nayra dengan tatapan yang dingin, Nayra memutar bola matanya menghindari kontak langsung dengan anak lelaki yang tidak sopan itu dan pergi meninggalkan rumah sakit.
Nayra melihat jam pada ponselnya, sekarang sudah jam 21.30 tapi kenapa Adam belum juga kembali, pandangannya beralih ketika terdengar suara ketukan di pintu.
Nayra heran kenapa itu suara ketukan, seharusnya bunyi bel yang terpasang di pagar, berarti orang itu sudah masuk ke dalam pekarangannya. Seumpama itu Adam kenapa dia mengetuk pintu, dia bisa saja langsung masuk.
Ketukan kedua kini terdengar lagi dari balik pintu, membuat Nayra bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati pintu. Kini matanya berkedut sangat cepat, Nayra tidak berani membuka pintunya bahkan membuka suara hanya untuk bertanya 'siapa?' Karena orang di luar sana tidak memberi salam ketika mengetuk pintu.
Nayra berdiri di balik pintu menahan napasnya, dia terperanjat mendengar ketukan yang ketiga karena begitu terasa di telinganya yang sensitif akan suara, lagi pula ada suara lain di sana.
__ADS_1
Nayra menempelkan telinganya ke pintu, dia mendengar suara napas yang tersengal-sengal, dia semakin heran kenapa bisa mendengar napas seseorang di balik pintu yang begitu tebal.
Tubuhnya gemetar dan bulu kuduk merinding, serasa ada yang meniup ke arahnya, ketukan pintu berubah menjadi suara bel yang terpasang di pagar rumahnya. Dengan langkah yang berat Nayra mengintip dari jendela tepat di samping pintu, anehnya tidak ada siapa pun di sana. Suara bel kedua berbunyi lagi, tapi tak terlihat siapa yang menekan bel dari pagar rumahnya, Mata Nayra yang berkedut masih mengintip dari jendela, menyelusuri bagian luar pagar.
Jantung Nayra terasa berhenti berdetak, ketika melihat sosok wanita berdiri di luar pagar sedang tersenyum padanya dengan kepala yang miring ke kiri, wajahnya pucat matanya besar ada kantung mata yang hitam di sana. Nayra langsung menutup jendela dengan rapat dan mengecek ulang pintu memastikan sudah terkunci kemudian berlari ke kamarnya sambil membawa kucingnya.
Nayra menutup pintu kamarnya kemudian melompat ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut sambil memeluk Zeki. Nayra mencoba menghubungi Adam, namun tidak di angkat, tubuhnya gemetar dan masih berdegup kencang ketika dia bersembunyi di balik selimut, Zeki justru meronta berusaha keluar dari selimut.
Terdengar suara decitan pintu kamarnya, mata Nayra melebar kemudian menahan napas. Zeki yang melompat keluar dari selimut justru menambah rasa ketakutan pada Nayra. Selimut yang menutupi tubuhnya sedikit demi sedikit merosot ke kakinya seakan ada yang sedang menariknya.
Nayra berucap di hati, semoga Allah menjaganya dari hal yang menakutkan. Selimut Nayra berhenti di pinggangnya menjadikan selimut itu terbuka setengah badan, terasa sedang ada yang menekan ranjangnya. Tubuh Nayra diguncang pelan dan terdengar samar-samar suara menyebut namanya.
"Nayra, kamu sudah tidur?"
Mata Nayra terbuka lebar karena mengenali suara Adam, dan ternyata benar Nayra bangkit duduk dan memeluk Adam, Nayra menangis keras dan menceritakan hal yang barusan Nayra rasakan.
Adam begitu khawatir dengan keadaan Nayra, Adam membawa Nayra untuk tinggal sementara di rumah kakaknya yang bernama Karin, dia memiliki putri bernama Dewi yang seumuran dengan Nayra dan seorang putra bernama Dewa tiga tahun lebih tua dari Dewi.
Satu Minggu berlalu setelah kejadian malam itu, berita tersebar dengan teror ketuk pintu ramai di bicarakan di kompleks kediaman Adam, ternyata bukan hanya Nayra yang menjadi korbannya, sebagian rumah juga mengalami hal yang sama.
__ADS_1
Meski tidak percaya namun Nayra mengalaminya sendiri, Adam jadi khawatir dengan keadaan Nayra yang selalu di tinggal sendirian. Adam menyegerakan membeli rumah tepat di samping rumah Karin yang saat itu memang sedang dijual dan sudah lama Adam mengincarnya.