Netra Merah

Netra Merah
Dewa part 2


__ADS_3

"Maaf Ka, Nayra tidak bisa menjelaskannya lewat telepon."


"Baiklah, Kaka akan datang dengan Laura, nanti kamu chat saja dimana Dewa dirawat."


"Baik Ka, terima kasih."


Suara batuk terdengar lagi dari Dewa di dalam, Nayra langsung masuk dan memegang tangan Dewa. Batuk Dewa mulai berkurang hanya saja napasnya jadi tersengal-sengal.


"Ka Dewa," ucap Nayra pelan dengan wajah penuh ke khawatiran.


Mata Dewa mencari-cari seseorang "Mam!" Dewa memanggil Kinan, Kinan langsung mendekat ke arah Dewa, dia mengusap kepala anak sulungnya, Adam keluar untuk memanggil dokter.


"Mami di sini sayang, apa yang kamu rasa sekarang ?"


"Sesak mam, napas Dewa sakit."


Dokter masuk beserta perawat dan Adam, dokter langsung memeriksa Dewa dan menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan Adam menandatangani berkas-berkas untuk menyetujui pemeriksaan lebih lanjut tersebut.


Dewa mulai di Rontgen, USG dan pemeriksaan lainnya, membutuhkan waktu hampir tiga jam, akhirnya Deden datang beserta Laura. Jantung Nayra berdetak ketika melihat Laura dan Deden mendekat. "Bukan dia!" ucap Nayra dalam hati.


"Bagaimana Dewa?" tanya Deden pada Nayra. Nayra terdiam karena sedang mencari tahu sesuatu, Nayra menceritakan semua keadaan Dewa pada Laura dan Deden, Laura terisak di pelukan Deden. Dia merasa canggung di depan Nayra yang kemudian melepaskan pelukan Laura dan menarik Nayra untuk menjauh.


"Siapa pelakunya?" tanya Deden


"Aku melihat bayangan Ka Laura pada Ka Dewa."


"Apa ini berhubungan dengan ilmu hitam?" tanya Deden berbisik di dekat Nayra dan Nayra mengangguk. "Apa ada hubungannya dengan Laura?" Nayra menggeleng.


"Lalu, kenapa kamu menyuruh Kaka kemari membawanya."


"Maaf Ka, sebelumnya Nayra melihat ada Ka Laura, tapi sekarang tidak."


"Maksudmu, Laura terlibat?"

__ADS_1


"Nayra belum bisa memastikan, Nayra takut salah, maaf Ka, Nayra tidak bermaksud untuk menuduh Ka Laura."


Deden mengusap wajahnya kesal, "Kenapa orang terdekat gue harus mengalami ini, kemarin Arga kenapa sekarang Dewa."


Nayra melihat wajah Deden yang terlihat muram, "Nayra tidak akan diam, Nayra tidak mau kehilangan Ka Dewa." Air mata keluar dari sudut matanya. Deden mengusap air mata Nayra dan mengusap kepalanya.


"Kaka juga tidak mau kehilangan sahabat lagi Nay, semoga Allah segera mengangkat penyakit Dewa."


Hasil medis keluar, Adam mengambilnya ke lab, hasil tes medis tidak menunjukkan adanya penyakit di tubuh Dewa.


Malam semakin larut, tiba-tiba suara dentuman terdengar, hanya Nayra yang mendengarnya. Nayra melangkah mendekati Adam yang terbaring.


"Ada apa Nay?" tanya Kinan yang duduk di dekat ranjang Dewa.


"Ada yang datang," ucap Nayra sedikit berat.


Kinan bangkit dan melangkah mundur mendekati Adam yang terpejam di sofa. Kinan kebingungan melihat wajah Nayra yang terlihat berbeda, wajah Nayra terlihat geram.


"Dam, Adam." Kinan sedikit mengguncang tubuh Adam.


Nayra bersikap aneh, wajahnya penuh amarah, lalu Nayra memegang ujung kepala Adam dengan ibu jari berada di kening. Dewa membuka mata dengan tatapan bengis, dan sedikit memerah seperti sedang terkena iritasi dan Dewa mulai terkekeh.


Dewi, Laura dan Deden yang terlelap menjadi terbangun karena terkejut dengan tawa. "Ilmumu memudar kahin?" Dewa berbicara dengan menatap Nayra.


[Kahin?] ucap Nayra dalam hatinya.


Dewa tertawa terbahak-bahak, "Kau menjadi tumpul kahin." Lalu Dewa tertawa kembali.


"Apa kau mengenalku?" tanya Nayra dengan suara yang dibarengi gesekan bambu.


"Senang rasanya kau jadi selemah ini." Dewa menundukkan kepala lalu mengangkat kepalanya kembali, membuka mulutnya dengan lebar dan mengeluarkan udara yang sangat bau.


Dewa mulai terbatuk-batuk sampai Dewa merasa mual dan muntah. Dewa melepaskan tangan Nayra yang berada di keningnya, Dewa mengeluarkan cairan merah kehitaman beserta beberapa belatung ke lantai.

__ADS_1


Kinan menjerit histeris melihat Dewa, dan Dewi terkulai lemas lalu ditangkap Deden. Nayra mengusap-usap punggung Dewa dan merasakan aura panas keluar dari tubuh Dewa.


Nayra mencoba menangkap aura panas ditubuh Dewa kemudian menekan punggung Dewa lalu ditarik dari bawah ke atas dan berhenti di leher belakang Dewa, kemudian Dewa memuntahkan kembali cairan berbau busuk ke lantai.


Suara gaduh dikamar Dewa membuat perawat datang dan ikut panik.


Kinan terus terisak di pelukan Adam. Nayra menekan leher belakang Dewa, yang tiba-tiba muncul gundukan seperti bisul, Nayra mencungkilnya dengan kuku lalu keluar asap berbentuk sayap dengan potongan pecahan tajam seperti silet yang terpecah. Dewa mengerang kesakitan. Nayra menitikkan air mata karena tidak sanggup melihat dewa yang kesakitan.


"Kahin, ternyata kemampuan kamu masih ada." Suara berat keluar dari mulut Dewa.


Nayra murka, dia menarik punggung Dewa dan memasukkan kedua jarinya ke dalam mulut Dewa, keluar mantra dari mulut Nayra yang entah apa artinya, hanya suara seperti gigi yang beradu dengan kedua bola mata yang memerah.


"Enyah kau darinya!" ucap Nayra dengan mata terbuka lebar. Tangan Nayra terus menekan kerongkongan Dewa hingga Dewa mual.


"Oek oek!" Perut Dewa bergelombang naik turun lalu Dewa memuntahkan banyak helaian rambut. Suara mengerang kembali terdengar, namun kali ini terdengar dari Laura yang sejak tadi ketakutan seraya duduk di samping Dewi yang tidak sadarkan diri.


Laura tertawa terbahak-bahak masih dengan suara berat.


"Kau masih hebat saja kahin, kita akan berjumpa lagi." Lalu dia tertawa lagi dengan suara berat yang dengan perlahan hilang.


Mata Nayra berubah normal, dan Laura pun kebingungan, pasalnya dia sadar dan merasakan dirinya seperti dikuasai seseorang. Napas Dewa kembali normal raut wajah Dewa juga terlihat segar tidak pucat seperti tadi. Kinan memeluk tubuh Dewa dan menangis di pelukan anak sulungnya.


"Dia sudah pergi?" ucap Nayra dalam hatinya, lalu memastikannya sekali lagi.


Suara derap langkah kaki berlari terdengar di telinga Nayra. "Om Daru!" Ucap Nayra pelan namun didengar oleh Adam, Kinan dan Dewa.


"Assalamualaikum," suara berat seorang pria muncul ketika masuk ke dalam ruangan. Ternyata benar dia Daru suami Kinan. Daru mempercepat langkahnya mendekati Dewa dan memeluk anaknya.


Nayra keluar kamar, dia hendak ke mini market dan mencari kain atau underpad untuk membersihkan muntahan Dewa. Nayra mengambil satu pak underpad dan menaruhnya ke dalam keranjang, Nayra menundukkan kepalanya, Nayra mulai menitikkan air mata, dia senang juga takut ketika melihat Dewa tadi, dirinya benar-benar merasa takut kehilangan Dewa.


Tanpa Nayra sadari Deden berada di belakangnya, dia menarik pelan punggung Nayra, Nayra menoleh ke arah Deden dan langsung menangis di pelukan Deden.


"Aku takut, Ka. Kenapa kejadian ka Arga harus menimpa ka Dewa juga.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, semua sudah baik-baik saja, Nayra."


__ADS_2