Netra Merah

Netra Merah
Kamaitachi


__ADS_3

Datanglah seorang biksu, dia bertarung dengan roh jahat itu dengan sekuat tenaga, akhirnya roh jahat tersebut dikurung ke dalam sebuah cermin. Cermin tersebut dimasukkan ke dalam sebuah peti dan dikubur di bawah pohon sakura.


Biksu menaruh kekhawatiran, siapa yang akan menjaga dan mengurungnya kembali jika cermin itu pecah selain penerusnya. Karena selama dia dan keturunannya ada maka roh jahat hanya akan terus terkurung di dalam cermin meski pecah sekalipun. Pada akhirnya dia berhenti menjadi biksu dan menikah.


Tahun terus berganti, jaman sudah berubah cermin tersebut akhirnya terlupakan, para arkeolog berhasil menemukan cermin tersebut ternyata cermin itu sudah berpetualang ke seluruh dunia, hingga Dewa Tengu merasakan kehadiran roh jahat tersebut berada di Indonesia yang ternyata cermin tersebut retak karena benturan.


Pak Urabe adalah seorang cenayang yang merupakan keturunan seorang biksu yang mengurung roh jahat tersebut. Urabe memiliki dewa tengu sebagai pelindungnya yang kemudian berpindah kepada Nayra entah dengan alasan yang tidak diketahui.


"Pak Urabe berharap, Nayra mau membantunya memindahkan roh tersebut ke dalam cermin yang baru."


"Bagaimana caranya?"


"Pak Urabe sudah menemukan cermin itu setahun yang lalu dari sebuah rumah seorang kolektor barang antik," Tatsuo mengeluarkan cermin tersebut dari sebuah kotak.


Pak Urabe menunjuk luka pada tangan Nayra. "Apa itu luka dari kamaitachi?" tanya Tatsuo.


Nayra menganggukkan kepala.


"Kamu harus menyimpan cermin ini, karena kamu akan mudah menangkapnya meski tidak ada kami."


Tatsuo memberikan cermin yang lain yang ukurannya lebih kecil dari cermin yang sudah pecah dengan ukiran yang sangat cantik pada bingkainya.


"Hati-hati dengan cermin," Pesan pak Urabe.


"Kamu jangan bertindak sendirian Nayra, Kaka khawatir mereka lebih kuat darimu," ucap Dewa. ketika mereka berdua berada di dalam mobil menuju rumah.


Keesokan harinya, saat Nayra berjalan sendirian di koridor sekolah matanya berkedut, Nayra merasa dirinya sedang di ikuti. Sosok bayangan terpantul di kaca jendela kelas dengan membawa sabit, suara gesekan terdengar oleh Nayra yang dengan refleks dirinya menghindari bayangan tersebut.

__ADS_1


Lengan baju Nayra sobek, bayangan hitam itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan sabit yang ujungnya terlihat runcing, lalu mengayun mendekat Nayra, dengan cepat Nayra berlari sampai terengah-engah, semua orang hanya memperhatikannya.


"Pasti mereka menganggap aku gila," suaranya keluar dengan pelan dari mulutnya. "Bagaimana ini, aku tidak bisa terus menerus menghindari jalan tanpa cermin." Nayra sadar akan perkataan terakhir pak Urabe. "Hati-hati dengan cermin."


"Segera pindahkan dia pada cermin yang baru," suara bisikan terdengar ditelinga Nayra, Nayra menengok kanan kiri namun tidak ada orang lain di dekatnya.


Nayra tidak dapat menghindari kaca jendela karena bayangan hitam itu terus memburunya, Nayra menjerit dan berlarian seperti orang gila menghindari cermin, sampai dirinya ditangkap seorang guru.


"Kenapa kamu terus berlarian!"


Nayra dalam keadaan ketakutan, air matanya mengalir di pipi. "Ada roh jahat ingin membunuhku." Nayra memberontak hendak berlari. Tapi, pegangan tangan pak guru sangat kuat hingga Nayra tak bisa lepas.


Dewi yang mendapatkan berita dari siswa lain jadi khawatir dengan Nayra dan segera mencarinya, Dewi menemukan Nayra sedang dipegang kuat oleh pak guru. "Nay ada apa, apa yang terjadi?"


"Roh jahat ingin membunuhku." Nayra masih terus memberontak untuk melarikan diri. Tapi, justru guru lain ikut memegangi tangannya. "Lepaskan!" teriak Nayra melihat ke wajah guru yang memegang tangannya.


"Lepas Pak, biarkan dia," ucap Dewi memohon.


Nayra jadi pusat tontonan semua murid di sekolah, mata Nayra berkedut lagi dan Nayra berteriak dengan keras dan menghentakkan tubuhnya hingga dapat terlepas dari pegangan pak guru.


Sayatan menggores tubuh Nayra hingga berdarah, sehingga para siswa berteriak ngeri. Nayra membeku tak dapat bergerak, kepalanya tertunduk dengan posisi tubuh tetap berdiri.


"Nay, tanganmu tersayat apa tidak sakit?" tanya Dewi berdiri di dekat Nayra.


"Cermin, ambilkan cermin," ucap Nayra dengan suara pelan dan bergetar.


"Cermin apa? Dimana?" tanya Dewi. Nayra tetap diam membeku.

__ADS_1


"Kenapa dengannya?" tanya guru yang tadi memegang Nayra.


Dewi menggelengkan kepala, setiap kali orang menyentuh dirinya maka tubuh Nayra tergores tanpa terlihat siapa yang menyayat tubuhnya.


Dewi berlari menuju kelas, dia hendak mencari sesuatu yang dimaksud Nayra. Tubuh Dewi menyenggol Rio yang baru saja datang hendak melihat apa yang terjadi. Dewi menghiraukan Rio dan melanjutkan langkahnya menuju kelas.


"Nayra, kamu kenapa?" tanya Rio terheran. Rio hendak menyentuh Nayra.


"Jangan!" teriak guru menahan Rio. "Dia akan terluka jika kau menyentuhnya."


Di tempat lain Dewi menemukan dua buah cermin di dalam tas Nayra. "Apa ini yang dia maksud?" Dewi mengambilnya dan kembali berlari ke tempat Nayra. "Apa ini, Nay?" Dewi menyodorkan sebuah cermin ke arah Nayra dan dia mengambilnya dengan wajah yang masih tertunduk.


Nayra meletakkan cermin pecah di lantai sedangkan yang satunya dia pegang dengan satu tangannya. Cermin yang berada dilantai bergerak pelan seperti ada yang menggoyangkannya membuat semua orang yang menyaksikan mundur menjauh.


Sedangkan roh Nayra berada di dunia cermin, dengan sosok tubuh yang bersinar, tubuhnya besar dengan hidungnya yang panjang seperti Petruk. Nayra juga berhadapan dengan sosok lainnya dengan jubah hitam yang memegang sabit mirip malaikat pencabut nyawa yang pernah Nayra tonton.


Dia mengayunkan sabitnya kearah Nayra, Nayra tidak dapat menghindari sabit, sabit itu menggores pakaian Nayra hingga tembus ke kulit dan mengalir darah segar akibat sayatannya. Sayatan itu berdampak kepada tubuh Nayra di luar cermin. Semuanya menjerit bahkan Dewi menangis dan memanggil Nayra.


Tak ada yang menyentuh Nayra hanya terdengar suara sayatan. Yang membuat lengan, kaki, leher bahkan pipinya tergores.


Di dunia cermin, Nayra memegangi cermin menghadap kedua makhluk yang sedang bertarung. Makhluk berhidung panjang menggunakan dua samurai di tangannya sedangkan satunya menggunakan sabit. Gelombang benturan senjata keduanya meluncur ke tubuh Nayra dan menyebabkan sayatan. Suara benturan senjata juga terdengar hingga di luar dunia cermin.


Setelah beberapa menit pertempuran terdengar suara mantra-mantra dengan bahasa asing di telinga Nayra serta suara ketukan kayu. Suara mantra itu membuat pria bersabit meraung seperti binatang buas yang kesakitan.


Seberkas cahaya keluar dari cermin yang Nayra pegang, cahaya nya membuat makhluk sabit melemah dan makhluk berhidung panjang mampu membuatnya tersungkur.


Makhluk dengan sabit berteriak lirih dan tersedot ke dalam cermin yang Nayra pegang. Cermin tersebut mendadak berat hingga Nayra tak mampu memegangnya meski dengan kedua tangan.

__ADS_1


Sosok tangan muncul ikut memegang cermin dia Dewa Tengu, Nayra mulai menyadari makhluk dihadapannya adalah sosok yang datang saat pagi di mana gelas yang dia pegang jatuh dan saat Nayra terbangun akibat mimpi.


__ADS_2