
Waktu besuk sudah hampir selesai, mereka cukup lama bercengkerama dengan Dina. Mereka pun segera pamit pulang, mereka berjalan melewati ruangan UGD, Nayra yang berjalan di depan mendadak berhenti memegang tangan Dewi, Nayra terperanjat karena mendengar dentuman keras dari pagar besi rumah sakit.
Nayra juga sempat memegang matanya, teman-temannya yang berjalan di dekat Nayra ikut berhenti ketika melihat tubuh Nayra yang terenyak itu. Nayra menoleh kearah pagar dan terenyak untuk kedua kalinya.
"Kenapa sih berhenti?" Gumam salah satu teman Nayra sedikit ketus.
"Ada mayat mau masuk," jawab Nayra.
"Ih, ngaco," gumamnya lagi, dan berapa detik kemudian terdengar suara sirene mobil masuk ke dalam area UGD dan membawa keluar seorang pria dengan tubuh penuh darah.
Semua temannya memandang Nayra seakan tidak percaya. Nayra menarik kembali Dewi untuk melangkah. Temannya yang lain pun kini mengekori Nayra yang terus berjalan menuju parkiran sambil berbisik-bisik dan bergidik.
Disekolah Nayra juga merasa kalau teman-temannya menjauhi dirinya, memandang dengan rasa tidak suka kepada Nayra. Meski Nayra berkata baik-baik saja akan tetapi hatinya terasa nyeri, Nayra sudah mengetahui apa yang terjadi pada hari ini ketika Adam mendaftarkan Nayra bersekolah.
Saat di rumah, Nayra duduk bersantai di belakang rumah ditemani Dewi yang sedang asyik membaca.
"Wi, kamu tidak risi duduk sebangku sama aku?"
"Memang kenapa?"
"Karena aku, kamu di cuekin sama yang lain."
"Aku tidak peduli, Nay. Sejak di SMP aku sudah sering di cuekin orang. Kata mami karena mereka iri dengan kelebihan yang aku miliki. Dan sekarang mereka iri dengan kelebihan yang kamu miliki.
Suatu hari kelebihan kamu ini bakal menguntungkan buat mereka."
Nayra tersenyum dengan sudut bibir yang terangkat, "Mana ada kelebihan, Wi. Yang ada malah kesialan bisa melihat hantu."
"Loh, kalau kamu tidak berinteraksi sama neneknya Ka Rio_"
"Nenek Anita."
"Ya itulah dia, pasti makin banyak siswi yang kesurupan disekolah kita."
"Dia bukan neneknya Ka Rio, mantan pacarnya kakeknya Ka Rio."
__ADS_1
"Ah, sama saja."
"Kalau suatu hari Kamu lelah berteman sama aku, tidak apa-apa kok kalau kamu menjauh, Wi. Dan aku tidak akan menyalakan kamu nantinya."
"Aku harap itu tidak akan terjadi, Nay, aku itu sayang sama kamu."
"Duile sayang," ledek Nayra.
"Berisik!" Dewi melempar bantal ke arah Nayra, mereka tertawa bersama.
"Tapi Wi, aku sungguh tidak akan menyalahkan kamu, jika hal itu terjadi."
"Iya!" ujar Dewi dengan mata yang melotot.
"Hey, adik-adik manis." Dewa yang baru saja datang langsung mencubit pipi Dewi dan Nayra. Dewi langsung memukul Dewa dengan bantal.
"Sakit tahu!" Dewa hanya mengulang perkataan Dewi dengan Suara manjanya.
"Nay, Deden kirim salam buat kamu." Nayra hanya tersenyum menanggapinya.
Nayra sudah menangkap keberadaan sosok yang kini sedang memandang ke arahnya, Seakan dia sedang menunggu kehadiran Nayra. Dia seorang wanita yang Nayra antar ke sini beberapa bulan lalu.
Wanita itu sempat menyentuh tangan Nayra ketika lewat di depannya. Namun, Nayra terus berlalu meninggalkan wanita itu di sana. Adam memeriksa mata Nayra, tidak ada yang berubah pada matanya kecuali softlens yang tidak terpasang di matanya, Adam menjadi bingung harus bagaimana menyembunyikan mata Nayra dari orang lain.
Saat Nayra keluar sendiri dari ruangan Adam, wanita itu berdiri di sana dengan tatapan memelas, Nayra terus melangkahkan kakinya melewati wanita yang sejak tadi menunggunya.
Nayra menunggu di depan pintu lift, mata Nayra berkedut sekali di barengi dengan pintu lift yang terbuka, Nayra memutar bola matanya ternyata di dalam sana sudah ada seorang pria dengan luka di kepalanya. Dia sedang menghembuskan udara kepada manusia di dekatnya.
Nayra masuk ke dalam lift bersama seorang wanita yang sejak tadi mengikutinya, entah apa yang dibicarakan kedua setan di dekatnya itu, mereka seperti membicarakan Nayra menggunakan telepati.
Kemudian pria hantu itu menghembuskan napas yang bau ke arah Nayra, yang membuat Nayra merasa mual dan akan mengeluarkan isi perutnya.
"Oek" suara terdengar dari mulut Nayra, saat pintu lift terbuka Nayra langsung berlari keluar mencari toilet dan memuntahkan isi perutnya ke dalam kloset.
"Apa yang kalian perbuat!" bentak Nayra kepada kedua hantu yang mengikutinya sampai ke toilet. Beberapa orang yang berada di toilet melihat ke arah Nayra. Dia segera keluar setelah menyeka mulutnya.
__ADS_1
"Jangan ikuti aku, aku tidak bisa membantu kalian," ucap Nayra pelan dengan langkah cepat meninggalkan rumah sakit.
Nayra merapikan meja belajarnya, memasukkan buku-buku yang dia baca, sejak tadi matanya sesekali berkedut menandakan ada yang lain di dekatnya, wanita itu berada di sini di dekat Nayra.
Nayra duduk di ranjangnya, dan wanita itu ikut duduk di samping Nayra dengan aroma busuk yang keluar dari mulutnya, seperti bangkai tikus yang sudah berhari-hari.
Wanita itu menyentuh tangan Nayra membuat rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh, saat wanita itu menyentuhnya seakan membawa Nayra ke tempat lain, dia melihat air yang banyak seperti kolam renang tapi tunggu ini sebuah danau atau semacamnya.
Terlihat seorang punggung laki-laki menyeret tas ukuran besar dan menenggelamkan tas itu ke dalam air, tak lama kemudian seorang wanita ikut masuk ke dalam air dan mencoba mencari tas itu seraya menangis.
Namun, pria itu malah menyeretnya ke permukaan. Suara berdengung memekakkan telinga Nayra hingga terasa sakit, Nayra menutup kedua telinganya dan kembali ke dalam kamar.
"Apa isi tas itu?" tanyanya sendiri seraya memandang ke arah hantu wanita yang sedang meneteskan air mata.
"Apa yang harus aku lakukan padamu."
Pagi harinya Nayra duduk termangu dengan eye patch pada mata merahnya. Pikirnya memikirkan kejadian semalam.
"Jangan melamun, masih pagi," tegur Adam seraya mengusap kepala Nayra.
Ingin rasanya Nayra bercerita namun dia tidak ingin mengganggu kesibukan Adam.
"Dia masih di sini." Nayra bergumam ketika matanya berkedut.
"Kenapa sayang?"
"Mmm tidak apa, Om." Nayra diam sejenak, "Oh iya, Om. Apa om Adam punya nomor telepon Pak Polisi yang dulu mengurus kecelakaan Nayra?"
"Kenapa, apa kamu sudah mengingat sesuatu?" tanya Adam
"Tidak Om, justru Nayra ingin tahu, sepertinya Nayra anak yang tidak diinginkan oleh mereka."
"Kenapa kamu bicara seperti itu."
"Karena sampai hari ini mereka tidak mencari Nayra, Om."
__ADS_1
"Positif thinking saja, Nay. Mungkin mereka pikir kamu di tempat yang aman sehingga mereka yang menunggu kabar dari kamu."