
“Sudah kepalang tanggung jadinya”, rasa takut Nayra berubah jadi rasa lapar, tanpa malu Nayra langsung memakan paha ayam yang sudah sejak tadi di hadapannya.
“Jangan marah, Nay” ucap Dewi memegang tangan Nayra manja.
“Sekarang ini ada yang sedang memperhatikan kita, dekat banget apa lagi dekat aku sekarang.” Dengan bibir hampir berbentuk huruf N kecil.
“Serius lu!” Deden panik, Nayra mengangguk.
“Mereka korban kebakaran di mall ini 24 tahun lalu.”
“Gila, aku belum lahirlah.”
“Sama Nayra juga, Ka.”
“Serius kamu, Nay?” tanya Dewa, Nayra mengangguk.
Dewa dan Deden langsung membuka ponsel mereka lalu searching di Google.
“Bahkan angkot di sini sering dijahili mereka,” ucap Nayra lagi. Dewa dan Deden saling berpandangan.
“Ah Nayra, jangan nakutin dong.” Pukul Dewi ke lengan Nayra.
Yang tadinya ingin pulang karena takut, mereka malah berkeliling, ya tentu saja Nayra yang terganggu karena makin banyak saja dari mereka yang mengikuti Nayra.
“Paling banyak korban terbakar di bioskop, Ka Deden kalo nonton jangan sendirian ya, nanti ada yang menemani.” ledek Nayra.
“Pacar Kaka lah yang nemenin.”
“Awas, keluar jadi bertiga loh, Ka.”
“Wah rese juga Ade lu, Wa.” Mereka terkekeh.
Akhirnya mereka pamit pulang, mereka berjalan menuju parkiran mobil.
“Jangan ikut, saya tidak mau mengantar, rumah saya jauh, jadi balik saja. Kalo maksa ikut aku tidak bisa antar,” ucap Nayra sebelum masuk ke dalam mobil membuat Dewa dan Dewi bergidik.
Dewa membawa cepat mobilnya keluar area.
“Ada yang ikut gak, Nay?” tanya Dewa.
“Aman, Ka.”
“Bener!”
__ADS_1
“Iya, aman pokonya,” ucap Nayra meyakinkan Dewa.
Setibanya Di rumah, Nayra, Dewi juga Dewa duduk di teras belakang rumah Nayra, di sana sedang duduk Adam ditemani kopi hangatnya. Suara ponsel Dewa berbunyi.
“Kenapa, Den?”
“Bener kata adik lu, banyak korban terbakar di dalam mall itu.” Dewa menekan loudspeaker dan meletakkan ponselnya di meja.
“Nyokap gue cerita, Setelah kejadian ada sopir angkot yang dijahili, ada 3 penumpang masuk ke dalam angkot tapi turunnya berdua, gila Gue merinding nih cerita sama lu.”
“Korban lebih banyak ditemukan di dalam bioskop, adik lu kok bisa tahu sih, Wa?”
Dewa dan Dewi melihat kearah Nayra.
“Aku dengar dari mereka, Ka. Waktu kita jalan-jalan tadi di mall, aku dapat tour guide dari mereka sendiri.”
“Astaghfirullah, serius, Nay?” tanya Dewi.
Nayra mengangguk seraya mengambil biskuit yang ada di meja.
“Wah, adik kamu harus buat YouTube yang kontennya mengobrol bareng makhluk gaib, Wa.”
Adam yang sejak tadi hanya mendengarkan mereka mengobrol mulai ikut bersuara. “Kamu berbicara dengan mereka, Nay?”
Nayra bangkit dari duduknya, “Ka Deden mandi ya yang bersih.” Teriaknya mendekati ponsel. “Kaka juga, kamu juga Wi, takut ke bawa mimpi. Aku mau mandi dulu, bye!”
“aaaa” Dewi berlari masuk ke rumahnya melalui pintu samping.
“Serius, Nay?” Tanya Dewa dengan tubuh bergidik, sedangkan Deden Langsung menutup ponselnya. Nayra tidak menjawab malah terkekeh masuk ke dalam rumah.
“Nay, Nayra. Serius, Kamu?” teriak Dewa.
“Sudah sana mandi,” ucap Adam.
Dewa langsung lari menyusul Dewi. Setelah Nayra mandi Nayra duduk di ranjangnya.
“Aku kan sudah bilang jangan ikut, sekarang kamu minta balik, kan?, Aku enggak bisa antar, besok saja kamu ikut Ka Dewa ke kampus, terus nebeng Deden balik, Cuma itu jalan satu-satunya.”
Nayra melepas softlens di matanya kemudian berbaring di ranjangnya.
Keesokan paginya Nayra sengaja menemui Dewa yang sedang memanaskan mobilnya.
“Ke kampus ga, Ka?”
__ADS_1
“Kenapa, mau ikut?”
“Ketemu Deden, gak?”
“Kenapa, Kamu naksir ya? Cieee.”
“Jangan ngadi-ngadi, hari ini paksa ya ketemu Deden, kalau enggak ketemu Kaka harus ke rumahnya, oke!”
“Malas ah, kalau naksir Kaka bilangin nih sama dia.”
“Eeh jangan, malu-maluin saja, pokonya Kaka harus ketemu Deden.”
“Memang kenapa sih Nay, kalau Sudah ketemu Kaka harus ngapain coba?”
“Hm.” Nayra menyalami Dewa, “Sampaikan salam ini ke Ka Deden, ya?” Nayra langsung pergi.
“Tuh kan, kamu naksir si Deden.”
[Bodo ah, salah paham, dari pada ribet nganter tuh stik gosong].
Tahun ini adalah tahun pertama bagi Nayra di tingkat SMK, Nayra dan Dewi masuk jurusan yang sama. Mereka berdua sedang mengikuti MPLS di hari pertama.
Seorang guru berdiri di tengah lapangan memegang alat pengeras suara dan memerintahkan murid baru untuk berbaris sesuai kelasnya karena upacara hari Senin akan segera di mulai.
Di sebelah kiri murid senior memakai pakaian lengkap sesuai ekstra kurikuler mereka sedangkan di sebelah kanan barisan memakai atribut PASKIBRA dan di belakangnya paduan suara. Upacara berjalan lancar meski ada beberapa yang pingsan mungkin karena belum sarapan atau kondisi kesehatannya sedang tidak baik.
Setelah selesai upacara, semua murid masuk ke dalam kelas dan masa orientasi dimulai, setelah guru memberi materi dan perkenalan masuklah senior secara bergantian memperkenalkan ekstrakurikuler mereka serta segala kegiatan dan penghargaan yang mereka raih, mereka juga mengajak murid baru untuk ikut bergabung.
Nayra menjadi pusat perhatian di sekolah karena softlens yang dikenakan selalu lepas, maka dia menggunakan eyepatch untuk menutupi matanya. Nayra berjalan beriringan dengan Dewi serta Dina teman baru mereka, saat melewati pagar sekolah Nayra melihat tongkat panjang berwarna merah.
🍇🍇🍇
Hari kedua di sekolah, Nayra melirik tongkat yang kemarin berada di pos satpam dan kini sudah berubah bentuk menjadi sebuah payung panjang berwarna merah, Nayra sempat mengerut kan dahinya, dia terheran kenapa kemarin dan hari ini apa yang dia lihat sangat berbeda.
Saat pulang sekolah hujan turun mendadak tanpa memberi isyarat terlebih dahulu, datang dengan cukup deras terpaksa kami bertiga berteduh di pos satpam sekolah, karena sopir Dewi belum juga datang tidak hanya kami, tapi banyak juga yang terpaksa berteduh karena tidak bisa menghindari hujan.
Dina sangat tidak nyaman berada di pos karena kakak kelas terus saja menggoda nya, Dina siswi yang sangat cantik, badannya tinggi berisi. Karena kesalnya Dina ingin segera pulang, dan dia meminjam payung yang entah milik siapa, dia hanya pamit dengan pak satpam untuk pinjam. Esok hari akan dikembalikan.
Tapi anehnya pak satpam tidak tahu pasal payung tersebut karena dia baru saja melihat payung tersebut ada di situ.
"Tapi saya melihat payung itu sejak pagi Pak," ucap Nayra.
"Oh, mungkin ada yang ketinggalan, nanti biar saya yang tanggung jawab kalau pemiliknya bertanya."
__ADS_1