Netra Merah

Netra Merah
Gadis cantik di sekolah part 4


__ADS_3

Nayra belum tahu caranya berkomunikasi dengan makhluk halus seperti kebanyakan orang di film-film.


Damar mulai membuat sketsa wajah, Nayra memberitahu mulai dari bentuk mata, hidung dan bibir. Akhirnya Damar dapat menyelesaikan sketsa wajah yang hampir sesuai dengan wajah aslinya, Nayra tampak senang.


"Siapa dia?" tanya Dina.


"Dia seseorang yang berada di sekolah kita," ucap Nayra.


"Hah, jangan bilang dia hantu?" ucap Damar.


Nayra tersenyum.


Damar langsung berdiri dari duduknya dan bergidik.


"Parah lu Nay, kamu suruh aku membuat sketsa hantu."


"Dia cantik banget, ya?" ucap Dina sambil memegang sketsa buatan Damar.


"Aslinya lebih cantik," Nayra memandangi pohon yang kosong.


"Jangan bilang dia di situ, Nay!"


"Dia di sini sama kita sejak tadi."


Damar bersembunyi di belakang Dewi.


Saat di rumah, Nayra mencoba menemui Dewa, Tante Kinan tampak gelisah memandang ke arah pintu kamar anaknya.


"Ka dewa, belum mau keluar Tante?"


"Dia sudah mau keluar, cuma belum jalan ke kampus." Kinan menarik napas gusar, "Tante khawatir sama dia Nayra."


"Nayra izin masuk ya, Tante."


Kinan mengangguk dan mengusap lengan Nayra kemudian meninggalkan Nayra.


Nayra mengetuk kamar dewa. "Ka Dewa, Nayra masuk ya?" Tidak ada jawaban dari dalam, Nayra membuka kamar Dewa yang tidak di kunci.


Nayra melihat Dewa sedang terlentang di ranjangnya dengan mata yang ditutup lengan. Kamarnya gelap hanya seberkas cahaya dari jendela.


Nayra membuka jendela kamar Dewa.


"Ka Arga pasti sedih lihat ka Dewa seperti ini."


Mendengar kalimat Nayra, Dewa terdengar mengisruh seperti menarik lendir hidung nya, dia menangis.


"Ka Dewa belum ke rumah keluarga Ka Arga lagi?" Nayra menghampiri Dewa dan duduk di sisi ranjangnya.


"Kemarin 3 hari kepergian nya kan, Kaka tidak hadir, nanti ada acara tujuh harinya, apa Kaka ga mau kesana membantu mereka?" Nayra melepaskan tangan Dewa yang menutupi matanya.

__ADS_1


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan, kasihan ka Arga, melihat keluarga nya saja dia sudah merasa sangat sedih, di tambah sahabatnya seperti ini pasti dia sedih. Biarkan ka Arga menjalaninya dengan tenang di sana".


"Apa dia bisa melihat kita?"


"mmm Nayra ga tau ka, semuanya bertolak belakang dari ajaran yang pernah Nayra pelajari, katanya setiap orang yang meninggal akan langsung bertemu malaikat kubur setelah 7 langkah pengantar jenazah pergi, tapi Nayra bisa melihat mereka yang sudah meninggal."


Dewa bangkit dari tidurnya dan duduk di sisi Nayra.


"Kaka rindu Arga, dia sahabat baik Kaka sejak SMP."


Nayra mengusap punggung Dewa.


"Berdoa ka, agar di lapangkan kuburnya, di mudahkan, di hapus segala dosanya, itu cara Kaka untuk melampiaskan rasa rindu ke ka Arga."


Nayra mengambil tisu yang berada di meja dan kembali duduk di samping Dewa, Nayra membasuh sisa air mata di sudut mata Dewa.


"Kata ustadz di pondok, tempat yang pernah Nayra datangi sama om Adam. Beliau bilang kalau nanti saat kita meninggal kita akan berkumpul bersama orang yang kita cintai, indah ya ka?"


Nayra membuang napas lalu menunduk


"Apa Nayra nanti akan bertemu keluarga Nayra ya?"


Adam melihat ke arah Nayra


"Kitakan keluarga juga, tadi kamu yang bilang kalau nanti kita akan berkumpul bersama orang yang kita cintai. Itu berarti bisa siapa saja, kan?"


Dewa memeluk Nayra dan mengusap kepala bagian belakang.


"Terima kasih Nayra."


Nayra memeluk kembali Kaka yang dia sayangi itu. "Semangat Ka, kapan akan ke rumah Ka Arga, boleh Nayra ikut?" Dewa mengangguk.


Setelah pembicaraan itu Dewa mulai kembali beraktivitas meski kadang masih sering melamun. Dewa mulai ke kampus keesokan harinya dan berkunjung ke rumah keluarga Arga.


Sedangkan Nayra juga Dewi mulai mencari biodata lewat buku alumni di perpustakaan sekolah, Damar dan Dina juga membantu. Kesibukan mereka di perpustakaan sampai tidak tahu ke datangan guru bahasa Indonesia di dekatnya.


"Kalian ngapain?"


"Eh, Bu Ambar kita lagi cari kenalan kita nih."


"Kok album lama, emang siapa yang kalian cari, alumni tahun berapa?"


"mmm kemungkinan 20 sampai 30 tahun lalu"


"Eh, lama banget, siapa yang kalian cari orang tua kalian?"


"Dia Bu, Damar menyerahkan sebuah sketsa wajah kepada Bu Ambar."


Ambar mengambilnya dan dia melepaskan sketsanya karena terkejut. Nayra dan teman-temannya bingung.

__ADS_1


"Kenapa kalian mengenal Sarah?"


"Ibu kenal dia?" tanya Dewi penuh harap.


Nayra memperhatikan wajah Ambar yang tak asing, dia mirip wajah gadis kecil di ingatannya.


"Sarah, apa kamu Sarah?" tanya Nayra pada gadis yang tak terlihat oleh mereka, membuat mereka mencari-cari orang yang dimaksud Nayra, sedangkan orang yang ditanyai mengangguk mengiyakan.


"Dia benar bernama Sarah," ucap Nayra, lalu melihat ke arah Ambar. "Ibu adik dari Sarah, yang waktu kecil ikut ke pengadilan menghukum pelaku, kan?"


"Dari mana kamu tahu, Nayra?"


"Dari Sarah Bu, dia di sini."


Ucapan Nayra membuat Ambar terkejut dan terjatuh ke lantai kemudian dia menangis mengingat memori masa kecilnya.


"Jadi ka Sarah sudah meninggal, pantas dia tidak pernah kembali." Ucapan Ambar membuat Sarah ikut menangis di samping Ambar.


Dina dan Dewi memapah Ambar ke kursi yang ada didekatnya.


"Biadab kau Deni" ucap Ambar membuat Sarah mengingat kejadian dahulu, wajahnya berubah marah hingga matanya melebar.


"Sekarang di mana pria itu Bu?"


"Setelah keluar dari penjara, Deni masuk rumah sakit jiwa, sudah 3 tahun dia di sana, dia selalu berkata kalau ka Sarah dijualnya keluar negeri, tapi ternyata." Ambar terisak, "Kalau Ka Sarah sudah meninggal di mana makamnya?" Ambar mulai bertanya kembali.


"Dia tidak dimakamkan secara layak Bu, Sarah ada disini, disekolah kita."


Ucapan Nayra membuat semuanya terbelalak. Bu Ambar melihat kearah Nayra. "Apa maksudmu?"


"Sarah di bunuh dan di buang ke sumur tua di sekitar sekolah."


"Astaghfirullah!"


"Kita harus temukan sumur itu tepatnya di mana? Karena seluruh sekolah ini sudah berubah total."


Sarah menyentuh tangan Nayra, mata Nayra berkedut hingga merasa ngilu,


"Ash." Nayra memegang matanya.


Dewi segera menghampiri Nayra


"Mata lu sakit?" Nayra mengangguk.


Sarah menunjukkan sebuah tempat di mana dirinya terkubur sekarang, Nayra mulai menelusuri jalan ke arah taman yang biasa Nayra dan Sarah duduk. Ambar dan yang lain mengikuti.


"Di bawah pohon ini kah?" tanya Nayra pada Sarah yang dibalas dengan anggukan.


Namun mereka tidak bisa menggalinya sendiri. akhirnya Ambar melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian. Meski sangat berbelit-belit namun akhirnya proses ini dilakukan. Dengan beberapa syarat yang harus ditandatangani Ambar.

__ADS_1


__ADS_2