Netra Merah

Netra Merah
Ular Berkepala Manusia


__ADS_3

Setelah mendengar cerita, Nayra berangkat ke tempat lesnya, saat melewati rumah ibu Mira tampak sebuah gerakan transparan bergelombang, Nayra tidak bisa menjelaskan apa yang Nayra lihat, dan matanya pun tidak memberi tanda.


Namun, lingkungan itu kini terasa lapang tidak ada sesak seperti kemarin.


Nayra terus melangkahkan kakinya, dia juga bertemu dengan Joni beserta kawannya, mereka sangat berterima kasih kepadanya, Nayra hanya tersenyum dan bersyukur mereka dapat sembuh.


Tepat jam satu siang, Adam menelepon Nayra, dia meminta Nayra ke rumah sakit karena menantu Mira sedang dirawat di tempat Adam bekerja, keluarga Mira ingin Nayra membantunya lagi.


Adam menyampaikannya sangat hati-hati kepada Nayra di khawatir anaknya itu keberatan, dan Nayra paham dengan maksud Adam. Sore harinya saat jam besuk, Nayra datang ke rumah sakit atas permintaan Adam tadi siang, mata Nayra langsung saja berkedut memberi sinyal bagi dirinya.


Sialnya Nayra harus bertemu dengan wanita yang pernah dia antar sebelumnya, dia wanita yang meneror komplek dengan ketukan pintunya. Wanita itu memperlihatkan wajah sedih kearah Nayra, Nayra hanya mengangguk kecil pertanda dia pamit pergi darinya, namun wanita itu malah mengikuti Nayra.


Dia berada di dalam lift bersama Nayra serta pengunjung lain. Wanita itu menyentuh Nayra, sontak saja rasa dingin seperti es batu menempel di tempat yang dia sentuh. Rasa dingin itu menjalar sampai leher belakang Nayra, membuat Nayra bergidik. Beberapa orang di dalam lift juga mengikuti gerakan yang sama yaitu memegang leher mereka.


"Kok merinding, ya?" ucap salah satu orang yang berdiri di depan Nayra.


"Gue juga, jangan-jangan pengunjung gaib, nih?" ucap lawan bicara orang tadi.


Nayra hanya diam lalu pintu lift terbuka tujuan Nayra Sudah sampai. "Permisi," ucap Nayra memecah orang di depannya.


Nayra harus melewati orang yang berada di depannya ketika akan keluar lift mereka jadi merinding ketika Nayra lewat, ternyata wanita itu sedang usil menyentuh mereka semua satu persatu. Nayra sampai menarik napas, ternyata setan suka sekali mengerjai manusia.


Nayra bertemu Adam saat berada di lorong ruang rawat inap Adam mengantar putrinya ke kamar menantu Mira. Saat berdiri di pintu mata Nayra berdenyut dan terasa sakit. Nayra memegang matanya dan berdehem seperti tau ada siapa di dalam.


Saat pintu dibuka, Nayra sudah dapat melihat seekor ular dengan kepala manusia, kepala seorang wanita. Anak Mira hanya bisa menangis hingga sesenggukan, Nayra paham sekali dengan keadaannya.


"Ayo masuk," ajak Adam.


"Apa yang kamu lihat, Nay?"


"Ular besar, Om."


"Apa benar, Nak apa yang kamu lihat barusan." Ternyata Mira dapat mendengar perkataan Nayra tadi dan Nayra mengangguk.

__ADS_1


Nayra menghadap Adam kemudian melepaskan softlens Yang selama ini dia pakai. Nayra menutup matanya dengan tangan, dia tidak mau mereka melihat warna mata Nayra.


"Coba lihat ke sana." Tunjuk Nayra kearah dinding dengan tangan yang satunya.


Nayra membuka tangan yang menutupi matanya, dia mengedipkan mata dua sampai tiga kali kemudian terpantul bayangan ular dengan kepala manusia, semua yang melihat menjerit.


Jeritan keluarga Mira memekik telinga, rasa takut yang mereka alami sangat luar biasa, bagaimana tidak jika salah satu anggota keluarganya sedang di siksa seekor ular berkepala manusia, sangat mengerikan.


Bayangan itu kembali hilang, karena Nayra kembali menutup matanya dengan eyepatch, Mira mendekati Nayra.


“Nak, tolong bantu menantu saya.”


“Maaf Bu, saya tidak memiliki kemampuan lebih dari ini.” Mereka menangis terisak mendengar jawaban Nayra.


“Apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu seperti pada Joni,” tanya Adam.


Nayra menggeleng, “ini soal beda Om, andai Nayra bisa kirim balik sepertinya seru.”


“Kenapa, Nay?” tanya Adam kebingungan.


“Om tidak dengar tadi ada bunyi dari atas.” Nayra menunjuk ke atas, Adam menggeleng. Lalu bunyi dentuman terdengar lagi Nayra sampai terperanjat, bahkan Nayra sedikit menunduk khawatir atap itu jatuh.


Suara erangan terdengar menyayat melalui mulut menantu ibu Mira, Nayra melihat ular itu melilit erat ditubuh pria itu. Nayra tidak tega melihatnya, seketika tubuhnya tegap dan berjalan cepat menghampiri menantu Mira, dia menarik kepala ular dan membantingnya ke lantai.


Suara dentuman kembali terdengar di atas, Menantu Mira terduduk dan memandang tajam kearah Nayra, tak segan menantu Mira mencekik Nayra seraya mengoceh.


“Jangan ikut campur urusanku!” Suaranya berat dan bergetar.


Semua orang mencoba melepaskan tangan menantu Mira dari leher Nayra, tapi anehnya Nayra tidak merasa sakit justru dia tersenyum sangat lebar dengan mata yang terbuka lebar.


Keributan membuat Dokter dan Perawat datang ke dalam ruang pasien, mereka ikut membantu melepaskan tangan menantu Mira. Bahkan seorang Dokter mencoba menusuk jarum ke tangan pria itu untuk menyuntikkan obat penenang.


Namun, jarum itu patah, sudah hampir tiga kali mencoba namun terus patah karena tubuh pria itu menjadi keras karena menegang.

__ADS_1


Adam berkali-kali memukul lengan pria agar dapat melepasnya dari leher Nayra tapi tenaga menantu ibu Mira sangat kuat dan mendorong Adam hingga terjatuh. Nayra malah terkekeh seperti bukan Nayra, terdengar suara dari mulut Nayra seperti decitan bambu yang saling bersentuhan sangat ngilu didengar.


Wajah menantu Mira panik dan melepaskan tangannya dari leher Nayra.


Nayra dengan kasar membalas dengan memukul kening pria itu hingga terlentang di ranjang.


“Dia harus mati, itu perintah yang aku dapat!” ucap menantu Mira. Mendengar kalimat itu keluarga menangis lagi.


“Beraninya kau mendahulukan tuhan,” ucap Nayra.


Menantu Mira malah tertawa terbahak-bahak mendengar Nayra bicara tuhan.


“Kau harus jelas asal-usulmu, dasar bocah.”


Kepala Nayra sedikit miring mulutnya mengoceh kembali. “Apa perlu kita adu,” tantang Nayra.


Menantu Mira tertawa cukup keras. “Tentu kau lebih kuat bocah, tapi aku harus menjalankan tugasku sampai selesai di sini.”


“Sampai kapan kau akan menyiksanya?”


“Tidak lama lagi.”


“Sial kau!” marah Nayra membuat menantu Mira tertawa. “Tunjukkan siapa tuanmu dan pengikutnya.”


“Tuanku tidak salah, tapi peminta kematian dapat kau lihat dari wajahku.”


“Kau, tuanmu beserta wanita itu akan terbakar api tidak lama lagi, camkan itu!”


Keluarga Mira pasrah ketika mendengar percakapan Nayra dengan salah satu keluarga mereka yang sedang sekarat itu, mereka tau akan ke mana akhirnya. Bahwa keluarga mereka yang sakit ini sedang dibuat sakit hingga menghembuskan nyawa, sungguh kejam.


“Apa salahmu sayang, hingga ada yang membuat kamu seperti ini?” ucap si istri.


“Ada wanita yang sedang sakit karena cintanya ditolak suamimu, dia tidak rela suamimu bersanding dengan wanita lain selain dirinya.”

__ADS_1


__ADS_2