
Adam memberi ponselnya kepada Nayra, di situ tertulis nomor pak polisi bernama Burhan, Nayra menyimpan nomor itu pada ponselnya.
Sepulang sekolah, Nayra mendatangi rumah sakit tempat Adam bekerja, Nayra datang tanpa bersama Dewi. Di rumah sakit Nayra tidak menemui Adam, melainkan menuju kamar mayat.
"Apa tubuhmu ada di sana?" tanya Nayra kepada wanita yang sejak kemarin mengikutinya. Dan wanita itu menggelengkan kepalanya, Nayra mengusap mukanya. "lalu harus bagaimana?" ucap Nayra kesal.
Malam harinya Nayra bermimpi, tubuhnya di tabrak sebuah mobil, persis kecelakaan yang dialaminya waktu itu, Namun, kali ini dia melihat pelakunya. Nayra terbangun dengan hantu wanita di sisinya, sontak saja Nayra terkejut dan menjerit.
Jeritan Nayra membuat Adam yang saat itu belum tidur harus berlari ke kamar Nayra. Adam langsung masuk, karena Nayra tidak pernah mengunci kamarnya.
"Ada apa sayang, kamu mimpi buruk lagi?" Nayra mengangguk. Adam memeluk Nayra, seraya mengusap punggungnya. "Hanya mimpi Nayra, kembang tidur."
Nayra kembali merebahkan tubuhnya dia mencoba mengingat wajah pria yang menabraknya, apa dia sudah di sidangkan bisik Nayra dalam hati.
Nayra kembali memejamkan matanya, dan hantu wanita itu menyentuh tangannya, Nayra tepat berdiri di belakang seorang pria, dia pria yang sama, pria yang menenggelamkan sebuah tas dengan menaruh batu besar untuk menekan tas itu, betapa terkejutnya Nayra sampai menutup mulutnya, dia melihat sebuah tangan mungil yang belum sepenuhnya masuk ke dalam tas. Pria itu berbalik dan Nayra terperanjat hingga kembali lagi dibatas ranjangnya.
Pria itu adalah pengemudi yang menabraknya, Nayra duduk dan memandangi wajah pucat di hadapannya.
"Siapa kamu, apa kamu istrinya?" Wanita itu mengangguk.
Pagi harinya, saat Nayra hendak berangkat ke sekolah Nayra mencoba menelepon Burhan. Tidak ada jawaban dan Nayra meninggalkan pesan kepada Burhan jika dia akan datang ke kantornya.
Nayra membawa Dewi ke kantor polisi untuk mencari Burhan, tetapi Nayra tidak bisa menemui karena Burhan tidak ada di tempat, ternyata dia sedang bertugas keluar.
Nayra mencari info tentang penabrak dirinya yang bernama Antoni, yang ternyata sudah dijatuhi hukuman 13 tahun penjara dengan tuntutan pembunuhan istrinya.
"Maaf Bu, kita harus menunggu pak Burhan." Nayra diam sejenak dan melangkah keluar kantor polisi, "Saya tidak bisa sembarang menceritakan kasus ini, saya bisa dianggap gila," ucapnya pada si wanita, meski wajah hantu wanita itu tampak kecewa. Namun, dia mengikuti Nayra kembali pulang.
"Apa kita harus mengantarkan dia ke rumah sakit?" tanya Dewi. Dan Nayra mengangguk. Sesampainya di depan rumah sakit, Nayra tidak turun dari mobil.
"Ibu tunggu sini saja, saya akan segera menjemput ibu, jika Pak Burhan menghubungi saya."
Wanita itu berjalan masuk menuju gedung rumah sakit, sedangkan Nayra dan Dewi akan kembali pulang.
"Pak, jangan ceritakan pada bunda Kinan dan Om Adam, ya," pinta Nayra.
__ADS_1
"Baik, Neng."
"Terima kasih, Pak." Kali ini Dewi yang bicara.
Setelah kemarin mengantar wanita itu kembali ke rumah sakit tiap malam Nayra selalu mengalami mimpi buruk hingga dia menangis mengeluarkan butiran berwarna merah dari matanya.
Di dalam mimpinya Nayra bertemu makhluk menyeramkan hingga kakinya gemetar dan sulit digerakkan, Nayra terus menjerit dan menangis karena ketakutan. Adam selalu membangunkan Nayra setiap kali mimpi buruk itu datang.
Nayra bingung kenapa dia begitu ketakutan hingga debaran jantung yang begitu kuat terasa sangat sakit Nayra rasakan. Nayra pun melihat sebuah air yang sangat banyak, entah itu sebuah waduk, rawa atau sungai yang pasti ada beberapa orang yang memancing di sekitar air itu. Ketika bangun Nayra ingat dengan anak di dalam tas, "Anak itu berada di sana," ucap Nayra.
Adam tersenyum manis ketika melihat Nayra datang untuk sarapan pagi. "Pagi Om," sapa Nayra.
"Pagi sayang," jawabnya. "Nanti malam kita makan malam diluar, ya. Om akan mengenalkan seseorang padamu." Wajah Adam tersipu malu.
"Hm, sepertinya dia calon tante untuk Nayra."
"Jangan rusak kejutan yang akan kamu dapat."
Nayra tersenyum sambil menggigit roti bakar buatan Siti, setelah gigitan terakhir Nayra pamit kepada Adam karena Dewi terus saja memanggilnya.
Sebelum makan malam, Nayra di minta Adam untuk menjemputnya di rumah sakit, karena hal mendesak membuatnya tidak bisa menjemput Nayra untuk makan malam. Adam memperkenalkan seorang wanita dari kalangan dokter juga, dia berhijab dan sangat cantik, Nayra sangat bahagia karena akan ada sosok ibu di dalam rumahnya nanti.
"Iya, silakan," ucapnya penuh kelembutan.
Nayra mulai berjalan menuju kamar mayat, Nayra harus pura-pura tak melihat apa pun jika ingin semua berjalan dengan lancar.
Sekali lagi Nayra bertemu petugas kamar mayat di rumah sakit, tak di sangka petugas itu sepertinya tau maksud dari kedatangan Nayra.
"Kamu mencari seorang wanita kan?" tanyanya.
Tanpa ragu Nayra mengangguk, "Benar, Pak."
"Dia sudah lama tidak di sini."
"Apa urusannya sudah selesai?"
__ADS_1
"Bapak tidak tahu, tapi sepertinya ada masalah lain."
"Baiklah Pak, terima kasih," ucap Nayra pamit lalu meninggalkan bapak itu. Nayra kini kembali duduk menemani Syahla.
Sesampainya di rumah Nayra mulai menelusuri berita kecelakaan dirinya lewat internet. Dan dia menemukan alamat rumah pelaku.
Keesokan harinya Nayra pergi sendiri ke rumah keluarga Antoni tanpa mengajak siapa pun, dia harus berbohong kepada orang rumah, agar bisa pergi sendiri. Nayra masuk ke sebuah rumah susun ditemani seorang laki-laki yang diakuinya sebagai keamanan setempat.
Cukup ramai juga yang lalu lalang dilingkungan rusun ini, tapi kenapa anehnya waktu kejadian tidak ada yang membantu korban pikir Nayra.
"Memang kamu mencari apa?"
"Saya korban yang ditabrak pak Antoni," jujur Nayra membuat dia terbelalak.
"Owalah, sampean baik-baik saja kan?"
"Alhamdulillah Pak, saya baik-baik saja."
"Keperluan kesini cari apa?"
"Hanya ingin melihat-lihat."
"Tapi, jangan masuk ya, karena sudah ada yang mau menyewa tempat itu."
"Kok bisa?"
"Ya jelas bisa, kan tidak ada yang membayar sewanya, otomatis saya kosongkan supaya bisa dapat uang."
[Sebenarnya dia ini keamanan atau pemilik rusun sih] jengkel Nayra dalam hati.
Nayra terus menaiki tangga rusun tersebut sampai ke lantai tiga seraya mengobrol dengan petugas rusun. Ketika kaki Nayra sudah menginjak lantai yang dituju Nayra sudah diberi peringatan oleh matanya.
"Sepertinya dia di sini," ucap Nayra bergumam.
Nayra mencoba mengintip ke dalam jendela, Benar saja, istri Anton ada di kamar itu sedang duduk menangis.
__ADS_1
"Barang-barang milik keluarga Antoni ke mana pak?"
"Di lelang, dia banyak hutang kepada orang di sini."