Netra Merah

Netra Merah
Voodoo


__ADS_3

Tangan kanan Nayra didekatkan ke wajah gadis yang kini membuka matanya dengan lebar "Panas, lepaskan!" teriaknya.


Kedua tangan si gadis memegang pergelangan tangan Nayra, "Bangsat kau kahin, jangan ikut campur," ucapnya dengan suara berat lalu meraung seperti hewan.


"Kerjamu hanya menyusahkan manusia, cepat pergi, pulang ke tuanmu."


Gadis itu malah tertawa terbahak-bahak. "kini kau semakin kuat saja kahin, pantas saja yang lain malas berurusan denganmu."


"Banyak bacot, pergi kau jahanam, jika balik lagi aku akan memakan mu."


Dia tertawa, "Hati-hati kau kahin jika mereka bersatu maka kau akan musnah."


"Sialan, berani kau mengancamku!" Nayra membentaknya dan menekan ibu jarinya di kening gadis itu, dia mengeluarkan suara erangan keras, dibarengi dengan wadah aluminium yang bergetar, semua yang berada di ruangan itu terlihat panik.


Wadah aluminium itu robek hingga air panasnya keluar membasahi lantai. Gadis itu kini menangis dengan suara aslinya lalu melemah dan tidak sadarkan diri.


Tangan Nayra yang masih di kening si gadis kemudian bergerak mencabuti jarum-jarum kecil yang keluar dengan sendirinya satu persatu Nayra meletakkan jarum itu di wadah aluminium yang sudah terbelah.


Suara ketukan terdengar dari luar di barengi suara ucapan "Assalamualaikum, permisi." Nayra menoleh kearah Dewa. "Itu Om Adam." Dewa berdiri dan melihat keluar ternyata benar itu Adam dan yang lainnya.


"Bunda," ucap gadis dengan suara bergetar dia mulai sadarkan diri, bundanya kini mendekat dan menangis memeluk putrinya.


"Tidak apa-apa, insya Allah sudah selesai, mulai sekarang jangan lupa beribadah dengan baik, agar terhindar dari hal seperti tadi."


"Alhamdulillah" ucap seisi keluarga.

__ADS_1


"Tolong dibakar sampai wadahnya menghitam lalu dikubur yang dalam." Nayra memberikan wadah berisi jarum dan si bapak langsung membawa keluar dan melakukan apa yang Nayra perintah.


"Nayra," ucap Adam pelan di dekat Nayra.


"Om Adam," ucap Nayra dengan Suara manja seraya tersenyum lebar seperti anak-anak yang bertemu malaikat pelindungnya. Adam mengusap kepala Nayra, karena dia baru saja diberitahu dengan apa yang terjadi dengan anak pemilik rumah.


Keluarga si gadis berkali-kali mengucapkan terima kasih bahkan si ibu memeluk Nayra dengan erat. Nayra juga diberikan beberapa uang oleh si ibu, sudah pasti Nayra menolak. "Ibu memberi bukan untuk kebaikan Nayra, tapi ibu memberikan uang ini untuk uang sakumu sebagai seorang ibu pada anaknya." Ucapan itu membuat Nayra luluh, Nayra mengucapkan terima kasih dan juga memeluk si ibu, Dan akhirnya mereka pamit pulang.


Ibu dan keluarga besar terus menerus melambaikan tangannya melepaskan kepergian Nayra dan keluarga besarnya. Beserta gadis itu yang baru tau bernama Aina, dia duduk di kursi dengan senyum yang sangat manis.


Sesampainya di rumah Nayra memfokuskan pikirannya, beberapa kali dia di sebut Kahin oleh lawannya. Nayra menduga ada hubungannya dengan kepergiannya dari Dusun kamiren.


Sepulang sekolah Nayra dan Dewi hendak mengantarkan Dina pulang, kebetulan Dewi membawa mobil, dia sudah mendapatkan surat izinnya. Sesampainya di sana mereka bertiga di minta Sulis Kaka sepupu Dina untuk mengantarkan kerumah seseorang karena dia harus menemui suaminya.


Nayra sudah menolak karena hari sudah malam, tetapi melihat keadaan Sulis yang hamil besar dengan terpaksa Nayra bersedia ikut. Mereka kembali setelah semua urusannya selesai.


Kabar duka mereka dapat dari ka Rio setelah kembali dari rumah Sulis, padahal saat itu Om Adam sedang menasehati keduanya karena pulang larut malam.


Kakek Rio tutup usia karena gagal jantung serta komplikasi yang di deritanya. karena sudah larut malam Dewa mengantarkan Nayra dan Dewi segera menuju rumah Rio. Nayra memikirkan keadaan Rio yang seorang diri tanpa keluarganya.


Kakek di makamkan saat pagi harinya, orang tua Rio hadir di pemakaman kakek Rio. Nayra juga bertemu Kakek Rio di pemakaman. Bahkan Nayra memeluk roh kakek Rio.


Kakek Rio juga mengusap lembut kepala Rio yang menangis sesenggukan, kakek juga jadi terlihat sedih.


"Ka, kakek di sini. Jangan menangis kakek juga sedih," bisik Nayra di telinga Rio.

__ADS_1


Rio menghapus air matanya tapi tetap saja air mata itu tetap terjun keluar. Nayra mengusap lembut punggung Rio agar lebih tenang.


Nayra sekilas melihat tubuh tinggi dengan pakaian adat Betawi serba hitam, lengkap dengan pengikat kepala, orang itu berdiri jauh memandangi pemakaman. Di sampingnya ada asap tipis yang tertiup angin, dia sedang membakar sesuatu di atas wadah yang terbuat dari tanah liat.


Setelah acara pemakaman selesai, Nayra dan Dewi menemani dan membantu keluarga Rio untuk menyuguhkan makanan ringan serta minuman untuk para tamu dan keluarga yang hadir untuk mengirimkan doa kepada Almarhum kakek Rio.


Lagi-lagi Nayra juga melihat pria di pemakaman tadi, dia berdiri jauh seraya memperhatikan Nayra .


Nayra kembali pulang ke rumah pada sore harinya setelah Rio yang memintanya, Nayra sedang duduk di kursi menghadap jendela, matanya berkedut dan terasa perih.


Sebuah cahaya kecil melintas mondar-mandir melewati rumahnya, Nayra keluar rumah dan berdiri tepat di balkon rumahnya.


"Ada yang sedang bermain denganku," monolog Nayra.


Iris mata kanannya berubah merah, dia memandang ke segala arah kemudian menangkap sosok pria dari kejauhan. Dia terlihat sedang mengayunkan boneka kecil dari ranting di atas bakaran yang penuh asap.


Tubuh Nayra berkeringat karena terasa panas. Napasnya tidak beraturan, dia masuk dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah sempoyongan.


Dia membasuh wajahnya berkali-kali, kulitnya memerah seperti tersengat matahari, Nayra mengisi bak airnya hingga penuh lalu dia berendam di sana.


Setelah berendam selama satu jam Nayra masih merasa kepanasan, dia berjalan keluar kamar hendak mencari dan meminta bantuan kepada keluarganya, Adam keheranan melihat Nayra turun dari lantai atas dengan wajah pucat.


"Nayra, kamu kenapa?"


Nayra tidak menjawab tubuhnya seketika ambruk di lantai ketika sudah sampai di anak tangga paling bawah, Adam segera mendekati Nayra, Syahla ikut berlari ketika Adam menyebutkan nama Putri angkatnya itu.

__ADS_1


Tubuh Nayra Sanga panas sehingga Adam dan Syahla segera membawanya ke rumah sakit, mulutnya terus mengigau dengan suara pelan seperti dua orang yang saling bersahutan, dengan suara dua orang yang berbeda juga bahkan ada suara erangan.


Nayra di datangi seorang wanita cantik yang telah memberi kelereng merah di matanya ketika dia koma di rumah sakit, Nayra tidak lupa akan wajahnya. "Aku Junita Harimau Bengala, aku sudah lama mengikuti keluargamu." Wanita itu menunduk seakan Nayra adalah tuan baginya.


__ADS_2