
Empat orang di depan Nayra hanya terpaku bagai menonton drama di TV.
"Dia meninggal saat acara pesta kelulusan, saat itu hujan deras, Anita salah paham melihat saya berpelukan dengan seorang teman malam itu, dia berlari di tengah hujan deras sampai dia tidak menyadari bahwa sebuah mobil melaju cepat ke arahnya dan menabrak dia tepat di depan sekolah." Kakek menghapus air matanya.
"Maafkan aku Anita."
"Dia sudah memaafkan kakek, tiap hari dia menunggu kakek di depan sekolah, tapi ternyata orang itu Rio bukan kakek." Nayra memandang wajah Rio.
Rio heran dengan maksudnya, Nayra memberi album kakek pada Rio.
"Wajah kakak mirip kakek waktu muda, sehingga nenek Anita mengira kakak adalah kakek, dia sangat bahagia waktu melihat kakak, makanya dia meninggalkan payung pemberian kakek di sana, supaya kakek mengingatnya, tapi ternyata salah orang." Nayra melirik Anita. Anita tersenyum manis tidak tampak menyeramkan seperti tadi.
"Nay, elu dari tadi melihat kearah situ memangnya dia di situ?"
"Iya, Nenek Anita duduk di sebelah kakek."
Mereka bertiga bergidik lagi, karena tidak bisa membayangkan ada makhluk di dekat mereka, Rio hanya penasaran dengan yang Nayra lihat. Kakek memandang kearah wanita yang tidak bisa dia lihat. "Andai aku bisa melihat wajahnya."
Nayra mengusap berkali-kali matanya yang memakai eyepatch karena terasa begitu gatal dan sedikit perih.
"Nay, sudah Nay, nanti mata lu bisa luka" Ucap Dewi pelan. Dewi mengambilkan selembar tisu karena eyepatch Nayra sedikit bergeser, Khawatir mata merah Nayra terlihat orang lain.
"Tutupi, Nay." Dewi memberikan tisu itu kepada Nayra yang duduk tepat di depannya, Nayra yang terhalang meja membuat Dewi harus berdiri dan sedikit membungkuk untuk memberikan tisu kepada Nayra.
Nayra menengadahkan kepalanya ke arah Dewi. Dewi melihat Mata Nayra berubah bentuk pada pupil matanya, mata Nayra mirip dengan mata kucing.
Dewi langsung menutup mata Nayra dengan tangannya yang memegang tisu.
Dewi kemudian duduk dan matanya menangkap bayangan merah, Anehnya sekarang Dewi juga bisa melihat nenek Anita yang duduk di samping kakek, Dewi sempat memekik ketakutan, Hingga menutup wajahnya.
"Kenapa lu?" tanya Yusuf menahan tubuh Dewi yang hampir melompat kerahnya.
"Ada wanita berbaju merah di sana." Dewi bicara pelan sambil menunduk dan kembali meluruskan duduk di tempatnya tadi, Yusuf menelan ludah.
Yusuf berbisik kepada pak Juned bahwa sekarang Dewi melihat ada wanita itu di situ, pak Juned mulai takut juga jadinya, Rio yang mendengar jadi penasaran.
Nayra yang memperhatikan Dewi merasa curiga jika matanya dapat melakukan sesuatu. Nayra berpikir dan mencobanya pada Kakek.
"Kakek coba lihat Nayra sebentar," ucap Nayra pada kakek. Alhasil kakek juga bisa melihat mata Nayra yang merah dan berbentuk mata kucing. Kakek sempat terenyak dengan mata Nayra, segera Nayra menutup kembali matanya.
__ADS_1
"Kamu, tidak apa-apa, matamu sakit?"
"Iya kek, mata saya sakit setelah kecelakaan, makanya mata saya seperti ini."
"Apa, masih sakit?"
"Iya kek," Jawab Nayra seraya memegang punggung tangan si kakek.
Anita menyentuh wajah kakek, dan kakek bisa merasakan kehadiran Anita, kakek terisak bisa melihat wanita yang pernah dia cintai dan berkali-kali meminta maaf kepada Anita.
"Kakek kenapa?" Rio mendekati kakeknya, dan membantu menghapus air mata kakek. Hampir sepuluh menit kakek dan nenek itu saling memberi isyarat, dan secara perlahan wanita itu menghilang di hadapan kakek.
"Kakek maaf sepertinya urusan Nayra sudah selesai di sini, Nayra harus cepat pulang."
Pak Juned dan Yusuf juga berpamitan mengikuti Nayra, begitu pun Dewi yang masih tertunduk karena masih takut.
"Sekarang ini dia tidak ikut kita, kan?" tanya Yusuf saat di dalam mobil.
"Enggak, sudah pergi," ucap Dewi sambil melihat ke segala arah. Mobil perlahan berjalan meninggalkan rumah Rio.
"Mata kamu sakit ya, Nay, ditutup begitu? " Tanya Yusuf yang sejak awal melihat Nayra sangat penasaran ingin bertanya.
"Mata Nayra sensitif dengan cahaya karena habis kecelakaan tujuh bulan lalu," Jawab Dewi.
"Tertabrak mobil."
"Hah, serius?"
"Kenapa, tidak percaya?" tanya Dewi kesal.
"Santai dong, sewot banget, aku aneh saja kok Cuma mata yang sakit, badannya oke, tidak ada bekas luka, apa luka dalam?"
"Iya, hanya luka dalam, aku sempat koma 4 hari," ujar Nayra seraya tersenyum kearah Yusuf.
"Weh, kaya di film saja habis koma bisa lihat hantu."
"Ah Nay, kenapa aku juga bisa lihat tadi, bagaimana kelanjutannya."
"Maaf Wi, aku tidak tahu, semoga tidak keterusan."
__ADS_1
"Aku takut, Nay."
"Ya sama, aku juga takut."
"Nah loh, Wi," Yusuf menakuti.
"Ka, Yusuf!" Dewi cemberut. Yusuf hanya terkekeh geli melihat adik kelasnya itu sedang merajuk.
"Kamu, tidak bakal lihat lagi kok, kecuali aku izinkan untuk melihatnya."
"Serius, Nay," berekspresi menggemaskan.
Nayra mengangguk sambil menyandarkan kepala di pundak Dewi dan Dewi menepuk-nepuk kepala Nayra.
Keesokan harinya. Mobil yang ditumpangi Nayra dan Dewi tepat berhenti di depan sekolah, Dewi menggandeng tangan dan memandang ke wajah Nayra yang sudah memakai softlens yang baru, Nayra berhenti melangkah tepat di depan pagar.
"Kenapa, Nenek Anita masih ada di situ?" Tanya Dewi.
"Sudah tidak ada, mungkin sudah pergi setelah urusannya selesai."
"Pergi ke mana?"
Nayra hanya mengangkat bahu dan berjalan masuk seraya menggandeng Dewi, mereka pun tidak sengaja bertemu Rio di koridor sekolah.
"Ini dari kakek," ujar Rio. Menyodorkan sebuah kotak cake, "Kakek bilang terima kasih, kalian boleh mampir jika ada waktu."
"Terima kasih Ka, salam buat kakek," jawab Nayra sambil tersenyum, lalu Rio pergi meninggalkan Nayra dan Dewi tanpa membalas senyum.
"Asem banget mukanya."
"Kasih gula terus kita ngerujak," ujar Nayra dan mereka terkekeh geli menertawakan Rio.
Berita Nayra dapat melihat hantu tersebar ke penjuru sekolah, semua orang memperhatikan Nayra serta berbisik-bisik membicarakannya.
"Kamu tidak apa-apa, Nay?"
"Tidak apa, santai saja, Wi."
Nayra segera duduk ketika sudah berada dikelas, dan menikmati cake pemberian kakek Rio berdua dengan Dewi. Ketua kelas mengumumkan bahwa akan menengok Dina Di rumah sakit sepulang sekolah nanti. Tentu saja Dewi dan Nayra ikut, meski tatapan tidak senang terpancar di wajah teman sekelasnya.
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit mereka yang datang sepuluh orang termasuk Nayra dan Dewi segera menuju ke ruangan Dina dirawat. Dina juga sempat menanyakan perihal payung merah yang dia pinjam.
Semua memperhatikan Dewi bercerita dan Nayra hanya diam mendengarkan, Nayra sedang merasakan alarm pada matanya dan pura-pura tidak melihat kearah yang tak kasat mata.