
Keesokan harinya, lagi-lagi rasa kekhawatiran itu timbul, tapi di mana makhluk itu berada, Nayra tidak juga menemukannya. Ingin bertanya pada Dina atau Dewi, mereka sedang di panggil oleh guru.
"Damar." kebetulan yang beruntung melihat Damar lewat di sampingnya.
“Ada apa?”
“Kamu tahu, siapa siswi yang kemarin?”
“Oh, dia itu murid baru, namanya Siska, anehnya dia itu dijauhi teman sekelasnya, kata teman-temannya, sih dia itu pandai berakting. Setiap jam pelajaran olahraga, pasti dia sakit atau pingsan, tapi setelah itu dia baik-baik saja.”
Nayra mengangguk mengerti. “Kelasnya yang mana?”
“Kelas dia dekat tangga.”
Nayra menepuk pundak Damar lalu pergi meninggalkan Damar.
“Nay, kamu mau ke mana?”
“Aku ingin lihat?”
“Tunggu! aku ikut.” teriaknya yang mengekori Nayra.
Nayra melihat di jendela, siswi itu sedang menumpu kepalanya di meja dengan tangannya. Tapi, Nayra tidak melihat apapun di sekitarnya.
“Bagaimana?”tanya Damar.
“Tidak ada,” ucap Nayra singkat yang menuruni tangga.
"Mau kemana?"
"WC, mau ikut?"
"Ogah." Damar menyilangkan tangan di dada dan Nayra terkekeh.
Saat Nayra berjalan sendirian, ia melihat Rio tepat di depannya. Nayra menunduk singkat untuk menyapanya, tapi Rio malah menghentikan langkah Nayra.
“Nayra.”
“Ya, Ka?”
“Kakek di rawat, sudah tiga hari, dia ingin bertemu denganmu.”
“Kakek sakit?”
“Iya, hal yang wajar untuk seusianya, ia ingin bertemu denganmu."
“Aku harus minta ijin dahulu.”
“Mmm, baiklah. Aku minta nomor ponselmu.” Rio memberikan ponselnya pada Nayra.
Nayra mengambilnya dan menekan nomor miliknya di ponsel Rio.
“Terima kasih, nanti aku hubungi. kamu save ya!”
“Baik Ka.”
Rio pamit dan meninggalkan Nayra, Nayra pun melanjutkan langkahnya menuju toilet.
Bel sekolah berbunyi, tanda jam pelajaran telah berakhir, semua murid berhamburan keluar kelas.
Deg! Jantung Nayra berdebar, matanya berkedut. Nayra bergegas keluar kelas mencari aura. Nayra teringat Siska dan segera mencarinya. Nayra berhasil menemukannya, namun sayang Siska sudah naik ke dalam taksi dan melaju begitu cepat menjauh darinya.
__ADS_1
'Apa itu tadi? sepertinya tangan, tangan yang hitam.'
“Ada apa Nayra?” tanya Rio yang mengikuti Nayra ketika melihatnya keluar dengan berlari.
“Tidak ada apa-apa, Ka.”
Tiga temannya pun berlari mendekat hingga napas mereka tersengal.
“Kenapa Nay, kenapa kamu berlari.”
“Aku mengejar Siska, sepertinya dia benar.”
Wajah mereka berubah tegang, namun mereka tampak mengangkat dadanya seperti siap bertempur.
“Kalian ini benar-benar, ya.” jengkel Nayra. Mereka bertiga melebarkan senyumnya.
“Show time,” ucap mereka kompak.
“Apanya,” ucap Nayra tampak kesal.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Rio penasaran.
“Mereka membuat klub misteri, dan mereka siap menangkap hantu,” ucap Nayra kesal.
Namun Rio menyunggingkan senyum,
“Apa aku boleh bergabung?”
“Hah?” kaget mereka kompak.
Rio hanya mengangkat alisnya sekali seraya tersenyum.
“Gila senyumnya,” ucap Dewi pelan di telinga Nayra.
“Bagaimana? Apa aku bisa bergabung?” Rio kembali bertanya.
“Boleh,” jawab riang Dewi dan Dina.
“Astaghfirullah, 2D ini,” Nayra menggelengkan kepalanya.
“3D,” ucap Rio.
Nayra terkekeh, “Aku lupa denganmu Damar.”
“Nay,”
Nayra menoleh ke Rio yang tubuhnya cukup tinggi untuk Nayra yang hanya 150 cm.
“Jangan lupa, kamu minta izin dengan orangtuamu, nanti segera hubungi aku.”
“Baik, Ka,” ucap Nayra seraya mengangguk.
“Ada apa dengan kalian, mau ke mana?” tanya Dewi penasaran.
“Kepo,” jawab ketus Rio. Dan Nayra malah terkekeh, Rio pergi meninggalkan mereka.
“Ka Rio! Kita sudah satu klub. Seharusnya Kaka lebih bersahabat!” ucap Dina.
Rio hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.
“Ah, payah orang itu, apa sebaiknya dia jangan di libatkan?”
__ADS_1
“Jangan, setidaknya aku ada temannya,” ucap Damar.
“Si es itu tidak akan ada gunanya,” Dina masih kesal.
Nayra terkekeh geli, membuat ketiga temannya menoleh, “Memangnya kalian berguna?”
“Nayra!” ucap ketiganya kesal.
Nayra sedang menikmati makan sorenya dan memikirkan Siska, murid baru di sekolahnya dan juga tangan hitam yang cepat menghilang ketika radar di matanya bergerak.
"Apakah dia itu, aku belum pernah melihat warna gelap yang seperti itu, seperti hangus terbakar."
ponselnya berbunyi, membuat Nayra segera menoleh ke ponsel yang dia taruh di meja. "Astaghfirullah, aku lupa."
Nayra meminta izin pada Syahla calon istri Adam yang saat ini sedang menemani Nayra dan Dewi, karena Adam dan Kinan sedang berada di luar kota karena urusan keluarga. Setelah di berikan izin Nayra segera memberi kabar pada Rio.
"Terima kasih Tante sudah memberi izin," ucap Rio yang datang menjemput Nayra.
"Jangan pulang larut malam, ya Nak Rio!"
"Baik Tante."
Setelah memakan waktu satu jam dengan motor, akhirnya mereka berdua sampai di rumah sakit. Mereka berjalan sedikit berjauhan seperti tidak saling mengenal, karena mereka merasa canggung, ini kali pertama mereka jalan berdua.
Ketika masuk ke dalam ruangan, Nayra kembali melihat sebuah bayangan yang sudah lama Nayra tak lihat, bayangan bening tak bisa digambarkan. Ia mencoba menyentuhnya kali ini, namun tidak ada hasil, bahkan mata Nayra tidak memberi sinyal.
"Assalamualaikum, Kakek?" ucap Nayra Seraya mencium punggung tangan kakek.
"Wa'alaikumsalam, lama tidak jumpa, ya?" suaranya bergetar.
"Iya kek."
"Bagaimana kabarmu?"
"Nayra, baik kek."
"Sepertinya, kakek akan segera bertemu teman-teman kakek."
'Sepertinya dia sudah tahu', ucap Nayra dalam hati.
Mereka meninggalkan kakek yang sudah tertidur. Di perjalanan menuju tempat parkir mereka saling mengobrol.
"Bagaimana dengan kakek, Nay?"
"Mmm, aku rasa Kaka sudah tahu jawabannya."
"Aku berharap kakek sehat kembali, karena aku hanya memiliki Kakek saja di dunia ini."
Nayra jadi merasa kasihan kepada ka Rio, bagaimana nantinya jika kakek pergi.
"Maksudnya aku sangat sayang kakek, orangtuaku bercerai dan sudah memiliki keluarga masing-masing, aku tidak ikut mereka karena aku tidak suka. Aku cuma menengadahkan tangan minta uang kesana kemari," ucap Rio. "Jadi kamu tenang saja jangan merasa bersedih seperti itu."
"Tetap saja kehilangan itu sangat menyedihkan, Ka."
"Iya, kamu benar, Nay."
"Kaka harus bersyukur masih ada keluarga. Dari pada aku, keluarga aku entah kemana. Alhamdulillah ada om Adam dan keluarga Dewi."
Rio menaruh tangannya di kepala Nayra. "Harus tetap bersyukur." Nayra mengangguk.
Mereka pergi ke tempat Siska yang sedang mengikuti les tata boga atau klub memasak. Setelah menjenguk Kakek. Aktivitas Siska sudah Nayra ketahui dari Damar setelah dia mencari informasi yang tepat. Nayra berjalan memasuki sebuah ruangan di bangunan yang diberi nama Gria Ilmu, di mana Siska melakukan les tata boga.
__ADS_1
"Cari siapa ya, Dek?" Seorang pria yang mungkin adalah gurunya menegur Nayra dan Rio.