
...sabar dong, Plen. author kan harus menghirup oksigen juga....
...nih, demi cintaku padamu, eh...pada kalian. aku kasih bab 40....
.
.
"Siapa, Wi?" tanya Nayra.
Dewi hanya mengangkat bahunya, lalu Deden menyusul keluar dari pintu di mana Dewi akan membuka knop pintu.
"Ka Deden!" teriak Dewi karena terkejut.
"Maaf Wi, Nay," ucap Deden pelan ketika berpapasan, Nayra sedikit menarik bibirnya untuk tersenyum. "Maaf, Ka Deden mau Mengantarkan teman dulu," ucapnya yang di anggukkan oleh Nayra, Deden kemudian meninggalkan rumah Dewa mengikuti gadis yang tadi keluar.
"Ka Deden suka kayanya sama kamu, terlihat dari gerak geriknya."
"Jangan menyakiti diri sendiri, Kamu kan yang suka padanya."
"Sok tahu," gerutu Dewi.
Nayra melangkah menuju rumahnya entah kenapa perasaannya tidak enak. "Ada apa ini?" tanyanya sambil berjalan memasuki rumah.
Dua hari setelah itu suara batuk kering terdengar di kamar Dewa, Kinan yang sedang menata makanan untuk sarapan sampai menoleh ke atas di mana kamar anak-anaknya berada.
"Kaka!" Kinan berteriak memanggil anak pertamanya. Suara batuk terdengar terus menerus tiada henti, Dewi yang berada di sebelah kamar Dewa menjadi khawatir.
"Kak, Ka Dewa." Dewi mencoba masuk dengan mendorong pintu kamar Dewa yang sedikit terbuka. "Kaka!" teriak Dewi menghampiri Dewa yang sedang meringkuk di lantai. "Mami!" teriak Dewi memanggil Kinan.
Kinan yang sejak tadi khawatir langsung naik ke kamar Dewa dengan berlari. "Kak, Kaka kenapa?" Kinan meraih Dewa yang terus terbatuk-batuk.
Dewi turun ke bawah hendak mengambilkan air untuk Dewa, dan segera kembali naik untuk memberikan air itu kepada Dewa, Dewa meminum air sampai tersedak karena batuknya tidak bisa berhenti.
"Dewi cepat Panggil Om Adam!" pinta Kinan pada Dewi. Sementara di rumah Adam, Nayra dan Adam sedang menikmati sarapannya.
"Om Adam! Tolong!" teriak Dewi sambil berlari yang dari halaman belakang.
Adam yang disebut namanya langsung menoleh, dada Nayra langsung berdegup saat mendengar Dewi berteriak, Nayra pun semakin merasa ada yang aneh ketika melihat Dewi datang dengan wajah paniknya. "Ada apa?" ucap Adam seraya bangkit dari duduknya.
"Kaka Om, Ka Dewa," ucap Dewi terbata dengan menunjukkan jari kearah rumahnya, Adam langsung berlari menuju rumah Kinan.
__ADS_1
Nayra pun ikut berlari dengan meraih tangan Dewi yang hampir menangis. Dadanya sesak saat Kaki Nayra memasuki rumah Kinan, seluruh ruangan penuh dengan kabut asap sama seperti di rumah Siska.
Dewi terus berlari ke atas meninggalkan Nayra yang masih terdiam. "Kaka!" teriak Kinan menyadarkan Nayra yang langsung menoleh ke atas dan berlari menuju Dewa.
Kabut di atas lebih pekat dan matanya mulai merasa ada sesuatu di sekitar dirinya. "Gak mungkin," ucap Nayra ketika melihat Dewa yang dililit kabut. Anehnya Kedua Mata Nayra menjadi merah, tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Ayo cepat bawa ke rumah sakit," ajak Adam yang mencoba mengangkat tubuh Dewa, tapi Nayra menghentikan Adam. Dia terkejut Melihat Nayra dengan mata yang memerah "Nayra," ucap Adam pelan.
Nayra yang seperti bukan dirinya menekan kedua pipi Dewa dengan satu tangannya lalu memasukkan tangan yang satunya ke dalam mulut Dewa.
"Nayra!" teriak Kinan dan Dewi berbarengan.
"Oek!" Dewa mengeluarkan suara seperti hendak muntah dan semua panik ketika Nayra mengeluarkan sesuatu dari mulut Dewa, gulungan kecil berwarna hitam keluar dari mulut Dewa dan itu rambut.
Dewa berhenti dari batuknya tapi tenggorokannya menjadi kering "Minum," pinta Dewa dengan suara bergetar.
Dewi memberikan gelas berisi air yang berada di dekatnya dan memberikannya kepada Dewa. Setelah Dewa minum Dewa kembali batuk hingga memuntahkan beberapa rambut dari mulutnya dengan bercak darah yang jatuh ke lantai.
Kinan berteriak histeris, Adam langsung mengangkat Dewa dan membawanya ke rumah sakit meninggalkan Nayra yang terdiam seorang diri di kamar Dewa.
Nayra menarik panjang napasnya dan tersadar, matanya berubah normal, "Apa itu tadi?" Nayra bangkit dan keluar dari kamar Dewa.
Nayra menyusul ke rumah sakit dengan taksi online yang dipesannya. Sesampainya di rumah sakit Dewa sedang di infus dan tertidur di ruang UGD.
Adam dan Kinan menoleh ke arah mereka berdua ketika Dewi menyebutkan kata Mira dan Arga karena mereka tau apa yang dimaksud Dewi. Nayra mengangguk, Dewi dan Kinan makin terisak dengan Adam memeluk Kinan.
Dewa sudah memasuki ruang rawat, dia masih tertidur pulas saat di bawa ke dalam ruangan.
"Sebaiknya kalian pulang, bawakan beberapa baju untuk kami," ucap Adam pada Nayra dan Dewi.
"Maaf Om, Nayra di sini saja, sebentar lagi Ka Dewa akan sadar." Ucap Nayra yang terus melihat ke arah Dewa.
Benar saja Dewa mendadak membuka matanya dan merasa mual. "Oek oek." Tidak ada yang keluar selain cairan kental berwarna hijau muda seperti sirop.
Nayra menghampiri Dewa dan kembali bertindak aneh dengan kedua matanya yang memerah, dia memasukkan paksa tangannya ke mulut Dewa dan kembali mendapatkan gulungan rambut.
"Sial," ucap Nayra marah dengan suara yang bukan Nayra. "Binasalah kau." Nayra kembali berucap dengan menarik wajah Dewa kedekatannya.
Anehnya Dewa malah terkekeh dengan suara yang berat. "Ternyata orang yang di cari berada di sini." Lalu Dewa kembali tertawa terbahak-bahak dengan keras. Ruangan Dewa kini tampak begitu terasa dingin, hingga bulu kuduk mereka naik.
"Keluar kau, menjauh darinya," ucap Nayra memukul keras kening Dewa hingga Dewa terlentang dan meregangkan tubuhnya.
__ADS_1
"Nayra jangan kasar sama Dewa," ucap Kinan sambil menangis. Dewa terus meregangkan tubuhnya dengan setengah bangun, mata Dewa berubah hitam kelam membuat Kinan menjerit ketakutan.
Nayra yang tidak memedulikan permintaan Kinan malah menekan dada Dewa untuk merebahkan tubuhnya keranjang.
"Setan!" teriak Dewa dengan suara beratnya.
"Kau yang setan, keluar atau aku buat kau mati!" ujar Nayra marah.
Dewa makin terkekeh membuat Nayra kesal dan menaruh tangan satunya ke kepala Dewa, mulut Nayra mengeluarkan suara gesekan seperti batang bambu yang saling mengadu.
Dewa berteriak keras sampai bangkit duduk, tangan Nayra tidak lepas di dada dan kepala Dewa dan mulutnya bergumam seperti membaca mantra hingga Dewa menarik napas panjang dan jatuh keranjang.
Dewa yang sadar tampak lemas, Nayra kembali lagi dengan kesadarannya. Nayra keluar dari kamar rawat Dewa dan mencari kontak di ponselnya. Nayra menekan call pada nama Deden. Hampir satu menit kemudian panggilan itu diangkat oleh Deden.
"Hallo Nay, maaf Kaka baru bangun."
"Kak Deden, kak Dewa masuk rumah sakit."
"Kenapa?" Suara Deden tampak panik.
"Boleh Nayra bertanya?"
"Apa itu?"
"Ada hubungan apa Ka Dewa dengan gadis yang kemarin?"
"Laura?"
"Mmm" mengiyakan
"Apa hubungannya dengan Laura, Nay?"
.
.
.
.
bersambung ....
__ADS_1
...author mau panggilan alam dulu, ya? besok di lanjut....