Netra Merah

Netra Merah
Jejak Nayra


__ADS_3

Suara bel pintu terdengar dari arah depan, Nayra yang duduk di teras belakang menoleh, dia melihat Siti yang berjalan menuju pintu.


"Neng ada tamu di luar mencari Neng," ucap siti yang baru saja menghampiri Nayra. "Katanya polisi."


Nayra segera menuju ruang tamu dan Siti ke dapur untuk mengambilkan hidangan. Nayra mengenali polisi itu, dia Burhan.


"Apa kabarmu Nayra," ucapnya dengan tidak melepas senyum di wajahnya yang hampir menua.


"Alhamdulillah baik, Pak," jawab Nayra. Menjabat tangan polisi itu. "Silahkan duduk."


"Terima kasih, Pak Adam ada?"


"Sedang berada di rumah sakit, nanti malam baru pulang."


Polisi itu mengangguk tanda mengerti. "Ada kabar yang ingin saya sampaikan kepada pak Adam," ucap Burhan.


"Apa mengenai keluarga Nayra?" Tanya Nayra asal menebak. Burhan mengiyakan. "Katakan pak, Nayra ingin dengar."


"Tapi saya perlu menemui Pak Adam terlebih dahulu."


🍇🍇🍇


Adam menoleh ke arah Nayra yang duduk di samping kemudi dengan wajah gelisah, dia menggenggam tangan Nayra dan Nayra tersenyum. Ketika sampai di kantor polisi, pak Burhan langsung menyambut kedatangan Nayra dan Adam.


"Kami menemukan tempat tinggal Nayra," ucap Burhan.

__ADS_1


Nayra terlihat senang, pada akhirnya dirinya tau di mana keluarganya. Ternyata Nayra berasal dari Banyuwangi dan keturunan suku Osing.


Adam memandang Nayra aneh. "Apa yang kamu cari di jakarta?" Nayra hanya mengangkat bahu.


Malam harinya mereka menuju Banyuwangi bersama Burhan, mereka menginap dahulu ketika sampai di Banyuwangi.


Esok harinya, Ketika Nayra menginjakkan kaki di dusun Kedaleman Kemiren mata Nayra berdetak dengan ritme yang seirama dengan jantungnya, Nayra gelisah tak menentu.


Pak Burhan dan Adam turun menemui kepala adat dan RT setempat sedangkan Nayra tetap berada di mobil, tangannya sudah mulai dingin, suasana di dusun itu membuat Nayra tidak tenang.


Kepala suku itu menceritakan sejarah keluarga Nayra yang sudah meninggal dan entah apa penyebabnya karena keluarga Nayra di temukan tewas mengenaskan di dalam rumahnya dan menyisakan Nayra yang tergeletak di dalam hutan.


Beberapa tahun lalu Nayra masih tinggal di sini sebagai seorang dukun yang sering mengobati serta perantara dengan makhluk gaib, Kemudian menghilang tanpa jejak.


Para warga di dusun menyambut kedatangan Nayra dengan baik, tetapi Nayra tidak mengenali siapa pun di dusun itu, Adam dan Burhan menjelaskan keadaan Nayra sekarang kepada warga desa.


Nayra melihat banyak sosok di dalam rumahnya tetapi Nayra berpura-pura tak melihat karena wajah mereka menyeramkan, bahkan tercium aroma bau busuk.


Nayra menyentuh setiap inci benda yang ada di rumahnya, seakan dirinya pernah menggunakan benda-benda tersebut sebelumnya. Bahkan Nayra membakar benda kecil seperti kamper dengan aroma yang sangat menyengat.


Orang-orang yang mengikuti Nayra mulai merinding seakan makhluk astral menyambut kedatangan Nayra. Terdengar suara berbisik di telinga Nayra, dan Nayra hanya tersenyum tipis merasa malu akan dirinya dulu.


Sebuah ingatan terlihat bagai sebuah film yang diputar di dalam pikirannya. Bagaimana keluarganya mati di serang benda gaib yang sangat kuat, Nayra berusaha lari kedalam hutan dan pingsan karena kelelahan.


Nayra membuka lemari dengan sebuah kotak di dalam, berisikan benda pusaka seperti keris kecil seukuran jarinya. Mata Nayra yang kini normal tanpa softlens karena bantuan pak Urabe berubah menjadi merah, memandang lekat pusaka keris yang kecil-kecil di hadapannya lalu pusaka itu mengeluarkan gemercik api, Nayra lalu melepaskannya hingga jatuh ke lantai yang masih beralaskan tanah.

__ADS_1


Mereka segera keluar rumah karena api mulai membesar, Adam menarik Nayra keluar, rumah yang berdinding bilik itu terbakar semua. Penduduk dusun berusaha memadamkan api tapi justru semakin membesar.


Nayra mengangkat kedua tangan lalu perlahan turun diikuti api yang sedikit demi sedikit padam, ketika tangan Nayra turun sempurna di sampingnya, rumah kecil itu ambruk, Nayra terdiam dengan tatapan kosong.


Di perjalanan pulang Nayra terdiam, 'Apakah aku seorang dukun yang suka melakukan teluh atau santet pada orang lain'


Walaupun warga di dusun mengatakan Nayra dan keluarganya hanya membantu menyembuhkan penyakit yang tidak jelas, namun Nayra berpikir dirinya juga pasti menyakiti orang lain.


Dewa yang melihat Nayra langsung menarik Nayla dan memeluknya, ditepuk-tepuk punggung Nayra seakan menenangkan dirinya. "Kamu itu anak baik Nayra, kamu tidak sejahat yang kamu pikirkan," ucap Dewa seakan membaca isi hati Nayra. Nayra menangis sampai tertidur di pundak Dewa. Adam pun ikut sedih memikirkan nasib Nayra.


Mereka kembali ke hotel pikiran Nayra masih mengganggu, mengapa dia pergi dari dusun itu, ada apa dan ke mana.


"Pak Burhan bagaimana Anda bisa menemukan asal usul saya sampai ke Banyuwangi?" tanya Nayra.


Burhan tampak bingung untuk menjelaskan kepada Nayra, karena semua terlihat tidak masuk akal untuknya. Tapi dia melihat langsung perbuatan Nayra tadi di dusun membuat dia yakin bahwa semuanya benar.


"Kantor polisi didatangi seorang Nenek yang mengatakan dia adalah kerabatmu dan memiliki alamat serta fotomu Nayra." Burhan mengeluarkan sebuah map coklat yang berisi foto dan alamat di Banyuwangi.


"Seorang Nenek?" Nayra menerima amplop tersebut. [Aku harap bukan Nenek yang waktu itu bertemu denganku di halte bus bersama Dewi]


"Dari yang menerima amplop berkata demikian, namun anehnya ketika memutar CCTV tidak ada yang mengantarkan amplop, hanya terlihat seorang petugas dengan amplop ditangannya." Mereka bertiga tampak kebingungan. "Tidak masuk akal bukan?, Tapi memang seperti itu kenyataannya" Burhan menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya. "Sebelum saya menemui Nayra dan Adam, saya sudah menuju Banyuwangi untuk memastikan dulu, ternyata benar kamu berasal dari sana, tapi anehnya tidak ada satu orang pun yang bisa masuk ke tempat tinggal mu seperti ada mantra yang melindungi rumahmu, saya sempat terkejut tadi ketika kita bisa masuk ke dalam."


Nayra masih belum tahu penyebab dia pergi dari Banyuwangi sampai kecelakaan itu terjadi. "Apa ada sesuatu yang harus aku capai sampai aku pergi dari Banyuwangi," ucap Nayra dalam hati.


Keesokan harinya Nayra dan yang lain kembali ke Jakarta. Nayra tampak sedih karena harus kembali tanpa membuahkan hasil, namun kini Nayra tahu dari mana dia berasal.

__ADS_1


Semenjak kembali dari Banyuwangi, penglihatan Nayra makin jelas saat melihat keberadaan makhluk astral. Dengan mata yang tetap menjadi alarm. Nayra juga mampu menghindari makhluk agar dapat terhindar dari urusan mereka. Beberapa bulan lagi, Adam akan menikah dengan pujaan hatinya, Nayra ikut mempersiapkan acara untuk menyambut ibu baru bagi Nayra.


__ADS_2