
Petugas keamanan rumah sakit bingung dengan kedatangan Adam, Adam menjelaskan dan juga meminta di antar ke tempat tujuan, petugas keamanan merasa hal yang dialami Adam itu sudah biasa terjadi oleh karyawan rumah sakit.
"Kita mau ke mana, Nay?" tanya Dewa.
Nayra mengangkat bahunya, "Enggak tahu Ka, dia ada di depan kita."
Mereka terus berjalan sampai berhenti di depan kamar bertuliskan KAMAR MAYAT. Nayra bergidik ketakutan sambil memegang lengan Dewa, dia tidak hanya melihat wanita itu saja, tetapi juga yang lainnya dengan wajah yang menyeramkan.
Wanita itu berdiri di depan kamar mayat, tidak melakukan apa-apa hanya diam mematung.
"Apa urusan kita sudah selesai?" tanya Adam.
"Ga tahu, Om," jawab Dewa.
"Dia Cuma diam berdiri di sana." Nayra menunjuk ke arah wanita itu dengan tangan yang lain.
"Ayo kita kembali, ini sudah larut!" pinta Adam.
Nayra mengikuti ajakan Adam, Nayra sempatkan menoleh ke arah wanita itu, mereka saling melihat satu sama lain. Di sepanjang koridor rumah sakit Nayra menunduk untuk mengurangi rasa ngerinya, karena banyak sosok menyeramkan.
Sesampainya di rumah Nayra di rangkul Dewi dan duduk di ruang TV bersampingan dengan Kinan, mereka bertanya apa yang terjadi di rumah sakit.
"Tidak ada kejadian apa-apa, Tante. Dia hanya berhenti di kamar mayat, semoga dia enggak ikut lagi kesini dan mengetuk pintu rumah."
"Aamiin," mengucap bersamaan.
Nayra menceritakan pertemuan pertamanya dengan wanita itu kepada semuanya.
"Lain kali kalo lihat kaya gitu jangan di ajak bicara, kamu cuekin saja," ucap Dewa.
"Nayra mana tahu, Ka. Itu manusia apa hantu."
"Iya, juga sih."
Nayra mengepak beberapa pakaian di bantu Siti, dia bersiap akan ke Singapura bersama Adam.
"Semoga Dokter mata di sana punya obat untuk menyembuhkan mata Neng Nayra, ya," ucap Siti.
"Aamiin, semoga ya, Mbak."
Mereka berangkat ke bandara di antar Dewa dan Dewi. Dewa berbisik pada Nayra. "Pulang nanti jangan bawa siapa-siapa ya, jauh nganterinnya." Dewa terkekeh sedangkan Nayra mencebikkan bibirnya.
Teror ketuk pintu kini tidak lagi terdengar beritanya. Pengalaman pertama Nayra hari itu membuat Nayra lebih sering menunduk jika di tempat umum, Nayra pun tidak cerita setiap kali dia melihat sosok astral di dekatnya. Nayra berpikir cukup malam itu saja makhluk astral merepotkan keluarganya.
__ADS_1
Sudah satu bulan Nayra kembali dari Singapura, Dokter mata terbaik di Sana menyatakan hasil pemeriksaan matanya tidak ada kelainan apa pun. Bahkan kini rumah sakit di sana melakukan penelitian pada mata Nayra.
Satu Minggu setelahnya Adam mendaftarkan les BIMBEL untuk Nayra, supaya Nayra memiliki kesibukan dan menambah pengetahuan. Kali ini dia harus pulang sendiri, Adam tidak bisa menjemputnya karena ada keperluan, Nayra mengambil jalan memutar karena jalan biasa sedang ada acara persiapan pernikahan salah satu penghuni kompleks.
Di kompleks perumahan yang sekarang, masih banyak rumah yang belum diisi oleh pemiliknya, rumah di sana adalah hunian menengah ke atas. Memiliki taman luas bahkan ada yang memiliki kolam renang pribadi, sudah ke bayangkan bagaimana gelapnya jika satu rumah saja tidak ada cahaya lampu.
Nayra terus berjalan seorang diri melewati gang yang pencahayaannya sedikit redup, sekumpulan remaja sedang nongkrong seraya bernyanyi di depan rumah kosong tepat di depan Nayra. Mata Nayra berkedut pelan ketika mendekati mereka yang asyik bersenandung.
Seorang remaja mendekati Nayra yang hendak melewati mereka.
"Hey, baru pulang ya?" Dia berdiri tepat di depan Nayra.
"Iya."
"Rumahnya di mana? " Nayra dan anak itu mengobrol sambil berjalan.
"Di belakang, Ka."
"Aku kok, baru liat. Kamu anak baru, ya?"
"Iya."
"Oh, namanya siapa?"
"Oh, Nayra." Teman-temannya bersorak.
Nayra melihat bayangan hitam bertubuh tinggi dan besar berdiri tegap di antara mereka, Nayra menunduk karena takut, namun matanya memaksa diri untuk melirik ke arah bayangan hitam yang berada diantara mereka, seakan mata Nayra mengendalikannya sendiri.
Terlihat jelas bayangan itu memiliki mata yang merah dan gigi taring yang panjang, Nayra bergidik ngeri. Nayra harus berjalan dengan menundukkan, mata Nayra semakin kencang berkedut seakan mata itu ingin keluar dari tempatnya, Nayra langsung memegangi mata kanannya.
"Woy, takut tuh dia, sudah jangan," teriak salah satu temannya yang duduk tak jauh dari bayangan hitam.
"Kan, Cuma kenalan." Teriak balik orang yang berjalan di sebelah Nayra.
"Memangnya kamu takut sama kita-kita."
"Ngga Ka, tapi Ka, teman Kakak yang di sana itu menyeramkan."
"Yang mana?" pemuda di samping Nayra menoleh kearah teman-temannya.
"Teman aku ganteng semua enggak ada yang seram, kok." Dia tersenyum.
Bayangan hitam itu terlihat marah dan dia berteriak hingga memekakkan telinga, sampai Nayra merasa sakit di telinga dan menutupnya.
__ADS_1
"Kamu, kenapa sih?"
"Maaf, Ka. Aku duluan, ya!" Nayra terus berlari menjauhi anak-anak itu.
"Aneh itu cewek."
Salah satu dari mereka tertawa, "Takut kan dia sama, kamu."
Terdengar suara benda jatuh berasal dari belakang mereka. Para pemuda itu menengok dan mencari-cari benda apa yang baru saja jatuh.
"Apa tuh?!" Mereka semua terkejut. Tapi mereka tertawa karena merasa lucu, suara benda jatuh terulang lagi semakin keras, dan mereka berlarian melarikan diri, entah apa yang mereka lihat.
Nayra melihat dari jauh ketika para pemuda itu berlarian, dia sempat bingung, namun Nayra meneruskan langkah kakinya ketika bayangan hitam itu berdiri di tengah jalan, Nayra ketakutan hingga berlari.
Nayra masuk rumah dengan napas yang tersengal.
"Baru saja, Om mau jemput, kamu." Suara Adam membuat Nayra terkejut.
"Kamu kenapa Nay, kok pucat. Kamu sakit?" Adam mendekati Nayra.
"Ga apa-apa, Om."
Adam membawa Nayra duduk, kemudian Adam memeriksa mata Nayra, "Pakai softlens sakit, enggak?"
"Ngga Om, Cuma kering saja, jadi suka pegal, sebenarnya tadi mata Nayra berkedut lagi Om, enggak bikin sakit hanya saja aku takut mata ini keluar dari tempatnya."
"Apa ada yang kamu lihat?" Nayra menggeleng.
"Syukurlah, sebaiknya kamu istirahat."
"Iya Om." Nayra naik ke kamarnya untuk beristirahat karena hari sudah malam.
Pagi harinya Nayra diantar oleh adam ke tempat les, Nayra bisa memakan waktu seharian untuk les saja. Tidak ada bedanya dengan anak sekolah, Nayra tidak keberatan bahkan dia senang, dia jadi dapat teman baru.
Nayra melewati rumah kosong di mana bayangan hitam itu berada semalam, dia sempatkan untuk melirik kearah rumah, namun dia tidak mendapati bayangan hitam itu.
"Nay," panggilan adam membuyarkan pandangannya.
"Ya, Om." Nayra menoleh kearah Adam.
"Lihat apa?"
"Ga ada, Om."
__ADS_1
"Nanti pulang les Om jemput, ya. Kita makan malam di luar." Nayra mengangguk.