Netra Merah

Netra Merah
Cermin part 2


__ADS_3

"Nayra! Ada apa?" Panik Dewi. Damar dan Dina jadi ikut panik.


"Kumat," ucap salah satu dari mereka.


"Kesurupan kali," ucap yang lain.


"Nay, Ada apa?" tanya Dewi.


"Dengarkan aku, di mimpiku akan ada kebakaran, jangan ke kantin tapi keluar gedung sekolah, ayo cepat!"


Nayra menarik Dewi keluar kelas, Dina dan Damar pun mengikuti. Debaran jantung Nayra semakin kuat, hingga Nayra memegang dada kirinya dengan terus menarik Dewi.


Saat Nayra berada di area lapangan, Nayra melihat pak satpam dan Tatsuo berlari mendekati Nayra. "Cepat!"


Suara teriakan terdengar dari arah kantin, ternyata asap sudah mengepul di udara. Semua orang menjerit berlarian.


Dewi, Damar dan Dina berhasil keluar.


"Ayo cepat!" teriak Tatsuo menarik lengan Nayra.


"Aku harus selamatkan seseorang," ucap Nayra.


"Akan ada ledakan," jelas Tatsuo.


Nayra tidak peduli dengan perkataan Tatsuo, dia masuk ke dalam kantin karena Nayra melihat satu orang yang pingsan di mimpinya, benar saja dia Harto pedagang bakso di kantin.


Nayra mencoba menariknya dengan susah payah, Tatsuya juga ikut masuk dan membantu Nayra menarik tubuh Harto dan mereka berhasil mengeluarkannya.


Tiba-tiba Rio berlari mendekati Nayra dan menangkapnya hingga jatuh berjongkok, suara ledakan terdengar keras dari kantin hingga asap panasnya tertiup kearah dimana Nayra dan temannya berada.


Semua orang berusaha memadamkan api sebelum petugas pemadam datang, membutuhkan waktu satu jam api dapat padam tanpa ada korban jiwa, hanya pak Harto yang kini dibawa ke rumah sakit.


🍇🍇🍇


Setelah kejadian kebakaran di sekolah, garis polisi terlihat memagari kantin. Nayra baru saja kembali dari ruang guru karena habis diwawancarai oleh polisi, Semua membicarakan Nayra sejak itu, mereka bersyukur karena ikut berlari keluar saat melihat Nayra menarik Dewi.


Dia berjalan sembari menunduk seorang diri, tanpa sengaja Nayra menubruk tubuh tinggi di depannya.


"Kalau jalan jangan menunduk saja," suara ketus terdengar dari pemilik tubuh tinggi di hadapan Nayra.


"Maaf," ucap Nayra pelan seraya mendongak. "Eh, Ka Rio."

__ADS_1


Rio menyunggingkan sedikit senyuman. "Kamu kehilangan koin?"


"Enggak," ujar Nayra sedikit bergeser ke kiri.


"Jangan meleng kalau jalan," ucap Rio dengan mengusap kepala Nayra lalu berjalan.


Nayra meneruskan langkahnya.


Namun, Nayra menjerit seraya berjongkok, dia terkejut melihat bayangan di hadapannya yang kemudian menghilang.


Rio bergegas menghampiri, "Kenapa?" Rio berjongkok di hadapan Nayra yang sedang menutup telinganya, semua murid melihat kearah mereka. "Ada apa, apa kamu melihat hantu?" tanya Rio pelan dengan memegang kedua tangan Nayra yang masih menutup telinganya.


"Hantu? Ini bukan hantu, mataku tidak berkedut," ucap Nayra pelan sembari menggeleng.


Rio membantu Nayra berdiri dan mengantarnya masuk ke kelas. "Apa kamu mau ke UKS, saja?" ajak Rio. Nayra menggelengkan kepalanya sekali lagi.


Keesokan harinya, Tatsuo menunggu Nayra di depan sekolah, Dia menundukkan kepala ke arah Nayra ketika bertemu, Nayra pun membalasnya.


"Terima kasih Anda sudah membantuku kemarin," ucap Nayra.


Tatsuo mengangguk. "Pak Urabe ingin bertemu denganmu segera."


"Soal roh jahat yang Anda maksudkan waktu itu?"


"Bagaimana dengan hari Minggu?" ucap Nayra, karena sedikit percaya dengan kata-kata Tatsuo.


"Baiklah, saya akan menunggu Anda."


"Tentukan saja di mana tempat yang baik."


"Boleh saya meminta nomor Anda?"


Tatsuo menyodorkan ponselnya, Nayra mengambil lalu menekan tombol di dalam ponsel milik Tatsuo.


"Terima kasih," ucap Tatsuo. Setelah itu Tatsuo pun pamit.


Kelas 11.E siang ini pelajaran olahraga, Nayra dan teman yang lain sudah berada di lapangan. Setelah selesai Nayra berganti pakaian di toilet, semuanya sudah berganti dan langsung beristirahat, Nayra hanya sendirian, karena sebagian dari mereka langsung berburu makanan di seberang sekolah. Karena kantin masih tutup.


Mata Nayra berkedut ketika keluar dari bilik salah satu toilet. Sebuah bayangan hitam muncul di kaca toilet tepat di hadapannya, Nayra terpaku memandang kaca cermin.


Terdengar suara gesekan benda tajam, bayangan itu mengangkat tangannya dan mengayunkan benda tajam kearah Nayra, Nayra menjerit. Dalam keadaan panik dan takut dia menunduk dan melindungi kepala dengan tangannya.

__ADS_1


Seseorang yang lewat tepat di depan toilet masuk dan melihat Nayra sedang berjongkok, "Kenapa denganmu, Nay?" tanyanya.


Nayra menurunkan tangannya dan kembali melihat kearah cermin di hadapannya, bayangan itu sudah tidak ada.


Ternyata dia Lilis teman sekelas Nayra, dia membantu Nayra berdiri dan terkejut dengan luka di tangan Nayra.


"Tangan kamu berdarah, Nay, kamu tidak apa?" tanya Lilis.


Nayra mendesis karena merasa perih dan melihat luka sayatan yang panjang menggores tangannya. 'Apa itu tadi' tanya Nayra dalam hati.


Lilis mengambil tisu di sakunya dan menempelkan pada luka Nayra, "Ayo ke UKS," ajak Lilis.


Nayra bertemu Rio yang sedang merapikan ruang UKS bersama anggota PMR, dia panik ketika Nayra dipapah temannya. "Kenapa kamu?" tanya Rio.


"Kena pecahan kaca, Ka," jawab Nayra dengan tersenyum, Rio menatap wajah Nayra dengan wajah judesnya.


"Ada-ada saja kamu, Nay," oceh Rio seraya mengobati lengan Nayra.


Hari Minggu Nayra sudah rapi, Nayra akan bertemu dengan Tatsuo tanpa Adam tahu.


"Mau ke mana?" Dewa memergoki Nayra yang diam-diam keluar rumah.


"Ka Dewa."


"Mau ke mana?"


"Kaka sehat?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Dewi sudah cerita, kamu jangan macam-macam, ya."


"Nayra tidak ingin melibatkan kalian lagi, Ka," ujar Nayra yang tertunduk.


"Ayo naik, Kaka antar." Dewa berjalan kearah mobilnya, Nayra pun terpaksa mengikuti.


Selama di perjalanan, Nayra menceritakan semua kejadian yang berlangsung beberapa hari ini pada Dewa termasuk luka ditangannya.


Nayra bertemu dengan Tatsuo di persimpangan jalan, kemudian mereka lanjut lagi ke tempat pak Urabe berada. Mereka berhenti di sebuah wihara yang cukup besar, dengan gedung sekolah di belakang wihara tersebut. Nayra mulai memasuki wihara, saat pintu dibuka sudah terlihat patung Budha yang besar dan tinggi.


Seorang pria duduk bersila dengan tasbih besar ditangannya, Tatsuo memberi isyarat kepada Nayra untuk menunggu, kemudian Tatsuo menghampiri pria tersebut.


Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Nayra, Nayra membungkukkan badan begitu juga dirinya, dia memperkenalkan dirinya memakai bahasa Jepang yang kemudian diartikan ke bahasa Indonesia oleh Tatsuo.

__ADS_1


Lebih dari 100 tahun yang lalu seorang pria di Jepang membunuh 10 gadis di kampungnya demi sebuah ritual, yang kemudian pria itu meninggal karena di amuk oleh penduduk kampung menggunakan sabit hingga tewas.


Di sisa napas terakhirnya pria tersebut mengutuk warga kampung dan akan membalaskan dendamnya. Setelah kematian pria tersebut, rohnya selalu mengganggu dan melukai para penduduk kampung dengan membawa sabit, roh tersebut di Jepang disebut kamaitachi.


__ADS_2