
Terlihat mobil mendekat lalu keluar seorang pria dengan membawa payung berwarna Hitam, ternyata sopir Dewi sudah datang. Saat Nayra hendak masuk ke dalam mobil matanya mendadak berdenyut hingga mengeluarkan bercak darah pada eyepatch miliknya. Dewi yang panik segera membawa Nayra menemui Adam di rumah sakit.
"Seharusnya kita tadi telepon Om Adam dulu, Wi."
"Aku panik lihat darah dari mata kamu, Nay."
Adam langsung keluar dan bertanya. "Nayra, ada apa?"
"Ini Om, mata Nayra keluar darah." Bisik Dewi tidak ingin ada yang mendengar.
Adam melihat mata Nayra sebentar, "Apa kamu bisa menunggu sebentar, ada dua pasien yang masih menunggu?"
"Iya Om, Nayra akan menunggu."
Setelah hampir tujuh puluh menit akhirnya Adam membawa Nayra masuk ke ruangannya dan di bukanya eyepatch milik Nayra, Dewi terkejut hingga membulatkan matanya melihat mata merah milik Nayra.
"Maaf ya, Wi. Om dan Nayra merahasiakannya, mata ini Nayra dapat setelah kecelakaan terjadi."
Lalu Adam menceritakan awal pertemuannya dengan Nayra dan Adam meminta Dewi untuk merahasiakannya kepada keluarga besar Seperti Dewa dan Siti waktu itu.
"Jangan-jangan mata kamu ini yang bisa melihat hantu?" ucap Dewi berbisik dan Nayra mengangguk.
Keesokan harinya Dina tidak masuk sekolah karena sakit mungkin karena kehujanan kemarin, saat jam istirahat pak Kardi satpam sekolah mencari Nayra di kantin. "Dek, Dek temanmu yang kemarin pinjam payung mana? Tadi pagi ada wanita yang meminta payungnya kembali sambil marah-marah," tukas Kardi.
"Dia tidak sekolah, Pak. Karena sakit."
"Aduh, dia bilang nanti akan datang lagi untuk mengambilnya."
Lalu pak kardi kembali ke posnya. Nayra serta Dewi kembali menikmati makanannya. Saat selesai jam istirahat datang seorang wanita muda menangis sambil marah-marah kepada Pak Kardi meminta payungnya kembali.
Wanita itu jadi tonton murid-murid yang hendak masuk ke kelas, wanita itu semakin histeris saja. Dewi dan Nayra jadi penasaran lalu mendekati kerumunan. Seketika mata Nayra berkedut saat pandangannya dan wanita itu bertemu.
Wanita itu berusaha mendekati kerumunan murid di mana Nayra berdiri, tapi wanita itu langsung pingsan di tempat. Nayra memegangi matanya, Dewi yang melihat jadi khawatir, "Kamu tidak apa, Nay?"
"Ayo, kita masuk, Wi." Mereka berdua meninggalkan kerumunan.
Pak Kardi dan guru yang berada di sana membawa masuk wanita muda itu ke dalam pos, guru yang lain membubarkan murid-muridnya untuk masuk kelas.
"Masa Cuma gara-gara payung dia marah-marah, gak lucu kan."
"Payung warisan keluarganya kali."
"Bisa jadi Payungnya bergagang emas."
__ADS_1
"Orang gila kali."
"Memangnya siapa sih, yang ambil payungnya?"
"Kata Pak Kardi dipinjam salah satu murid kelas satu."
Begitulah mereka membicarakan payung yang dipinjam Dina kemarin. Saat Nayra dan Dewi pulang wanita itu sudah tidak ada, Nayra mendengarkan beberapa murid senior sedang bertanya kepada Pak Kardi yang sebenarnya terjadi. Kata Pak Kardi dia wanita kedua yang datang meminta payungnya.
Saat Nayra melewati gerbang mata Nayra kembali berkedut, Nayra langsung memegang matanya lagi.
"Kenapa lagi? "
"Ga tau nih, Wi."
"Coba sini aku lihat." Dewi terhenyak karena mata Nayra benar-benar berdenyut pelan seperti menonton detak jantung melalui rekaman video di Youtube.
Saat itu Nayra melihat bayangan yang entah itu apa berdiri tepat dipagar sekolah persis di belakang Dewi. Nayra berkedip dua kali untuk menegaskan apa yang dia lihat tapi masih tidak jelas.
Sudah hari ketiga masa orientasi selesai dan Dina belum juga masuk sekolah. Saat Nayra dan Dewi datang ke sekolah ada keributan di depan sekolah
"Saya mau payung saya cepat!"
"Maaf, Mbak. Tapi yang membawa payungnya Mbak sedang sakit sudah dua hari tidak masuk," jawab Slamet.
Wanita itu menangis sambil teriak-teriak persis sama dengan wanita yang kemarin tapi kali ini orangnya berbeda.
Mata Nayra sudah berkedut sejak tadi, Nayra sudah mulai merasa aneh, wanita ini pasti kesurupan, Nayra berkedip dua sampai tiga kali untuk menetralkan penglihatan nya. Nayra menunduk sambil menggerakkan mata ke kanan dan kiri. Dewi segera menggandeng Nayra untuk masuk ke kelas.
Wanita itu melihat ke semua orang yang menontonnya, yang kemudian berteriak histeris seraya membuka matanya lebar. Membuat orang yang berada di sana merasa takut.
"Dia tau aku, dia tau aku, hey kamu tolong aku, kembalikan payungku jangan pergi," ucapnya entah kepada siapa, lalu tubuhnya jatuh ke tanah.
"Bagaimana matanya, Nay. Masih sakit?" tanya Dewi ketika berada di kelas.
"Tidak sakit Wi, Cuma berkedut saja."
"Tapi sekarang oke." Nayra mengiyakan.
Murid lain yang baru saja masuk langsung bergosip.
"Katanya yang bawa payungnya si Dina teman sekelas kita."
"Yang mana sih?"
__ADS_1
"Itu loh yang badannya tinggi gede yang rambutnya sepunggung."
"Oh dia."
"Eh, tapi aneh loh, ini tuh sudah orang ketiga kata Pak Kardi, sebenarnya pemilik payungnya yang mana, sih?"
"Mana aku tau."
"Aneh ya Nay, sama payung itu. Sampai di ributkan sama tiga orang, padahal kan payungnya enggak bagus-bagus amat."
Sebuah pas bunga jatuh ke bawah hingga pecah padahal tidak ada yang menyenggolnya, sontak saja seisi kelas teriak bersamaan karena terkejut.
Nayra yang memandang kearah depan meja tempat pas bunga itu berada melihat ada bayangan di depan kelas berwarna merah, seperti asap tipis, berkali-kali Nayra mengedipkan matanya.
"Astagfirullah," Ucap Nayra pelan dengan menutup matanya.
"Kenapa?"
Nayra menggelengkan kepala, saat ini Nayra melihat samar-samar bayangan merah tepat di depan kelas sedang berdiri di samping meja guru. Semakin lama terlihat jelas ada wanita yang sedang memandang ke arahnya.
Namun menyatu dengan tubuh siswa yang baru saja berdiri ketika murid itu selesai merapikan pecahan vas bunga yang tadi pecah. Nayra menunduk membuat Dewi penasaran.
"Kenapa, Nay. Mata kamu sakit lagi?"
Nayra malah menaruh kepalanya di meja sambil disembunyikan dengan kedua tangannya.
"Wi," suara Nayra berbisik.
"Kenapa?" Dewi jadi ikut berbisik.
"Di depan Ada perempuan pakai baju merah," jelas Nayra.
"Ah, kamu ngomong apa sih, jangan bilang di depan ada setan." Dewi ikutan bersembunyi dengan kedua tangannya.
Nayra coba mengintip. "Aish, dia masih ada, wajahnya pucat matanya hitam seperti yang tidak pernah tidur."
"Sst, jangan diceritain dong, cukup kamu saja yang tau, Nay."
Guru masuk ke ruangan kelas, membuat
Nayra dan Dewi harus menghadap depan kelas, wanita itu tetap berdiri di sana tepat di samping guru yang memberi nasehat serta membaca beberapa peraturan sekolah.
"Dia masih di sana, Nay?"
__ADS_1
"Iya," jawabnya berbisik.