Netra Merah

Netra Merah
Cermin part 1


__ADS_3

Keesokan harinya dengan surat perintah dan persyaratan lainnya pembongkaran pun terjadi. Semua murid hampir memenuhi area Bahkan penggalian ini juga menghadirkan wartawan. Kepala sekolah dan guru sangat ragu dengan apa yang terjadi begitu juga pihak kepolisian.


"Dalamnya hampir 10 meter," ucap Nayra kepada Ambar. lalu Ambar meminta kepada pihak penggali untuk menggali sesuai informasi dari Nayra.


Ketika mencapai 3 meter terlihat sebuah lingkaran berbentuk sumur membuat segaris senyum tampak di wajah Nayra, petugas dan yang lainnya mulai yakin dan melanjutkan penggalian. Setelah kedalaman lebih dari 10 meter akhirnya terlihat beberapa tulang belulang yang membuat Ambar pingsan.


Tim forensik akhirnya melakukan autopsi pada tulang belulang tersebut untuk diteliti serta di periksa, milik siapa tulang tersebut.


Butuh satu Minggu untuk mengetahui hasilnya, Ambar hanya ingin memastikan siapa pemilik tulang belulang tersebut karena kasus sudah di tutup dan pelaku sudah di hukum. Ambar berharap kalau tulang itu bukanlah kakanya. Dan hasil autopsi menyatakan 99 % bahwa tulang tersebut adalah anggota keluarga yang mereka cari selama ini, orang tua Ambar menangis histeris bahkan sang ibu pingsan, Sarah pun terisak melihat keluarganya.


Keesokan harinya berita beredar di sekolah, tulang milik Sarah juga sudah dimakamkan dengan layak.


Nayra melihat Sarah sedang duduk di pohon dan Nayra menghampiri Sarah.


"Kenapa masih di sini?" Sarah tersenyum tanpa melihat Nayra.


"Nay ayo!" ajak Dewi yang melihat Nayra duduk di pohon sendirian.


"Ngapain lagi sih tuh anak di situ," omel Damar.


"Masih di situ kali kakanya Bu Ambar," terang Dina.


***


Dentuman keras terdengar, suara jeritan serta para murid berlarian. Nayra menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik dia mencari-cari Dewi tapi dia tidak terlihat. Nayra malah melihat Rio berlari ke arahnya dan menarik Nayra hingga mereka berdua terjatuh ketanah dan di susul suara ledakan yang amat keras.


Nayra terbangun dari mimpinya, jantungnya berdebar sangat kencang, keringat bercucuran di wajahnya rasa panas kebakaran justru terasa di kulitnya. Jam menunjukkan pukul lima pagi setelah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, Nayra turun ke bawah membantu Siti membuat sarapan.


Sekelebat bayangan lewat di hadapan Nayra tanpa ada kedutan dimatanya, membuat Nayra terkejut hingga menjatuhkan piring ke lantai dan pecah.


"Apa itu tadi?"


"Kenapa Neng?" tanya Siti.


"Ga apa Mbak, licin tangan Nayra."


"Biar Siti saja Neng!" ucap Siti ketika melihat Nayra merapikan pecahan piring.


"Terima kasih ya mbak, maaf menyusahkan."


"Enggak kok Neng, ini kan tugas Siti."

__ADS_1


Nayra terus mencari-cari bayangan yang tadi dia lihat. Tapi, bayangan itu tidak muncul lagi.


Malam kedua mimpi itu datang lagi, kali ini ada seseorang yang tak sadarkan diri di dalam kobaran api dan seorang pria yang menahan Nayra untuk melangkah masuk ke gedung sekolah. Anehnya ada seseorang pria berdiri di depan gedung sekolah sembari memperhatikannya.


Di hari ketiga, mimpi Nayra semakin jelas terlihat siapa pria yang menghentikan dirinya untuk masuk ke dalam sekolah, dia pria yang sama yang dilihatnya di depan sekolah.


"Aku tak salah, dia pria yang sama," ucap Nayra ketika melihat pria itu berdiri di seberang sekolah saat Nayra baru keluar dari mobil.


"Dewi, bisa tunggu aku di sini, jangan masuk dulu."


"Kamu, mau ke mana?"


Nayra tidak menjawab. Nayra memberanikan diri mendekati pria di seberang jalan, sepertinya pria itu juga sedang menunggu Nayra. Pria itu melangkah maju mendekati Nayra.


"Maaf aku tak menyapamu sejak awal, aku tidak bisa memastikan apakah kamu orang yang dimaksud oleh Pak Urabe," ujar si pria.


Nayra bingung dengan sikap pria itu. "Namaku Tatsuo aku kewarganegaraan Jepang dan sudah lama tinggal di Indonesia, apa Anda ada waktu luang? Saya hendak mengobrol."


Tanpa ragu Nayra mengiyakan,


"Sepulang sekolah ada mini market di ujung sana," ucap Nayra menunjuk kearah yang dimaksud.


Nayra lalu kembali ke sekolahnya, dengan Dewi yang sudah menunggu sejak tadi.


"Siapa dia, Nay?"


"Aku tidak tau, tapi setelah pulang sekolah kita akan bertemu lagi."


"Kamu jangan sembarangan menemui orang asing, Nay!"


"Nanti temani aku, ya?"


Sepulang sekolah Nayra sudah ditunggu oleh pria bernama Tatsuo di tempat yang sudah dijanjikan, ditemani Dewi serta sopir yang duduk di dalam mobil.


Tatsuo sedikit membungkuk ketika melihat Nayra turun dari mobil seorang diri, dan mempersilahkan Nayra duduk di sebuah kursi yang sudah ada di depan mini market. Tatsuo memulai pembicaraannya.


"Sebuah cermin pecah, cermin itu adalah penjara untuk roh jahat."


"Apa hubungannya denganku?"


"Anda dan pak Urabe cenayang yang di pilih Dewa Tengu untuk menangkap makhluk itu."

__ADS_1


Nayra tersenyum ketir, kenapa dia di sebut cenayang ok pria asing ini, aneh.


"Mungkin Anda tidak percaya, tapi mimpi Anda akan terjadi beberapa hari lagi."


"Maksudmu, kebakaran disekolah?"


Dia mengangguk. "Dewa Tengu menunjukkannya lewat mimpimu bener hari ini."


Nayra memijit tulang hidungnya yang mendadak nyeri karena sulit untuk mempercayainya.


"Tolong, bantu pak Urabe mengurung kembali roh jahat itu."


"Saya sungguh tidak mengerti, sebaiknya Anda mencari orang lain, cenayang atau indigo cukup banyak di Indonesia." Nayra berdiri dari kursinya dan melangkah pergi.


"Karena aura yang kamu miliki membuat roh jahat akan mencari mu, kini Dewa Tengu bersembunyi di tubuhmu menunggu makhluk itu menyerang."


Nayra bergetar, tapi dia terus melangkah meninggalkan Tatsuo.


Malam harinya mimpi itu datang lagi, Nayra bangkit dan terkejut karena melihat sosok bayangan yang berdiri di dekat ranjangnya, saat Nayra menyalakan lampu kamar bayangan itu hilang. "Mataku tidak berkedut, dia bukan hantu," ucap Nayra pelan.


Esok harinya pria Jepang itu berdiri di depan pagar sekolah Nayra. "Kamu harus waspada!" ucapnya lalu pergi.


"Apa maksudnya, Nay?" tanya Dewi.


"Beberapa hari ini aku mimpi dan melihat dia di mimpiku."


"Mimpi apa?" Nayra tidak menjawab dan terus masuk ke dalam kelas.


Hari berikutnya, Tatsuo itu masih berdiri dekat gerbang sekolah dengan wajah tegang. Saat Nayra melangkahkan kakinya melewati pagar jantungnya merasa nyeri.


"Apa hari ini?" tanya Nayra dalam hati, Nayra menoleh ke arah Tatsuo itu dan dia mengangguk seperti tau Nayra bertanya padanya.


Nayra terus melangkah masuk ke area sekolah dengan perasaan yang tidak menentu, Nayra menjadi takut akan mimpinya.


"Aku harus menyelamatkan mereka!"


Nayra duduk di kelas dengan memandang ke luar jendela, Tatsuo masih di sana.


Bel istirahat berbunyi membuat jantung Nayra semakin kencang berdetak, para murid berhamburan keluar menuju kantin. Nayra langsung bangkit dan berteriak.


"Jangan ke kantin, bahaya!" Seraya berlari keluar mengingatkan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2