Netra Merah

Netra Merah
PERNIKAHAN


__ADS_3

[pantas saja aku tidak pernah merasakan takut ketika melihat hantu, pantas saja aku bisa melawan mereka] ucap Nayra dalam hati.


Dewa memperhatikan Nayra yang terlihat sedang tidak fokus menata buah di keranjang parsel. Nayra terus menggeser buah-buahan ke sana kemari tanpa tahu kapan akan berhenti, Dewa terkekeh kecil melihat tingkah lucu Nayra yang tampak semakin kebingungan.


Dewa mengambil keranjang yang Nayra pegang seraya berkata "bisa bonyok buahnya kalau kamu pindahin terus."


"Maaf," ucap Nayra.


"Minta maaf sama buahnya, kasihan dia pindah-pindah terus."


"Maaf ya jeruk, apel." Nayra menoleh ke kanan dan kiri seraya memegang apel dan jeruk di kedua tangannya, Dewa terkekeh dengan candaan Nayra.


Dewi kemudian datang dan langsung duduk di samping Dewa, tanpa Izin Dewi mengambil dan menggigit buah apel yang sudah ditata dewa di dalam keranjang.


"Astaghfirullah nih anak," kesal Dewa.


"Pelit amat sih minta satu doang kok."


"Jangan yang di keranjang juga kali," ucap Dewa seraya mengambil apel yang ada di plastik dan menata kembali ke dalam keranjang.


Nayra tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat ketika melihat Dewi yang mengusap kepalanya di lengan Dewa, persis seperti anak kucing yang sedang bermanja dengan induknya. Persiapan hantaran untuk melamar pujaan hati Adam sudah siap, esok pagi mereka akan berangkat ke kediaman keluarga Syahla.


"Ayo cepat." Teriak Karin menyuruh anak-anaknya memasukkan hantaran ke dalam mobil.


"Ya ampun mom, Om Adam saja kalem gitu kok." protes Dewa.


"Dia bukan kalem tapi lagi menguasainya hatinya biar tidak meledak." Ledek Karin.


"Mbak nih bisa saja."


Nayra sangat bahagia melihat keluarga angkatnya ini, dirinya tidak pernah sekalipun tersakiti oleh keluarga barunya, dia merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia ini.


Mereka melaju menuju rumah Syahla dengan kendaraan yang dihias bunga, ketika memasuki sebuah gang suara musik rebana menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


Matanya berdenyut ketika melewati sebuah rumah, Nayra sangat memperhatikan rumah itu hingga melewatinya.


Ijab Kabul terlaksana dengan baik, Adam mengucapkan janji sucinya dengan sekali tarikan napas, Syahla dan Adam sudah sah menjadi suami dan istri.


Semua tamu dan keluarga memberi ucapan, Nayra keluar secara diam-diam, sejak tadi Nayra terganggu dengan rumah yang tidak jauh dari rumah Syahla. Nayra berdiri di depan rumah tersebut, tak lama terdengar jeritan yang memekik kesakitan, Nayra mengangkat kaki untuk melangkah namun ada tepukkan tangan yang menyentuh pundaknya.


Nayra langsung menoleh kearah tepukan tangan, Dewa yang awalnya tersenyum namun berubah, matanya melebar melihat mata Nayra yang memerah dan bola mata mirip mata kucing.


"Ada yang aneh dengan rumah ini, Ka," ucap Nayra menunjuk kearah pintu


Dewa kebingungan dengan wajah Nayra yang datar, "kamu baik-baik saja?" Nayra mengangguk tapi terus melangkahkan kakinya menuju rumah tetangga Syahla. Dewa dengan cepat menahan tangan Nayra.


"Kamu mau apa, ayo cepat kembali nanti Om Adam mencari."


Nayra melihat kearah Dewa dengan senyum menyeringai tampak mengerikan seperti bukan Nayra, Nayra melepas genggaman Dewa kemungkinan melangkah maju dan mengetuk pintu rumah tersebut.


"Nay, Nayra." Dewa berbisik dia kebingungan harus melakukan apa, akhirnya Dewa memutar nomor pada ponselnya. Sedangkan Nayra terus mengetuk pintu semakin cepat karena kesal pintu itu tidak dibuka oleh penghuninya.


Dewa menghampiri Nayra dengan terus menaruh ponsel di telinganya yang sedang menghubungi Adam. "Jangan diketuk keras-keras Nay, mungkin tidak ada orangnya!" ucap Dewa menenangkan Nayra.


Dewa menurunkan ponselnya dan meninggalkan Sherlock, karena Adam tidak juga mengangkat panggilan darinya. Suara kunci dibuka dua kali kemudian suara pintu dibuka, wajah Nayra kembali normal juga matanya namun tatapannya masih kosong tanpa ekspresi.


"Siapa ya?" tanya pria kurus dengan rambutnya yang sudah memutih.


Dewa langsung menawarkan tangannya dan memperkenalkan diri, "Maaf pak nama saya Dewa, ini adik saya Nayra, saya tamu dari keluarga Dr. Syahla".


Pria itu menjabat tangan Dewa. "Ada perlu apa?" tanyanya lagi penuh kebingungan yang terlihat dari wajah pemilik rumah.


Dewa memegang tangan Nayra mencoba menyadarkan Nayra, "Nay, kita kesini mau ngapain?"


Mereka masih dalam kebingungan menunggu Nayra dengan tatapan kosongnya, Kemudian suara lirih dari dalam terdengar lagi. Mata Nayra melirik ke dalam rumah.


"Mohon maaf dek, anak saya sedang sakit," ucap si bapak pemilik rumah.

__ADS_1


"Nayra boleh masuk?" Kesadarannya mulai kembali. Tapi bapak itu seperti enggan menerima kedatangan tamu di rumahnya. Suara lirih berubah menjadi jeritan yang memekik terdengar sangat kesakitan.


"Nayra ingin bertemu anak bapak di dalam," ucap Nayra.


"Tapi." Bapak itu terlihat kebingungan.


"Dia sakit tidak biasa kan?" ucap Nayra membuat bola mata si bapak terbuka karena terkejut. Nayra tersenyum dan berkata, "saya ingin mencoba membantu anak bapak."


Lalu si pemilik rumah membuka lebar-lebar pintu rumahnya mempersilahkan Nayra masuk yang diikuti Dewa dari belakang sambil menundukkan kepalanya mengisyaratkan terima kasihnya.


Saat Nayra masuk ke ruang tengah terlihat beberapa orang duduk berdekatan dengan seorang gadis remaja yang tampak kurus kering berbaring di kasur lantai. Semua orang yang berada di ruangan menatap kearah Nayra, namun gadis itu menjerit-jerit menyambut Nayra.


Nayra duduk bersila di dekat kepala si gadis, gadis itu tampak sangat ketakutan dengan Nayra, tak lama gadis itu menjerit kesakitan. Seorang ibu menarik benda aneh berwarna hitam dari pori-pori di wajahnya, semula benda itu hanya berbentuk titik-titik namun ketika ditarik menggunakan pengapit atau pinset benda itu ternyata panjang seukuran jarum.


Benda itu muncul di waktu tertentu dan gadis itu selalu merintih ketika benda hitam itu muncul di wajahnya.


"Boleh saya minta air panas di dalam wadah aluminium," ucap Nayra.


Orang di sana saling berpandangan namun seorang ibu langsung bangkit menuju dapur.


"Air mendidih ya, Bu!" ucap Nayra lagi.


Mulut Nayra mulai membaca sesuatu yang tidak bisa di artikan, Dewa duduk di belakang Nayra juga si bapak tadi.


"Anak saya di teluh orang, sudah beberapa bulan dia seperti ini," ucap si bapak.


"Dia di teluh kenalannya, Pak," ucap Nayra tanpa menoleh.


"Siapa Nak?" ucap si bapak.


"Saya tidak akan menunjukkan orangnya," ucap Nayra.


Lima menit kemudian seorang ibu membawa air yang di minta Nayra dan menaruhnya disisi Nayra. "Terima kasih" ucap Nayra seraya melihat wajah si ibu, dan dia menjawab dengan senyuman.

__ADS_1


Nayra menyapu asap yang mengepul dari air panas, hingga telapak kanan Nayra berubah merah seperti terkena luka bakar, Nayra sampai meringis.


__ADS_2