Netra Merah

Netra Merah
Mayat Dalam Tas part akhir


__ADS_3

Nayra mengetuk kaca jendela membuat istri Antoni melihatnya yang berada diluar.


"Kenapa kamu mengetuk jendelanya?"


"Cuma ngetes Pak, kedap suara atau tidak."


"Kamu aneh," ucapnya. Lalu ikut-ikutan melihat ke dalam ruangan melalui jendela. Istri Antoni keluar dengan wajahnya yang pucat.


"Ayo ikut," ucap Nayra pelan dan wanita itu hanya memandangi Nayra sebagai jawabannya.


"Baiklah Pak, terima kasih."


"Begitu saja?"


"Kan, Bapak yang bilang, kita tidak bisa masuk."


"Baiklah," ucap si keamanan sambil berjalan di ikuti Nayra.


Nayra pamit kepada keamanan rusun lalu pergi menjauh. Nayra mulai berjalan meninggalkan rusun dibarengi wanita yang berada di sampingnya.


"Saya mencari Anda, Bu." Nayra melihat kearah wanita yang wajahnya tidak bersemangat dan menyeramkan itu.


"Pak polisi belum juga menghubungi saya, tapi beliau sedang melakukan penyelidikan, Anda harus bersabar. Wanita itu tetap diam sambil berjalan di samping Nayra.


Ibu itu kini tinggal dikamar Nayra, hanya terdiam setiap harinya di pojokkan kamar Nayra. Setelah dua hari Nayra mendapatkan kabar baik dari Burhan lewat pesan singkat, dia meminta Nayra untuk menemui dirinya di kantor polisi.


Nayra pergi ke kantor polisi bersama Adam dan juga istri dari Antoni.


"Kamu benar Nayra, Antoni memang punya anak, tapi anaknya sudah diperjual belikan dengan kedok adopsi."


"Tidak Pak, itu bohong anak itu sudah meninggal," Ucap Nayra meyakinkan Burhan.


"Antoni sendiri sudah mengakuinya."

__ADS_1


"Dia bohong, Anda harus menyelidiki ulang, saya mohon Pak," ucap Nayra dengan wajah memohon. Burhan meletakkan sebuah foto dengan 3 orang pada gambar. Nayra mengambil foto tersebut.


"Antoni, Tari dan Rizal anak mereka," ucap Burhan.


"Tari." Nayra melihat kearah istri Antoni yang berdiri di samping Burhan, dan dia menganggukkan kepalanya. Akhirnya Nayra kembali dengan Adam karena kesaksian Nayra tidak bisa menjadi bukti untuk polisi.


"Dari mana?" Dewa menegur Nayra ketika sampai.


"Kantor polisi, Ka."


"Ada apa?"


"Kita bicara nanti." Nayra berkata dengan berbisik ketika Adam turun dari mobil.


Nayra dan Dewa duduk di taman belakang dan menceritakan kasus Tari. "Apa kamu mau Kaka temani mencari tas itu?"


Nayra sangat mengharapkan kata-kata itu, "mau Ka, tolong."


Dewa mengusap kepala Nayra dan mereka membuat janji di hari Minggu.


"Tentu saja. Kaka akan mengajak Dewi dan Deden, bagaimana?"


"Boleh Ka."


Nayra masuk ke dalam rumah setelah berbicara banyak dengan Dewa.


Minggu pagi Dewa dan Nayra keluar sesuai janji tentu saja ada Dewi ikut serta. Namun Tari entah ke mana di saat Nayra membutuhkannya. Mereka mulai menelusuri tempat di mana ada rawa atau danau di sekitar rusun tempat tinggal keluarga Antoni. Namun, tidak ada satu tempat yang sama seperti di mimpi Nayra, Tari dan Nayra pun sulit berkomunikasi, mereka harus kembali dengan tangan kosong.


Malamnya Nayra kembali bermimpi tempat di mana mayat anak kecil itu di tenggelamkan, Nayra merasa bahwa dirinya yang sedang ditenggelamkan hingga kehabisan napas.


"Astaghfirullah, apa anak itu belum meninggal ketika ditenggelamkan?" mata Nayra berkedut menandakan kehadiran makhluk halus di sekitarnya. Nayra keluar kamar dan mencari makhluk apa yang ada di sekitarnya. Ternyata dia Tari sedang duduk diluar, Nayra mendekat dan berdiri di samping Tari.


"Apa kau mengingat tempat itu?" tanya Nayra.

__ADS_1


"Aku sudah mencari tempat itu kemarin tapi hasilnya nihil, entah di mana tempat anakmu berada."


Sentuhan dingin dari tangan Tari membawa Nayra ke tempat kejadian di mana anaknya ditenggelamkan. Nayra melihat banyak pohon Mangrove dan beberapa papan nama yang tertera di sana lalu Nayra kembali sadar.


Nayra masuk ke kamarnya dan mulai mencari di internet di mana ada rawa dan pohon mangrove. Akhirnya Nayra menemukan beberapa tempat di kota Jakarta yang penuh pohon mangrove namun sepi pengunjung, lalu gambar itu di kirimkannya kepada Dewa.


Keesokan harinya sepulang sekolah Nayra dan Dewi dijemput Dewa juga Deden, Mereka berempat menuju tempat yang dituju. Rombongan Nayra mulai mendatangi satu persatu tempat dan akhirnya menemukan tempat sesuai dalam mimpinya.


Ternyata di sana sudah ada Tari yang berdiri menghadap ke air dengan kakinya yang sudah masuk ke dalam air, Nayra dan yang lainnya mendekati air. Meski tempat ini sepi tapi adab saja orang yang lewat bahkan ada saja yang memancing. Nayra melihat Tari berjalan ke air dan berhenti di tengah, tanpa sadar dia juga ikut melangkah maju masuk ke dalam air, bunyi suara air yang Nayra pijak membuat ketiganya menjadi panik.


Ketiganya menahan Nayra bahkan berusaha menarik tapi Nayra terus saja berjalan perlahan ke tengah, Dewi kembali ke permukaan karena dia tidak bisa berenang sedangkan Dewa dan Deden terus menarik Nayra namun mereka tidak ada tenaga meski sekuat tenaga entah mengapa Nayra begitu kuat hingga Dewa dan Deden tidak mampu menariknya.


"Dewi cepat hubungi Om Adam," Dewa berteriak kearah Dewi yang menangis karena panik melihat Nayra tidak sadar.


Beberapa orang pengunjung yang berniat untuk memancing menjadi panik melihat tiga orang masuk ke air. Tempat itu seketika ramai di datangi orang yang tidak sengaja lewat dan mendengar teriakan dari orang-orang yang melihat mereka.


Nayra terus masuk hingga air mencapai lehernya, saat itulah Nayra sadar dan mulai gelagapan karena takut tenggelam. Deden dan Dewa berusaha kembali ke air dan menarik tubuh Nayra. Tapi, Nayra sulit sekali di bawa dari sana seperti tersangkut sesuatu.


Cukup lama dan mungkin lebih dari satu jam orang-orang berusaha mengeluarkan Nayra dari sana mereka hanya berhasil menarik Deden.


Timbul buih yang semakin lama semakin membesar membuat Nayra terkejut mencoba menggerakkan tubuhnya, Dewa semakin berusaha mengeluarkan Nayra. Muncul Tari dari dalam air. Mata Tari putih tanpa bola mata, permukaan wajahnya penuh urat mirip retakan sungguh menyeramkan.


"Ka Dewa lepaskan Nayra, Nayra bisa sendiri."


"Apa kamu bodoh! Kamu bisa tenggelam."


"Mayat anak itu tepat berada di bawah Nayra dan tertutup lumpur."


Sekilas ada wanita yang menjerit di pinggiran sana karena dapat melihat sosok Tari, tentu saja membuat semua orang yang menyaksikan merasa ketakutan. Adam akhirnya datang bersama Burham, karena Adam menghubunginya.


"Pergi Ka, cepat!!" Teriak Nayra dengan kedua mata yang memerah.


Ya, bola mata Nayra berubah merah pada keduanya entah kenapa, Adam turun ke air berusaha menyelamatkan putrinya, namun pusaran air datang dari kaki Nayra dan menelan tubuhnya.

__ADS_1


Adam dengan panik berteriak "Nayra!" Anak angkatnya menghilang di hadapan matanya. Pusaran air itu menghilang, beberapa orang masuk ke dalam dan berhasil menarik Dewa.


__ADS_2