
"Sepertinya ini benar rumah Dina." Nayra memastikan pak Juned karena Nayra melihat wanita itu tersenyum dengan bibirnya yang melebar.
"Astaghfirullah," ucap Nayra pelan. Ngeri melihat senyumnya.
"Kenapa lagi sih, Nay? "
"Tidak apa, nanti kalau aku cerita kamu takut."
"Ya, cukup kamu saja yang tahu."
Nayra tersenyum. "Ayo!"
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Maaf Bu, apa benar ini rumah Dina?"
"Iya benar, tapi Dina nya lagi dirawat di rumah sakit habis operasi usus buntu," ucap seorang ibu.
"Oh, begini Bu, saya teman Dina mau_"
"Masuk, duduk dulu."
"Kami di luar saja, Bu."
"Duduk dulu ya, ibu buat kan minum."
"Enggak Bu." Nayra melihat wanita itu marah dengan membulatkan matanya yang hampir keluar. Nayra menunduk karena merasa ngeri Nayra hanya memegang tangan Dewi.
"Begini Bu, kedatangan kami sedang mencari payung yang Dina pinjam beberapa hari lalu," ujar pak Juned.
"Payung? Payung apa ya, saya tidak tahu, saya Cuma bibinya yang di minta menjaga rumah Dina."
Nayra berdiri di ambang pintu karena wanita itu menunjuk-nunjuk ke dalam, wanita itu masuk sambil menunjuk jarinya ke atas bupet besar yang ada diruang tengah rumah Dina.
"Payung merah itu berada di atas bupet Bu, saya mau payung itu," ucap Nayra.
Si Ibu itu masuk dan harus naik ke atas kursi karena ukuran bupet yang tinggi, si ibu itu meraba-raba serta berjinjit di atas kursi untuk melihat apa benar ada payung merah di sana. Benar saja ibu itu memegang payung warna merah, Nayra melihat wanita itu kesenangan.
"Iya Bu benar, itu payungnya."
Bibi Dina menyerahkan payung itu pada Nayra. Dan wanita itu menghilang. Pak Juned menceritakan kepada bibinya Dina pasal payung tersebut, dia tidak percaya tapi mengiyakan saja. Sebelumnya Nayra sempat mengobrol lewat telepon dengan Dina dan meminta ijin untuk membawa payung itu pulang.
Ternyata urusannya belum kelar juga. Saat di perjalanan pulang mobil pak Juned mendadak mogok saat di persimpangan jalan. Pak Juned bingung karena mobil dia baru saja di servis. Pak Juned keluar dari mobil dan memeriksa mesin mobilnya. Nayra melihat wanita itu menunjuk jalan. Nayra main insting untuk maksud si wanita, karena Nayra tidak bisa berkomunikasi dengannya.
"Pak kayanya dia meminta kita untuk ke jalan yang dia mau."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Saat ini wanita itu menunjukkan jalan kearah sana." Nayra menunjukkan ke sebuah jalan.
"Aduh nyusahin banget sih," omel Dewi.
"Dia marah sama kamu, Wi."
"Iiii." Dewi menempel pada Nayra.
"Apa kita harus ikuti permintaannya, Pak?" tanya Yusuf.
"Sepertinya harus, atau kita tak akan bisa pulang, karena mesin mobil akan mati."
Pak Juned mengikuti petunjuk Nayra dengan wanita itu sebagai pengarah jalan, perjalanan mereka mencapai dua puluh menit untuk sampai di sebuah rumah yang arsitekturnya mirip pada jaman Belanda.
"Ini rumah yang dia tuju, Pak," ujar Nayra ketika melihat wanita itu berdiri tepat di depan pintu rumah tersebut.
Nayra turun dari mobil di ikuti Dewi, Nayra mengetuk pintu rumah sebanyak tiga kali. Bunyi kunci dibuka dari dalam setelah beberapa menit, pintu dibuka lebar, muncul seorang pria dengan usia sekitar tujuh puluh tahun.
"Cari siapa ya?"
"Anu kek maaf." Nayra memandang wajah wanita yang kini berdiri di samping kakek. Dia memandang wajah kakek dengan penuh kerinduan.
"Maaf kek jika saya mengganggu," Nayra diam sejenak, dia bingung bagaimana cara menyampaikannya.
"Ah ini, ada seorang wanita memberikan payung ini kepada saya dan dia ingin saya memulangkannya ke alamat rumah ini," ucap Nayra.
Kakek mengerutkan dahinya mengingat ingat sesuatu, dan kemudian wajah kakek berubah menjadi murung, membuat wanita di hadapannya menangis.
“Siapa kek?” seorang remaja pria keluar dan berdiri di samping si kakek
“kamu kan, murid kelas satu?” tanya remaja itu.
Nayra bingung sambil memandang Dewi lalu mencari-cari sosok Yusuf dan Pak Juned, yang ternyata masih di dalam mobil, Pria itu ikut melihat kearah mobil.
“Siapa di sana?”
“Itu guru kami,” jawab Dewi.
“Pak Juned, Yusuf.” Pemuda tersebut mengenali kedua sosok di dalam mobil.
“Kamu kenal?” tanya Dewi.
“Aku, kakak kelas kalian.”
Remaja itu menghampiri Pak Juned dan Yusuf. Sedangkan kakek itu masuk mengambil sesuatu dari kamarnya dan membawanya keluar kemudian duduk di kursi yang berada di ruang tamu.
“Ayo masuk,” Ajak cucu si kakek.
Mereka berempat masuk ke dalam,
__ADS_1
“Bapak bagaimana sih, bukan temani muridnya, malah di mobil saja,” gerutu Dewi.
“Dari tadi kita takut tahu,” ucap Yusuf.
Sebenarnya Nayra dan Dewi juga takut, harus berinteraksi dengan wanita itu.
“Duduk!” perintah kakak kelas.
“Namaku Rio,” ucapnya kepada Nayra.
“Nayra.”
“Dewi.”
“Sebentar ya,” Rio masuk ke dalam dan membawa beberapa minuman kaleng yang dingin.
Nayra masih melihat kearah wanita yang kini ikut duduk di samping kakek sambil memandangi sebuah album besar milik kakek.
Lalu wanita itu melihat kearah Nayra, wajahnya seperti menyampaikan sesuatu. "Boleh saya mendekat?" tanya Nayra. Rio mengiyakan, tapi sebenarnya Nayra bukan bicara dengan Rio, melainkan pada wanita itu. Si wanita mengangguk.
"Maaf Ka Rio boleh saya duduk di situ?" Rio terheran kenapa harus duduk di kursinya sedangkan di sisi lain kosong. Rio berdiri dan hendak pindah ke sisi lain.
"Eh tunggu." Nayra memegang tangan Rio.
"Ada apa?" Rio Mengerutkan dahinya.
Nayra melepaskan tangannya, "ada seseorang yang duduk di situ."
"Hah? " Rio terheran.
Dewi berinisiatif menarik Rio untuk duduk di tempat lain. Rio masih terheran melihat sikap Nayra.
"Ada apa sih?" tanya Rio pada Yusuf. Kemudian ketua OSIS itu menceritakan dengan berbisik.
Nayra melihat foto wanita di album yang mirip wanita berbaju merah.
"Ini dia," Nayra menunjukkan jarinya ke foto.
Kakek memandang Nayra heran bagaimana dia bisa mengenal wanita dalam foto ini.
"Dia Anita."
"Loh, ini Ka Rio?" Nayra bingung memandang Rio yang kini duduk di depannya.
Nayra melihat foto, duduk seorang pria memangku gadis yang mirip si wanita. Rio bingung juga dengan reaksi Nayra.
"Itu Kakek waktu muda, Anita adalah pacar Kakek ketika usia kami enam belas tahun."
"Ah, dia memakai baju ini sekarang." Nayra menunjuk ke sebuah foto dengan gadis berbaju merah. Kakek melihat foto itu dan air mata mengalir disudut matanya yang berkeriput dimakan usia.
__ADS_1
Wanita itu mencoba menghapus air mata si kakek, Nayra mengambil tissu yang ada di meja lalu mencoba ingin menghapus air mata kakek, Nayra sempat menahan tangannya menunggu reaksi wanita itu, kemudian Nayra menghapus air mata kakek setelah mendapat sinyal baik dari si wanita.