Netra Merah

Netra Merah
Bayangan Hitam part 4


__ADS_3

Nayra penasaran apa teman-teman Joni sakit ada hubungannya dengan si bayangan hitam. Cerita yang disampaikan mbak Siti kalau anak-anak itu kesurupan setan rumah kosong. Nayra bimbang mau lewat jalan biasa atau mencoba lewat gang tempat si bayangan.


Akhirnya dia mencoba melewati gang rumah kosong, [kalau mataku berkedut aku putar balik, kalau aman aku terus melangkah].


Ternyata mata Nayra berkedut ketika berdiri di gang, spontan Nayra putar balik berjalan dengan cepat ke gang biasa. Akan tetapi, "Plak!"


Pundak Nayra di pukul ringan dari belakangnya, dan matanya malah semakin berkedut, Nayra gemetar tak bisa melangkahkan kakinya.


"Nay!" Seseorang memanggil namanya, dan berdiri tegap di hadapan Nayra, mata Nayra terpejam karena dia tidak mau melihat wajah si bayangan hitam, kepala Nayra terus menunduk.


"Nay, Nayra, kenapa kamu?" Suara itu tidak asing ditelinga Nayra, dia mau membuka mata tapi matanya berkedut dia takut kalau orang di depannya ini bukan orang yang Nayra pikirkan.


Tubuh Nayra diguncang pelan, "Nay ini aku, Joni. Kamu kenapa sih?"


"Ka Joni" Nayra membuka matanya, benar ini Joni tapi kenapa matanya berkedut juga. Apa ada bayangan hitam di sekitarnya.


"kamu ngapain lewat sini, kaya berani saja."


"Takut sih, Ka. Makanya putar balik."


"Lagian ngapain, mau kesambet juga seperti teman-temanku?"


"Penasaran, Ka."


"Gaya kamu, ayo Aku antar pulang, tapi lewat sana saja ya, jangan lewat sini." Nayra mengangguk tapi matanya masih berkedut semakin cepat, Nayra benar-benar terganggu dan takut kalau nanti matanya bermasalah. Nayra sesekali memegang matanya. Ingin sekali dia menoleh ke belakang tapi dia takut.


"Enggak usah lihat ke belakang kalo takut."


"Eh." Nayra jadi berpikir kalau Joni juga bisa merasakan kehadiran si bayangan hitam. Nayra menoleh ke arah Joni, kepala Nayra harus mendongak karena Joni lebih tinggi darinya. Tapi ternyata ada bayangan di samping Joni, yang membuat Nayra kembali memandang ke bawah.


"Aku curiga kalo kamu bisa lihat apa yang tidak aku lihat, Nay. Sudah sejak kemarin badan aku rasanya kagak enak, aku Sudah minum obat tapi rasanya masih sama saja, gejalanya sama kaya teman aku yang sudah tumbang di rumah sakit, kayaknya aku juga bakal sakit kaya mereka."

__ADS_1


Nayra malah makin takut dengan perkataan Joni barusan. Apa lagi mata Nayra malah semakin berkedut cepat.


"Sudah sampai." Nayra masih saja menundukkan Kepalanya. "Sudah sana masuk, jangan coba-coba lewat gang sana sendirian nanti di culik genderuwo."


"Nayra masuk duluan, Ka." Nayra bergegas masuk dan mencari Adam. Meninggalkan Joni begitu saja di luar. "Om Adam, Om!" Nayra berteriak sangat kencang hingga Siti dan Adam keluar dari kamarnya. Dia berteriak karena matanya terasa sakit hingga mengalir darah dari mata kanannya.


Siti yang berada di dapur segera menghampiri, "Neng, kenapa, ada apa?"


Adam segera turun ketika melihat Nayra bersandar di pintu dengan darah yang mengalir cukup deras dari matanya.


"Ada apa, Nayra. Kenapa begini?"


"Om, Nayra lihat bayangan itu lagi, dia begitu dekat tadi, hingga mataku terasa sakit, dia mengikuti Ka Joni," Nayra bicara dengan napas yang tersengal.


"Apa maksud kamu, Nay." Adam Seraya membersihkan darah di pipi Nayra.


"Om, bayangan itu menyakiti Ka Joni, Nayra harus bagaimana?" Nayra terisak dan takut. Adam membuka softlens pada mata Nayra, dan memberikan obat tetes pada matanya.


Adam melihat bola mata Nayra yang berubah menjadi kecil dan memanjang mirip mata kucing namun tetap dengan iris-Nya yang berwarna merah, Adam sampai bingung apa yang terjadi pada Nayra.


Nayra gelisah ingin melakukan sesuatu, Pikirannya tak lepas dari sosok di samping Joni.


"Om, tolong Nayra. Entah bisa atau tidak. Tapi, Nayra mau mencobanya."


"Nayra, mau apa?"


"Ayo, ke rumah Ka Joni, aku ingin menemuinya mungkin Dewi tahu rumahnya".


Akhirnya Adam dan Dewi mengantar Nayra menemui Joni. Nayra hanya menutup matanya dengan eye patch karena softlens terus saja lepas ketika Nayra berkedip.


Mobil Adam berhenti di ujung jalan komplek perumahan, ada tembok pembatas di sana untuk akses warga kampung sebelah untuk mondar-mandir. Gang itu dijaga dua orang hansip, Adam mendekati dan meminta ijin untuk masuk dan menemui Joni.

__ADS_1


"Oh, si Joni anaknya Pak Haris, dia tadi mendadak muntah darah, ini kita lagi tunggu ambulans," ucap salah satu dari mereka. Kedua hansip itu memperhatikan mata Nayra yang tertutup sebelah kanannya.


"Rumahnya yang mana ya, Pak? " tanya Nayra.


"Di ujung jalan belok kiri di situ ada rame orang itu rumahnya." Hansip satunya menunjuk arah.


"Ayo, saya antar," ajaknya.


Nayra dan yang lainnya mengikuti arahan pak hansip, sebelum berbelok mata Nayra mulai berkedut, sampai dia memegang matanya.


"Berkedut lagi?" tanya Adam berbisik. Nayra mengangguk.


"Assalamualaikum," ucap si hansip.


"Wa'alaikumsalam," ucap semua yang ada di rumah Joni, Nayra mendapatkan pandangan aneh dari mereka, tentu saja karena matanya.


"Ambulans nya Sudah datang pak?" tanya seorang lelaki yang kemungkinan keluarga Joni.


"Belum, ini ada pak Adam dan anaknya ingin bertemu Joni." Adam bersalaman dengan orang yang kemungkinan kepala kampung atau keluarga Joni.


Nayra tepat berdiri di pintu depan, dia melihat Joni berbaring dengan bayangan hitam di dekatnya. [Astaghfirullah] Nayra memegang tangan Adam yang telapak tangannya mulai dingin, Adam menepuk punggung tangan Nayra.


"Pak, apa Ka Joni juga kesurupan seperti yang lain?"


"Sepertinya tidak, tapi ada yang bilang katanya Joni di ikuti makhluk penghuni rumah kosong, di dalam ada Ustadz Sulaiman yang sejak tadi menemani Joni."


Tubuh Nayra serasa dikendalikan orang lain dia berjalan masuk ke rumah Joni, padahal saat ini dia sedang ketakutan, pandangan mata Nayra terus saja melihat ke arah bayangan hitam. Dengan keberanian yang hanya secuil Nayra menatap bayangan, tapi justru mengurangi rasa sakit pada matanya.


"Eh, Nayra." Joni terkejut melihat Nayra ada di sebelahnya, padahal dua jam lalu dia baru saja mengantar Nayra pulang.


Nayra melihat bayangan itu menyentuh badan Joni dan membuatnya merasa mual dan muntah darah hingga terbatuk-batuk, keluarga Joni berteriak dan menangis histeris. Ibu Joni yang sejak tadi duduk di sisi satunya terus mengusap punggung putranya seraya meneteskan air mata.

__ADS_1


Dengan refleksnya Nayra berhasil memegang tangan bayangan hitam itu, ketika hendak memegang Joni kembali.


"Jangan sentuh dia lagi!" Nayra memandang marah kepada bayangan itu, dan bayangan hitam tidak terima. Dia mulai menjerit dengan matanya yang merah dan terlihat taring panjang di mulutnya.


__ADS_2