Netra Merah

Netra Merah
Gadis Cantik Di Sekolah


__ADS_3

Suara kunci rumah Dewa berbunyi dan pintu pun terbuka, kebetulan ada Bibi Inah pembantu Tante Kayla yang belum tidur. Nayra berlari naik ke kamar Dewa dan mengetuk pelan seraya memanggil, "Ka Dewa, Ka dewa."


Dewa bangun dan membuka pintu. "Apa Nayra, ini jam berapa?" Dewa melihat jam yang terpajang di dindingnya. Jam menunjukkan jam sebelas malam.


"Ka Arga," ucap Nayra membuat dewa mendadak hilang rasa kantuknya.


"Kenapa?"


"Cari tahu Ka, cepat!"


Dewa bergegas masuk ke kamar mengambil ponselnya, Nayra ikut masuk dan duduk di sisi ranjang, Dewa ikut duduk dan menggerakkan jarinya di layar ponsel. Suara tersambung panggilan terdengar dan beberapa detik kemudian terdengar suara ibu dari Arga.


"Bagaimana keadaan Arga Tante?"


"......."


"Astaghfirullah, Dewa ke sana Tante." Dewa menutup ponselnya. Dewa terdiam sesaat dan memeluk Nayra lalu menangis. "Arga kritis," ucap Dewa pelan.


Nayra mengusap punggung Dewa, "Sabar Ka."


Dewa melepaskan pelukannya lalu bangkit, dia mengambil jaket yang tergantung di dinding dan memakainya. "Kaka mau ke sana, kamu mau ikut?"


"Nayra harus izin Om Adam dulu." Nayra berdiri lalu keluar kamar.


"Kalau Kaka sudah mengeluarkan mobil kamu tidak keluar Kaka tinggal ya."


Nayra mengangguk dan berjalan cepat menuju rumah, terlihat Adam sedang minum di dapur, dia terkejut melihat Nayra masuk dari pintu samping, "Dari mana?"


"Om, maaf Nayra mau ikut lihat Ka Arga di rumah sakit, dia kritis."

__ADS_1


Adam menarik napas panjang.


"Maaf om, Nayra tidak patuh." Nayra menunduk.


"Pergilah," ucap Adam.


Nayra tersenyum dan memeluk Adam. "Terima kasih Om." Nayra sempatkan dulu menemui Dewa. Karena tau Nayra mendapatkan ijin dari Adam, dewa turun dari mobilnya dan menemui Adam.


Adam pasrah karena mungkin ini sudah jalan Nayra, Adam merangkul Dewa, "Kalian hati-hati ya."


"Baik Om, terima kasih."


Nayra berlari ke kamar mengambil jaket dan memakai celana panjangnya. Lalu berlari cepat ke bawah. Nayra mencium tangan Adam lalu masuk ke dalam mobil.


"Tolong hubungi Deden." Dewa memberikan ponselnya pada Nayra. Nayra menggeser layar ponsel mencari nama Deden di sana. Nayra menekannya lalu menunggu panggilan itu di terima oleh Deden.


"Halo, Wa?" suara Deden terdengar di seberang sana.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Dewa sesekali tersenyum dan kemudian terlihat sedih, Dewa sedang mengenang kebersamaannya dengan Arga sahabatnya itu. Nayra memegang bahu Dewa dan mengusapnya, Dewa tahu betul Nayra sangat peduli dengannya, Dewa mengusap tangan Nayra yang, lalu dia mengusap air mata yang meluap dari matanya.


Hampir satu jam Dewa dan Nayra akhirnya tiba di rumah sakit, mereka jalan Dengan tergesa, ternyata sudah ada Deden di sana. Bulu kuduk Nayra berdiri sangat halus, Nayra merasakan kehadiran sosok yang tidak di lihatnya, Nayra melihat ke segala arah tapi tidak terlihat apa pun, matanya pun tidak berkedut.


Dewa berbincang dengan kedua orang tua Arga dengan Deden di sebelahnya. Nayra mendekati Arga yang terbaring tidak sadarkan diri.


[Dia masih hidup]


Nayra memandangi tubuh Arga dari kepala sampai ujung kaki. Nayra merasakan sosok yang tidak terlihat itu sangat dekat dengannya.


[Apa waktunya akan tiba?] Pertanyaan itu terlintas di benak Nayra yang saat ini sedang memandangi wajah Arga yang memucat dengan selang oksigen di hidungnya.

__ADS_1


Arga membuka matanya perlahan, dan Nayra menyadarinya. "Ka Arga" ucapnya. Membuat ibu Arga langsung memeluk Arga, Dewa mendekati dan memegang tangan Arga di susul Deden.


Nayra sedikit menjauh dari Arga membiarkan mereka untuk bercengkerama dengan Arga. Namun suara ibu Arga memekik menyebut nama Arga, Arga kembali tidak sadarkan diri.


Dokter serta perawat masuk karena ayah Arga memanggilnya, semua orang keluar termasuk Nayra, lalu dokter menyatakan Arga telah tiada, suara tangis pecah dari orang-orang terdekat Arga.


Saat di kelas entah mengapa bulu kuduk Nayra serasa menegang, Nayra gelisah karena mendengar suara seperi detak jam tapi itu bukan jam. Suara itu dari luar kelas makin lama semakin mendekat.


Mata Nayra berdenyut sekali, tanda ada sesuatu dari alam sana berada didekatnya. Lalu Nayra melihat ke arah pintu kelas di mana suara itu terdengar, datang semakin dekat, cukup lama dan kemudian masuk guru ke dalam kelas, mata Nayra masih melihat ke arah pintu tapi tak ada apa-apa di sana. Suara tersebut berhenti, tapi hati Nayra dan aura disekitarnya cukup membuat Nayra resah.


Saat Nayra memperhatikan guru di depan kelas, tiba-tiba telapak tangan menempel di jendela dekat pintu masuk, suara benturan itu terdengar oleh Nayra, dia sempat terhenyak karena terkejut, tapi sepertinya cuma Nayra yang merasakannya, karena Nayra melihat teman-temannya biasa saja, seperti tidak ada yang terjadi.


Nayra terpaku melihat jejak tangan di jendela, Nayra mulai gemetar,dia menundukkan wajahnya tak berani melihat ke arah pintu, dia berusaha tenang seperti yang lain. Lalu telapak tangan itu menghilang meninggalkan jejak di sana.


Jam pelajaran pun selesai Nayra tidak langsung pulang karena besok adalah jadwal piket Nayra dan Dewi. Nayra melihat bekas telapak tangan menempel di kaca jendela. Tapi hanya dia yang melihat nya, bahkan Dewi dengan cueknya membersihkan kaca tanpa tau ada jejak tangan yang tertinggal di sana.


Sepulang sekolah Nayra diantar Dewi menuju rumah sakit, Nayra masih rutin memeriksakan matanya. Setelah sampai Dewi langsung pamit pulang karena akan ada jam les. Sebelum masuk ke dalam gedung rumah sakit, Nayra sudah diberi alarm pada matanya. Tak jauh darinya sudah banyak hantu penghuni rumah sakit berkeliaran dengan wajah sedikit menyeramkan.


Nayra selalu mengalihkan pandangannya ke berbagai tempat atau fokus pada ponselnya agar tidak diperhatikan oleh mereka.


"Kamu bisa tunggu Om satu jam lagi?"


"Baik Om."


Lagi-lagi irama detik jam terdengar di luar kelas saat Nayra berada di sekolah, telapak tangan itu muncul kembali di kaca jendela dekat pintu.


Namun kemudian Nayra merasa ada seseorang berdiri di sampingnya, napasnya bertiup di telinga Nayra.


Nayra ketakutan sampai tubuhnya mematung, dia pun tak berani melirik ke arahnya. Mulai terdengar suara berbisik yang berulang-ulang "tolong aku, tolong, tolong."

__ADS_1


Tubuh Nayra gemetar, telapak tangan nya dingin, dan dia jatuh pingsan karena tidak bisa menahan ketakutannya.


Nayra melihat gadis seusianya sedang bersandar di pohon besar, wajahnya cantik berambut panjang sebahu. Saat Nayra mendekat ke arahnya gadis itu menangis seraya menunjuk ke arah tanah.


__ADS_2