
"Kamu ini sebenarnya siapa?"
"Anda sedang merasakan pegal dan sakit di pundak, kan? Rasa itu muncul beberapa hari setelah pulang dari mendaki gunung Cermai."
Qodir diam sejenak, dia merasa di bohongi tapi apa yang dikatakan Nayra semuanya benar.
"Saya bisa meringankan rasa sakit anda semetara," ucap Nayra.
"Aku, minta bukti."
Nayra duduk mendekat, tangannya naik meraih tangan gadis berhijab.
Gadis itu turun dari pundaknya seketika pegal di pundaknya hilang, dia tidak percaya. Tapi, buktinya pundaknya terasa ringan.
"Ini hanya sementara."
"Kenapa?"
"Dia ingin anda menemui keluarganya, dia ingin anda membawa tas miliknya dan mengembalikannya kepada keluarganya."
Punggung Qodir merasa pegal kembali, karena gadis itu sudah kembali duduk di sana.
"Apa, anda bisa membantu saya?"
"Tidak!" Jawab Dewa dengan cepat.
"Tapi, kak."
"Tidak Nay, Kaka tidak setuju, Om Adam akan marah pada Kaka."
"Saya mohon," pinta Qodir.
Nayra memegang tangan Dewa, dan mengangguk pelan, namun wajah Dewa sedikit kesal, Nayra diam dan menunduk saja.
"Ya sudah, terserah kamu."
Nayra langsung memeluk Dewa seraya tersenyum. "Kakaku emang T.O.P."
__ADS_1
Nayra dan Dewa berada di dalam mobil Qodir, sedangkan Dewi dan Deden berada di mobil Dewa, mereka menuju alamat yang terdapat di dalam tas ransel milik gadis berjilbab.
Butuh waktu hampir 4 jam, untuk sampai ke alamat yang dituju, adzan Maghrib pun sudah berkumandang. Mereka menyempatkan diri untuk sholat terlebih dahulu, mereka sholat di sebuah mushola yang berada di sebuah desa, tempat tinggal si gadis berhijab.
Setelah itu, mereka mulai berjalan kembali sekitar lima puluh menit, seorang pria paruh baya menunjukkan rumah dengan pagar berwarna hijau.
"Assalamualaikum!" Cukup lama mereka menunggu jawaban pemilik rumah.
"Assalamualaikum!" Deden mencobanya sekali lagi, dan akhirnya ada yang menjawab, "waalaikumsalam."
Keluar seorang ibu dari dalam rumah, usianya sekitar enam puluh tahun, tubuhnya sedikit gemuk dengan rambut disanggul keatas. "Siapa ya?" tanyanya.
Gadis berhijab itu turun dan mendekati si ibu. Dia nangis terisak disampingnya. Tubuh Qodir menjadi ringan, setelah gadis itu turun.
Qodir memberikan tas ransel kepada si ibu, tangisan ibu pecah ketika dia memutar-mutar tas yang di duga milik anaknya.
Beberapa anggota keluarganya muncul dari dalam ketika mendengar tangis si ibu. "Emak, kunaon?" tanya seorang anak laki-laki.
"Iye boga si teteh!" ucapnya.
Si ibu dan anak laki-laki di bawa masuk oleh anggota keluarga yang lainnya, dan seorang bapak yang di duga ada suami dari si ibu mempersilahkan Nayra dan yang lainnya untuk masuk.
Qodir mulai menjelaskan, bagaimana dia bisa turun gunung dengan membawa tas ransel milik putrinya.
"Pukul 5 sore saya mulai naik dari pos satu, seorang diri. Kemudian di pos ketiga saya bertemu seorang gadis yang tidak memiliki tenda dan dia mendaki seorang diri, sama dengan saya. Saat itu hujan turun sedikit deras, dan kami berteduh di sana bersama-sama. Saya tidak merasakan kejanggalan apa pun, seperti rasa takut atau merinding. Saya tidak begitu mengenali wajahnya karena saat itu gelap, cahaya dari api dan senter tetap tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Kami berbicara panjang lebar sambil memasang tenda, dia mengaku bernama Andra. Karena hujan belum juga reda, terpaksa saya berkemah di pos 3.
Karena saya mengantuk, saya mempersilahkan dia masuk ke dalam tenda untuk beristirahat sedangkan saya tidur di luar. Keesokan paginya, Andra tidak bisa saya temukan, saya merapikan seluruh barang dan meninggalkannya di sana Kemudian saya mendaki, sampai puncak siang hari, dan saya tidak bertemu dia, hanya pendaki yang naik dari jalan yang berbeda, saya sempat menanyakan pada yang lain, tapi mereka tidak menemukan ciri-ciri yang saya gambarkan. Saya kembali turun dan menemukan tas Andra masih berada di pos 3, saya terpaksa membawanya turun dengan maksud siapa tahu dia ada di bawah. Ternyata saya tidak menemukannya juga.
Niat saya ingin di titipkan di pos 1, hanya saja saya khawatir mereka tidak amanah, maka saya bawa pulang dan setelah 3 bulan baru saya bertemu Nayra hari ini."
Mereka semua mendengarkan dengan serius cerita Qodir. Dengan si ibu yang masih terisak.
"Anak kami Andra, sudah tiga tahun tidak pulang, dia dinyatakan hilang setelah hampir dua Minggu mencarinya di gunung." Bapaknya Andra menyeruput kopi yang tersedia di meja dan kembali meneruskan ceritanya. "Dibelakang rumah kami, ada makam Andra tanpa jasadnya."
Nayra melihat gadis itu memeluk tubuh anggota keluarganya, dia tersenyum dan menghilang.
__ADS_1
Nayra dan yang lainnya pamit pulang, dan mereka berempat memisahkan diri dari Qodir. Hari ini pengalaman pertama buat Nayra, bertemu dengan jin yang hanya ingin melepaskan rindu.
🍇🍇🍇
Adam dan Syahla mengajak Nayra jalan-jalan pagi ini seperti layaknya sebuah keluarga. Mobil Adam berhenti disebuah mini market, Adam ingin membeli beberapa makanan ringan.
Syahla lebih dulu keluar dari mobil, di ikuti Nayra yang duduk di kursi belakang. Saat Syahla mendorong pintu mini market mata Nayra berkedut dan Nayra menghentikan langkahnya.
Adam keluar dari mobil dan berjalan meninggalkan mobil.
"Kenapa Nay?" Adam merangkul Nayra untuk masuk ke dalam mini market tersebut.
Suara jeritan terdengar dari ujung ruangan mini market, tiga pengunjung berlari ke arah pintu termasuk Syahla.
"Ada apa?" ucap Adam panik seraya menghampiri Syahla.
"Ada pengunjung yang kejang tapi suara yang keluar dari mulutnya seperti meraung," ucap salah satu petugas mini market yang berlari di belakang Syahla.
'Tidak ini seperti?' ucap Nayra dalam hati dengan mata yang mencari-cari kearah yang terhalang rak-rak.
Suara aneh terdengar dari ujung rak,
Salah satu petugas laki-laki mendekati sumber suara tersebut. Lalu terdengar suara erangan bahkan dibarengi suara yang berat. Petugas yang tadi mencoba mendekat kembali ke arah meja kasir dengan wajah ketakutan
"Kaya kesurupan," ucap petugas itu.
Adam mencoba mendekati ke arah sumber suara,
"Mas, mau kemana?" tanya Syahla.
"Tunggu di sini," ucapnya sambil melepaskan pegangan tangan Syahla.
"Nayra temenin Om," ucap Nayra mengikuti Adam dari belakang.
Saat hampir mendekati orang yang berada di sana benda-benda yang ada pada rak berhamburan jatuh ke lantai membuat orang yang berada di kasir teriak dengan keras.
"Mas Adam, Nayra, kembali," pinta syahla khawatir. Namun, Adam hanya memberi isyarat dengan jari di bibirnya. Salah satu petugas sudah membuka lebar-lebar pintu mini market karena khawatir akan terjadi sesuatu.
__ADS_1