
Nayra makan malam di restoran bersama Adam setelahnya mereka berbelanja kebutuhan rumah. Sesekali mata Nayra berkedut jika akan melihat sesuatu, mata berkedut itu bagaikan alarm buat Nayra.
[Apa mata kananku yang berkedut ini menandakan adanya makhluk] gumam Nayra. Setelah selesai mereka berdua kembali pulang.
Saat membelokkan mobil ke gang rumah kosong, mata Nayra berkedut lagi, dia sempat memegang matanya. Di rumah kosong itu terdapat anak remaja yang sama pada malam kemarin sedang duduk di rumah kosong sambil bersenandung.
Nayra membulatkan kedua matanya ketika mobil mulai mendekati rumah kosong, dia melihat bayangan hitam itu sedang berdiri tegap dengan matanya yang merah, tapi bayangan itu tidak melihat ke arah Nayra, sepertinya dia tidak tahu bahwa Nayra sedang menatapnya. Adam membunyikan klakson mobilnya untuk menyapa para pemuda yang biasa nongkrong, dan mereka hanya melambaikan tangan saja.
Esok harinya Adam berangkat lebih pagi karena akan ada operasi, Nayra sempat ditawari les bareng Dewi untuk diantar sopir, tapi Nayra menolak.
Jalan biasa masih ditutup karena panggung pengantin sudah terpasang, sebenarnya kalau pejalan kaki bisa saja lewat, tapi Nayra malu untuk lewat di depan orang banyak.
Nayra terpaksa harus lewat kembali ke rumah kosong tempat di mana bayangan hitam itu ada, matanya tidak berkedut Nayra merasa aman sampai melewati rumah tersebut, dia sempat membuang napasnya setelah melewati rumah kosong.
Saat Nayra menunggu bus di halte, dia bertemu dengan para pemuda yang mengajaknya bicara malam kemarin.
"Kamu Nayra, kan? " tanya salah satu pemuda yang waktu itu mengajaknya bicara.
"Iya, Ka."
"Aku baru tau kalo kamu keluarganya om Adam, berarti kamu kenal Dewi, dong?"
"Aku sepupunya, aku anaknya om Adam."
"Oh, kamu anaknya, Dewi itu teman SMP."
Nayra mangut-mangut, dia heran kenapa mereka bisa mengenal Adam, sedangkan mereka baru saja pindah dua bulan lalu. "Kok bisa kenal, om Adam?"
"Loh, tadi kamu bilang anaknya. Tapi kok panggilnya Om?" Nayra hanya canggung jika memanggil Adam Papah sedangkan dia belum menikah, makanya mereka sepakat memanggil Adam dengan sebutan Om saja.
"Aku anak angkatnya, Ka."
"Mmm, dulu Pak Adam itu pernah tugas atau magang gitu di klinik, di puskesmas sini, tahunya Om-nya si Dewi, oh iya nama aku Joni, Waktu itu aku belum kasih tahu namaku." Dia mengulurkan tangan.
"Yang lain ke mana, Ka?"
"Beda sekolah jadi enggak bareng."
"Duluan ya, Ka. Mobilnya datang."
"Oke hati-hati."
Nayra mengangguk dan segera naik ke dalam mobil bus.
"Mungkin besok baru bisa lewat sini," oceh Nayra. Ketika melewati gang yang sedang penuh tamu undangan pernikahan. Dia baru saja pulang dari les BIMBEL-nya.
__ADS_1
Mata Nayra langsung berkedut ketika masuk ke gang yang akan dia lalui, gang di mana bayangan hitam berada, suasana malam ini sedikit lebih ramai ada saja orang yang lalu lalang dan juga para pemuda yang seperti biasa duduk di sana.
"Nayra!" Seseorang memanggilnya ternyata Joni yang berlari ke arahnya.
"Sudah aku tebak kamu pasti pulang jam segini."
"Iya Ka." Nayra tersenyum.
Nayra melihat sosok bayangan hitam di belakang Joni, Bayangan Hitam itu mondar-mandir di tengah jalan sembari teriak seperti orang yang sedang marah. Nayra sampai memicingkan mata karena terasa ngilu di telinganya mendengar dia yang berteriak lirih.
"Ka, Kakak enggak takut main di rumah kosong?" Nayra berjalan hampir mendekati rumah itu.
"Kan Banyakkan, kalau sendirian ya takut juga."
"Sebaiknya jangan nongkrong di situ Ka, nanti ada yang marah loh."
"Siapa? Rumah kosong kok, paling genderuwo."
Nayra mulai melewati rumah kosong, dia sedikit mempercepat langkahnya.
"Aku antar, ya?" Pinta Joni.
Nayra menghentikan langkahnya ketika hampir bertubrukan dengan si bayangan hitam.
Bayangan hitam itu berhenti juga di depan Nayra, Nayra tidak berani menatap ke depan karena takut bayangan hitam itu menyadari jika Nayra bisa melihatnya. Nayra menunduk perlahan. [Bagaimana ini?]Tubuh Nayra sedikit gemetar dan juga terasa dingin.
"Kenapa, Nay. Kamu sakit?"
Nayra baru saja memiliki alasan untuk mengalihkan makhluk di depannya. "Iya Ka, mendadak sakit perut," bohong Nayra.
Joni melangkah maju ke depan Nayra dan mengambil buku yang Nayra pegang, bayangan itu berjalan lagi mondar-mandir di tengah jalan. Nayra membuang napasnya karena sudah lepas dari bahaya.
"Ayo, aku antar pulang."
"Iya, Ka. Terima kasih." [Ternyata benar, Cuma aku yang bisa lihat si bayangan itu, buktinya Joni tidak melihatnya].
Ketika akan berbelok Nayra melihat ke arah rumah kosong, bayangan itu masih mondar-mandir di tengah jalan terlihat makin marah karena teriakannya makin nyaring.
Nayra mencoba menyambungkan kemungkinan matanya berkedut karena akan melihatnya. Sekarang Nayra juga jadi tahu dan bisa menghindari si bayangan hitam.
"Sudah sampai." Nayra baru sadar kalau sudah berdiri di depan pagar rumahnya.
"Terima kasih, ya Ka."
"Boleh mampir enggak, nih?."
__ADS_1
"Tapi enggak ada orang di rumah, Ka." Nayra melihat kondisi rumah yang masih gelap di lantai atas, sepertinya Siti juga tidak di rumah.
"Ya udinlah duduk di sini saja, di luar ngapelinya." Joni menyandarkan tubuhnya ke pagar.
"Ngapelin siapa, Ka?"
"Ini kan malam minggu, ya ngapelin Om Adam lah."
"Ooh."
"Kok oh sih, ya ngapelin kamulah." Sambil memamerkan senyumnya Nayra Cuma ikut senyum saja.
"Ka, kalo bisa jangan main di rumah kosong tadi."
"Sudah dua kali loh kamu kasih tahu, di sana enggak ada orangnya, jadi enggak bakal ada yang marah, kita sudah sering kok main di situ."
"Bagaimana ya bilangnya, hmmm."
"Kamu indigo, ya. Bisa lihat makhluk gitu-gituan?"
[Indigo?]
"Eh, bengong." Joni menyenggol lengan Nayra, Gadis itu hanya tersenyum.
"Aku balik, ya. Ga enak juga kalo ada yang lihat kita berdua begini."
"Iya Ka, terima kasih ya."
"Kapan-kapan boleh enggak, aku main ke rumah?"
"Tunggu dapat ijin Om Adam dulu, ya kak."
"Oke, salam sama Om Adam." Lalu Joni pergi meninggalkan Nayra.
Nayra dan Dewi berjalan bergandengan tangan di sebuah mall terbesar daerah Jakarta selatan. Entah ada diskon atau sedang ada syuting di mall , tempat ini sangat ramai pengunjungnya.
Mata Nayra berkedut, dia berpikir apa bayangan hitam itu tahu kalau dia di mall, Nayra terus celingak-celinguk mencari keberadaan si bayangan, sampai-sampai Nayra akan menabrak seseorang.
"Eh, hampir saja."
"Kenapa, Nay?"
[Aku rasa tadi aku hampir menabrak seseorang, ke mana orang itu pergi],
"Barusan__ Ah tidak apa, ayo!" Ke mana orang tadi, jelas-jelas barusan Nayra hampir menabraknya, aneh, apa mata Nayra bermasalah.
__ADS_1