Netra Merah

Netra Merah
Penglaris


__ADS_3

Meski perasaannya merasa aneh Nayra turun juga dari mobil, mereka sudah memilih tempat duduk yang kebetulan jaraknya jauh dari food car. Damar dan Rio mendekati food car dan memesan makanan yang sudah dipilih masing-masing.


Kurang dari tiga puluh menit makanan sudah tersaji, saat pelayan menjauh Nayra langsung mencium bau yang tidak sedap, tercium bau dupa dan bunga yang dibakar.


"Tunggu," ucap Nayra ketika Dewi akan memasukan makanan ke mulutnya.


"Kenapa?" tanya Dewi.


"Makanannya aneh," ucap Nayra.


Damar menaruh sendok secara perlahan ke atas meja, "jangan-jangan?" ucap Damar ragu-ragu.


Nayra melihat serius kearah makanan di meja, tidak terlihat apa pun di sana.


"Bagaimana Nay, ada apa?"


"Entahlah, tidak ada apa-apa tapi Nayra mencium bau dupa pada makanan ini," ucap Nayra.


Nayra melihat kearah pengunjung yang sedang makan, mereka duduk berjajar sampai ke food car. Nayra berdiri dan berjalan mendekati food car tersebut, Nayra tidak menemukan hal yang janggal.


Tanpa Nayra sadari Rio mengikutinya,


Nayra berbalik dan hampir bertubrukan. Nayra dan Rio sama-sama melangkah mundur.


"Maaf," ucap Rio.


"Kalian sedang apa?" Si penjual memergoki Nayra dan Rio.


"Maaf pak, saya mau cuci tangan," kilah Nayra.


"Itu di belakang mobil ada gentong berisi air, silahkan pakai," ucapnya.


"Terima kasih, Pak."


Nayra mulai berjalan ke belakang mobil, disitulah Nayra mulai berkedut matanya. Suara-suara mulai terdengar di telinganya.


"Srup srup!" suara seperti menyedot air yang hampir habis.


Nayra celingukan mencari sumber bunyi, Nayra berjalan ke sisi mobil yang satunya.


Nayra melangkah mundur dan menarik Rio. "Ada apa?"


"Ada seorang wanita dengan wajah menyeramkan duduk di atas mobil, lidahnya menjulur kebawah," Nayra menjelaskan sambil berjalan menjauhi mobil.

__ADS_1


Ketika di bangku pengunjung yang pertama, mata Nayra berfokus pada mereka yang sedang memakan hidangannya. Nayra merasa jijik karena melihat belatung, bunga serta rambut di atas piring saji. Mereka menikmati tanpa geli.


"Ayo cepat kita pergi," Nayra terus menarik Rio sampai ke meja di mana 3D sudah menunggu sambil merasa was-was. Nayra merasa mual ketika makanan yang tersaji di mejanya sangat menjijikan.


"Kamu kenapa, Nay?" tanya Dewi khawatir.


"Ayo cepat pergi, bau sekali tempat ini," ucap Nayra yang kemudian merasa mual lagi hingga Nayra ingin muntah.


Rio tetap meninggalkan uang di atas meja Tampa menyentuh makanannya. Rio memapah Nayra ke mobil diikuti ketiga temannya.


"Ada apa Nayra," tanya Damar. Seraya masuk ke dalam mobil.


"Makanan yang mereka hidangkan sangat menjijikan."


"Benarkah?" ucap ketiganya seraya melihat kearah mereka yang memakan makanannya dengan lahap.


"Kalian ingin lihat?"


Pertanyaan Nayra membuat mereka mengangguk kompak karena ingin tahu apa yang mereka makan.


Nayra memejamkan mata sebentar kemudian membuka mata kembali, matanya berubah merah yang kemudian keluar cahaya merah menerangi mobil seperti kilatan cahaya.


"Lihatlah keluar," ucap Nayra.


Karena tidak kuatnya menahan mual, Rio memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Rio langsung keluar dari mobil dan memuntahkan isi perutnya di sisi jalan.


Ketiga D juga ikut mual ke sisi jalan dengan napas mereka yang tersengal, mereka menahan napasnya sejak tadi.


Nayra yang khawatir ikut keluar dan mengusap punggung Rio.


"Kaka, baik-baik saja."


Rio menggeleng. "Apa itu tadi, bau dan menjijikan."


"Entahlah, mungkin itu salah satu penglaris mereka, aku melihat ada makhluk seram di mobil si penjual sedang menjilati masakan mereka dengan lidahnya yang terjuntai cukup panjang. Mereka berempat bergidik mendengarnya.


...***...


Deden bernyanyi disertai Dewa yang memetik gitar. Nayra dan Dewi tertawa ringan mendengar kedua sahabat itu merubah kacau lirik aslinya. Mereka berkumpul bersama di rumah Dewa untuk menikmati malam minggu yang panjang.


Pagi hari kemudian, Nayra sudah lengkap dengan kostum olahraganya, kali ini kedua Kaka beradik ini memaksanya untuk keluar, termasuk Deden dengan mata yang masih setengah tertutup karena mengantuk.


Mereka mulai dengan berlari kecil di jalan konblok, ketika keluar dari gang komplek perumahan hingga ke taman kota yang sudah dipenuhi para pengunjung.

__ADS_1


Mata Nayra memberi sinyal, pandangan Nayra mencari-cari. "Hem." Nayra berdehem ketika melihat seorang pria berambut panjang sebahu berlari melewatinya. Ternyata sinyal itu baru saja lewat. Kenapa jin itu menyerupai gadis berhijab, apa yang terjadi dengannya.


Di sore harinya, ketiga orang yang sejak semalam membuat Nayra kesal, malah memaksa Nayra lagi untuk ikut, mereka membawanya pergi ke mall.


Tanpa sengaja Nayra bertemu lagi dengan pria dan gadis berhijab, wajah si gadis terlihat sedih. Gadis itu melihat ke arah Nayra, dan dia seperti memohon bantuan Nayra, ketika mereka saling berpapasan jalan. Padahal dia tidak tahu jika Nayra dapat melihatnya.


"Ka Dewa." Nayra menahan lengan baju Dewa.


"Mm." mereka bertiga berhenti.


"Ada sesuatu, kalian mau bantu?"


"Jangan bilang." Dewi sudah merasa kalau Nayra akan mulai cari masalah.


Nayra malah memamerkan gigi putihnya.


"Kali ini apa? Cewe, cowo, apa binatang!"


"Cewe, cantik dan berhijab."


Dewa mencubit keningnya, dia membayangkan kalau Adam akan memarahinya lagi kali ini. Dewa tidak bisa menolaknya, mereka mulai mencari-cari pria dengan rambut sebahu yang sudah Nayra berikan ciri-cirinya.


Akhirnya pria yang di maksud dapat ditemukan, mereka mengikutinya sampai di toko buku, pria mengambil buku bertuliskan "Nyeri pada tubuh."


Gadis itu menjulurkan tangannya ke arah Nayra, Nayra tak segan menyentuh gadis itu. Dengan cepat memory berputar di pikiran Nayra sehingga Nayra tahu apa yang terjadi dengannya.


Pria itu menoleh ke arah Nayra, karena dia merasa risih ada orang lain yang berdiri di dekatnya.


Nayra sedikit menunduk. "Maaf, apa anda baru pulang mendaki 3 bulan lalu?"


Wajahnya tampak terkejut. "Bagaimana, kamu bisa tahu?"


"Bisa kita keluar dari sini?" Pinta Dewa memotong pembicaraan Nayra dan pria itu.


Dewa memegang tangan Nayra keluar dari toko buku, di ikuti yang lainnya termasuk pria tadi. Kemudian mereka duduk di sebuah area food court, mereka duduk berlima dalam satu meja. Dewa mulai memperkenalkan dirinya serta yang lain dan pria itu mengaku bernama Qodir.


"Mengapa, kamu bisa tahu, kalau aku baru pulang mendaki?" tanya Qodir masih penasaran.


"Dia." tunjuk Nayra ke pundak Qodir.


Qodir mengerutkan alisnya, namun sudut bibirnya naik seakan Nayra sedang membual.


"Anda, bertemu dengannya saat mendaki." Nayra diam sejenak dan memperhatikan sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain. "Dan dia menghilang Ketika anda bangun."

__ADS_1


__ADS_2