Netra Merah

Netra Merah
Kamaitachi part 2


__ADS_3

Dewa Tengu membawa Nayra kembali ke dunia nyata, Nayra terkulai lemas duduk dilantai. Nayra bingung bagaimana bisa dia berada di dalam kelas dengan para biksu mengelilinginya. Ada pak Urabe juga Tatsuo.


Tatsuo menghampiri Nayra dan memegang cermin yang Nayra pegang. "Apa kau baik-baik saja?". Nayra mulai meringis, perih pada luka ditubuhnya mulai terasa. Rio dan Dewi berlari kearah Nayra.


"Nay," ucap Dewi. Seraya memegang Nayra yang terisak sambil menahan tangisnya.


Rio mengangkat tubuh Nayra. "Bawa dia ke klinik, Ayo cepat!" ucap Rio. Dewi mengikuti Rio membawa Nayra keluar dari sekolah menuju klinik yang tidak jauh dari sekolah.


Pak Urabe dan Tatsuo datang ke klinik namun Rio menghadangnya, "Biarkan Nayra beristirahat."


"Kami hanya ingin pamit dan berterima kasih," ucap Tatsuo.


"Sudah selesai?" Tanya Nayra pada suster yang menjahit luka di pahanya, Nayra mendapat dua jahitan di paha akibat sayatan pria sabit.


Suster membuka tirai pembatas, dan meninggalkan Nayra yang duduk di ranjang klinik. Pak Urabe menundukkan kepala "Arigatou", Nayra juga menundukkan kepalanya menghormati pak Urabe.


"Terima kasih Nayra, pak Urabe akan kembali ke Jepang dan mengurung cermin ini di sana," ucap Tatsuo.


Pak Urabe bicara pelan pada Tatsuo, "Dewa Tengu bertanya apa ada permintaan yang ingin kamu inginkan sebagai tanda terima kasihnya padamu?"


"Aku ingin normal seperti yang lain," ucap Nayra.


Pak Urabe menggelengkan kepalanya dan kembali bicara dengan bahasa Jepang.


"Untuk itu tidak bisa, karena sudah ada yang menetap di dirimu, apa lagi ada harimau yang sudah ada sejak kamu bayi karena leluhur yang memintanya," ucap Tatsuo menerjemahkan.


Nayra melebar matanya, dia terkejut 'harimau' dia tertunduk sedih, dia ingin sekali normal seperti manusia yang lain.


Pak Urabe mendekati Nayra dan menunjuk mata kanan Nayra, dia membaca beberapa kalimat yang Nayra tidak paham, Nayra mengaduh karena matanya sedikit ngilu dan sakit. Pak Urabe mengucapkan beberapa kata yang kemudian diartikan Tatsuo.


"Matamu akan bekerja sesuai keinginanmu, kamu tak perlu lagi menggunakan softlens untuk menutupinya."


"Benarkah?" Ucap Nayra sedikit senang. Tatsuo mengangguk.


"Tengu berbicara pada makhluk di tubuhmu, dia ingin memberimu hadiah penutup mata yang dapat digunakan tanpa harus menutup kekuatannya, dan mereka setuju."


"Mereka?"


"Suatu hari kalian akan bertemu."


Kemudian Tatsuo dan Pak Urabe pamit kepada Nayra, dan mengucapkan kembali rasa terima kasihnya kepada Nayra.


Setelah itu Nayra habis-habisan dimarahi Adam karena luka-lukanya, Nayra memeluk Adam untuk meredakan amarah Adam padanya.


"Maafkan Nayra, Om." Nayra terisak di pelukan Adam. Adam pun ikut menangis karena sangat menyayangi Nayra.


***

__ADS_1


Polisi datang ke sekolah, Nayra beserta saksi dimintai keterangan terkait kejadian kemarin.


"Dia menyelesaikan kasus hantu lagi?" tiba-tiba muncul Rio di belakang Dewi membuat Dewi mengusap dadanya karena terkejut.


"Kaka kaya hantu, ih," omel Dewi.


Wajah Rio bingung melihat ekspresi kaget Dewi dan tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan mereka seraya melihat Nayra yang mendekati temannya.


"Hantunya ganteng kaya Ka Rio aku sih mau," ucap Dina.


"Ogah kalau aku, sih," ujar Damar.


"Kamu laki, Dam." Kompak Dewi dan Dina membuat Nayra kebingungan dengan temannya itu.


"Kenapa?"


"Ngga ada, ayo." Dewi menarik Nayra menuju kantin di ikuti Dina dan damar.


Saat di kantin Damar menunjukkan sebuah cerita di akun media sosialnya kepada temannya.


"Nay, lihat ini. Aku membuat cerita tentang kejadian tempo hari disekolah, namamu aku samarkan, Nay. Dan kamu tahu? hasilnya cukup positif."


"Lalu?" tanya Dewi.


"Aku memberi nama akun cerita tersebut dengan nama "klub misteri", jadi aku mau ajak kalian di dalamnya."


"Kamu jangan yang aneh-aneh loh, mereka itu enggak suka di ekspos," ujar Nayra.


"Uang." Dina membuka mata yang bersinar.


"Ck, kamu kaya berani saja Dam, kalau mereka muncul yang pertama sembunyi kan kamu."


"Iya sih, tapi mau ya, Nay,"


"Berbahaya loh Dam, aku saja selalu menghindar dari mereka, jadi orang seperti aku itu tidak enak, teman sekelas pun takut berbicara denganku."


"Maaf bisa ganggu sebentar?" Seorang siswi mendekati mereka. Semuanya menoleh ke arahnya.


"Apa kamu Nayra, yang bisa melihat hantu?"


Siapa yang tidak tahu Nayra di sekolah mereka. Namanya sudah cukup terkenal.


"Ya, nih dia orangnya," ucap Damar langsung menimpali.


"Entah ini benar atau tidak, tapi tolong bantu aku."


"Apa itu?" tanya Dewi yang selalu antusias meski penakut.

__ADS_1


"Sepertinya, aku di ikuti setan."


Nayra menarik senyum seringai di bibirnya, "gak ada yang mengikuti kamu," ujarnya.


"Tapi, sudah beberapa hari ini aku seperti di ikuti orang, tapi tidak ada, bahkan sampai di dalam kamar yang hanya ada aku sendiri saja, aku merasa ada seseorang di dekatku."


'Apa anak ini bercanda, tidak ada apa pun yang mengikuti dia' "Itu hanya perasaanmu saja."


"Apa kamu yakin?," Dewi berbisik. Nayra mengangguk.


"Ternyata kalian juga tidak percaya." lalu siswi itu meninggalkan mereka.


"Apa iya tidak ada hantu di dekatnya, Nay?" tanya Damar dan Nayra mengangguk. "Tapi dari wajahnya dia serius loh, Nay."


"Mungkin saja, tapi saat ini dia benar-benar sendiri."


Saat pulang sekolah, Nayra berjalan bersama teman-temannya. Nayra terdiam merasa bulu kuduknya berdiri ketika melewati lapangan sekolah. Dia menghentikan langkahnya untuk memastikan apa yang terjadi, ditambah lagi dengan matanya berkedut, membuat Nayra menjadi penasaran, tanda-tanda yang menandakan ada makhluk lain di dekatnya.


Makhluk itu pasti kuat dan membahayakan, karena sesuatu yang di rasakan Nayra cukup besar. Jika makhluk itu biasa saja, mungkin matanya hanya berkedut.


Mata Nayra berkeliling, dia seperti meneropong semua area yang di jangkauannya, bahkan Nayra sampai memutar badannya untuk mencari keberadaan makhluk itu.


Dewi sadar betul sepupunya tidak ada di sampingnya, Dewi mencari-cari, ternyata Nayra tertinggal beberapa langkah di belakangnya.


"Dia merasakan sesuatu," Dewi bergumam.


"Kau benar," ucap Dina.


"Mungkin ini saatnya," ucap Damar.


"Nay, apa yang terjadi?"


Nayra kehilangan konsentrasinya dan menoleh kearah Dewi yang memanggilnya. Tatapan penuh menggebu dari ketiga temannya membuat Nayra tersenyum.


'Sial, mereka benar-benar bersemangat' Nayra melangkahkan kakinya menyusul temannya.


"Apa kamu sudah merasakan sesuatu?" tanya Damar.


"He'em," jawab Nayra ditambah anggukan. "Kalian pengecut tapi sangat bersemangat."


Mereka melebarkan senyumnya, seakan Nayra setuju dengan klub misteri yang Damar usulkan.


"Kamu akan melindungi kita kan?" tanya Dewi.


"Kalian harus nurut apa yang aku bilang, demi keselamatan, oke!"


"Jadi kamu setuju, Nay?"

__ADS_1


"Aku tidak bilang, iya loh Dam."


"Aah, kamu memang sahabat terbaik aku," Damar menggandeng tangan Nayra dengan erat.


__ADS_2