
Dewi dan Dina terus mengeluarkan kalimat yang nayra tidak bisa dengar apa yang mereka bicarakan sangat bising di telinga Nayra. hingga Rio menarik Nayra dari sana dan terus berjalan menjauhi gerbong khusus wanita, yang lain hanya mengikuti sambil sesekali bertanya. " ada apa?" dan " mau kemana?"
Debaran dada Nayra lambat laun menghilang ketika menjauhi gerbong khusus wanita. Nayra menghentikan langkahnya dan kembali duduk di kursi penumpang ditemani Rio.
"Kalian berdua tidak bisa diandalkan, bisa saja tadi Nayra dalam bahaya," oceh Rio pada Dewi dan Dina.
"Maaf ka, aku tidak tahu," ucap Dina.
"Kamu baik-baik saja,Nay?" Tanya Dewi dan Nayra mengangguk.
"Dia ada di sana, tidak terlihat olehku, tapi dia terpantul melalui cermin."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Tidak ada Dam, dia memang di sini tempatnya, dia hanya suka berbisik pada orang yang sedang terganggu pikirannya," tiba-tiba mata Nayra berkedut, "Dia di sini, diam lah," seketika mereka berlima tidak saling bicara bahkan sebagian asik memainkan ponselnya.
Nayra menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan hantu wanita, namun tidak terlihat di mana pun, Nayra bersandar dan tersadar ada sosok yang terpantul di jendela. Bayangannya muncul di kaca jendela. dia datang dari arah gerbong lain berjalan mendekati Nayra dan yang lainnya.
Nayra tetap diam memandang kearah jendela, Nayra seperti yang sedang melamun, diam membeku.
Temannya berbalas pesan khawatir melihat Nayra yang diam saja. Rio pindah duduk ke seberang Nayra, menekan nomor di ponselnya.
Suara ponsel Nayra berdering, Nayra melihat layarnya, tercantum nama Ka Rio di sana, dia geser warna hijau.
"Hallo"
"Apa dia di dekatmu?"
"He'em."
"Apa kamu ingin pergi dari sana?"
"Tidak, aku akan tetap di sini."
"Baiklah, biarkan ponsel ini tetap di telingamu."
"Baiklah."
Wanita itu sudah berdiri tepat di depan Nayra, Nayra tidak dapat melihatnya secara langsung, Nayra melihat dia tepat di jendela yang kini di duduki Rio.
Dia membungkuk mendekati wajah Nayra, bulu kuduk berdiri di leher Nayra, dia mengusap tengkuknya.
"Kamu merinding?"
"He'em"
"Apa perlu aku mendekat?"
"Ya, mendekat lah."
__ADS_1
Rio berdiri dan mendekati Nayra, kini dia tepat berdiri di tempat yang sama dengan hantu itu, seketika mata Nayra berubah merah, hantu itu terkejut melihat mata Nayra. Rio pun melihat mata Nayra yang mendadak berubah merah dan pupil yang berbentuk mata kucing.
Seketika Rio terperanjat karena bisa melihat hantu wanita itu tepat di sampingnya, " aaaa!" karena terkejutnya Rio memukul wajah wanita itu "bugh!" dan anehnya wanita itu jatuh terlentang dan menghilang.
Ketiga D bingung dengan reaksi Rio barusan, suaranya sempat mengagetkan seisi gerbong dengan penumpang yang tidak banyak.
"Kenapa ka?" Tanya Damar. Rio tidak menjawab karena masih terkejut.
Mereka akhirnya turun di stasiun Tanah Abang, wajah Rio pucat, kepalan tangannya masih gemetar, Nayra menggenggamnya dengan erat dan menepuk-nepuk beberapa kali.
Ketika sudah berada di luar kereta, Rio jatuh bersandar di sisi peron.
"Sial, apa itu tadi!" Teriak Rio. Nayra malah terkekeh.
"Ada apa?" Dewi penasaran.
"Ka Rio, bisa lihat hantunya," Nayra terkekeh lagi.
"Benarkah?" Jawab D kompak.
...****************...
"Nayra, tahu ngga yang lagi viral di tiktok?" Nayra hanya menoleh ke arah Damar.
"Yang mana Dam?" tanya Dewi.
"Itu loh rumah makan yang katanya pake jin untuk penglaris."
"Apa bisa kita cari tahu tentang para pedagang yang melakukan kerja sama dengan jin untuk penglaris dagangannya?"
"Itu berarti kita menantang dukunnya Dam," ucap Dewi.
"Kalau orang biasa mungkin tidak tahu, tapi kalau Nayra pasti tahu," ucap Dina menambahkan.
"Mudah saja sebenarnya, kalian lihat di dindingnya ada bungkusan kecil yang tergantung atau tidak."
"Loh, emang iya ya? Banyak dong berarti. Tapi kan belum tentu sama dukun bisa saja ke ustadz."
Nayra terkekeh."Intinya cuma usaha sama sholat, mau kemana pun tempat yang mereka tuju kalau ada benda-benda asing yang harus di puja itu pasti ada jin nya dan jangan lupa baca doa setiap mau makan, insya Allah jin kaga masuk atau ambil makanan kita."
Rio tersenyum melihat Nayra menjelaskan kepada temannya.
"Mesem-mesem aja ka," ledek Dewi.
Rio mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan rasa malunya karena kepergok oleh Dewi. Sedangkan yang lainnya penasaran apa yang dimaksud Dewi.
"Apa malam ini kalian ada acara?" tanya Rio.
"Kenapa ka?" Dewi balik bertanya.
__ADS_1
"Aku ingin mengajak kalian berkuliner di kawasan pasar lama Tangerang."
"Wah, kalau makan aku tidak menolak," seru Dina.
"Bagaimana dengan kamu, Nay?"
Nayra menoleh ke arah Rio. Dewi yang tepat di samping Nayra menyenggol lengan Nayra. Nayra beralih pandangan ke Dewi, Dewi memainkan alisnya.
"Apa?" Nayra bicara pelan.
"Sepertinya ka Rio beralasan mengajak kuliner pada kita, padahal sebenarnya hanya kamu yang di ajaknya."
"Ck, kamu itu bicara apa sih, Wi."
Dewi tersenyum melihat wajah Nayra yang merona.
"Bagaimana, Nay?"
"Selama jalan sama Dewi, aku ikut aja, ka."
"Nanti sore aku jemput kalian berdua, ya?"
Nayra mengangguk sedangkan Dewi menggoda Rio dengan alis yang naik turun dengan senyum mengejek.
"Aku sama Damar gimana, Ka?"
"Kalian berdua kerumah Kaka atau sudah berada dirumah Nayra, kalian pikir saya supir antar jemput kalian."
"Ah, Kaka pilih kasih," Dina cemberut.
Sore harinya tepat waktu yang dijanjikan, Rio sudah datang menjemput adik-adik kelasnya dirumah Nayra.
Dewi dan Damar berwajah masam karena di ancam Rio.
"Saya tidak mau menunggu, yang terlambat saya tinggal."
Kata-kata Rio membuat Damar dan Dina yang selalu lelet menjadi kesal karena harus lebih awal datang ke tempat Nayra.
3D langsung saja duduk dibelakang, Nayra yang polos mendadak bingung karena sudah tidak ada tempat untuknya. "Aku di mana?"
"Ya di depan lah," jawab 3D kompak seraya terkekeh.
Rio yang memegang setir mobil tersipu dengan kepolosan Nayra, Nayra sendiri dengan wajah bingungnya seakan sadar teman-temannya sengaja mengerjainya.
"Pakai sabuk pengamannya."
Nayra langsung mengikuti arahan Rio. Tanpa mereka sadari Dewa memperhatikan adik-adiknya dari kamarnya.
Setibanya di kawasan pasar lama Tangerang, wisata kuliner di sana penuh pengunjung, Rio sadar betul kalau Nayra tidak suka keramaian.
__ADS_1
Maka Rio membawa mereka ke sisi yang lebih sedikit pengunjungnya, Rio berhenti ketika melihat food car di pinggir jalan dengan tempat yang sudah disediakan, banyak pembelinya namun tempat duduknya berjauhan.
Sebenarnya Perasaan Nayra tidak karuan, rasanya seperti ada makhluk disekitarnya. Tapi, Nayra tidak dapat menemukannya.