Netra Merah

Netra Merah
CCTV


__ADS_3

Adam dan Nayra melihat seorang pria bertubuh gempal dengan tubuh mengejang seperti sedang tersengat listrik.


Nayra menutup mata kanannya karena merasa perih, dan Nayra sudah menyadari ada hal yang aneh ketika berada di depan mini market.


Mata pria itu melihat ke arah Adam dan Nayra, lalu matanya berputar kearah lain sedang kepalanya miring dan mulutnya terbuka lebar.


"Dia kesurupan, Om," ucap Nayra. membuat Adam melihat ke arah Nayra yang tak jauh dari nya.


Nayra melangkahkan kaki mendekati pria itu, dan Adam langsung meraih tangan Nayra.


"Mau apa kamu?"


"Kasian dia, Om."


"Apa kamu bisa?"


"Nayra harus coba."


Nayra melanjutkan kembali langkahnya di ikuti Adam, Saat Nayra sudah hampir mendekat tangan pria itu mengangkat keatas dengan jari-jari yang siap menerkam.


Dia menggerakkan tangannya ke atas dan bawah lalu benda-benda didekat Nayra berjatuhan menimpa Nayra dan Adam. Nayra memekik.


Pria itu tertawa keras seakan mentertawakan Nayra. "Mendekat lah, jika kau bisa." suaranya terdengar seperti orang yang sedang tercekik. "Argh" pria itu meraung membuat semua orang bergidik termasuk Nayra. Di luar sudah cukup ramai karena penasaran.


Nayra memejam mata kemudian kepalanya miring dan keluar suara decitan bambu. Pria itu berteriak dan jatuh dengan lututnya sambil meraung-raung, Nayra maju selangkah demi selangkah menghampiri pria gempal.


Setiap Nayra melangkahkan kaki dengan mulutnya yang mengeluarkan suara seperti sebuah mantra bagi makhluk yang merasuki pria gempal itu sehingga dia jatuh tersungkur hingga tengkurap dilantai sambil berteriak.


Nayra berhasil menyentuh punggung pria itu dengan kedua tangannya, pria itu semakin berteriak histeris, tangan kanan Nayra menarik rambut pria gempal hingga pria gempal itu teriak "Sakit!"


Adam mulai bergerak cepat ikut memegang tubuh pria itu.


"Keluar kau dari tubuhnya," ucap Nayra berbisik mendekati telinga si gempal


"Argh, sakit!"


Nayra tidak melepaskannya tapi malah menarik telinganya hingga dia mengucapkan kata kasar kearah Nayra.


Nayra terkekeh ngeri, Adam yang berada di dekatnya sejak tadi terkejut karena dia tidak pernah mendengar Nayra tertawa begitu menyeramkan.


Mulut Nayra berceloteh kalimat tidak jelas lalu mengusap wajah pria gempal itu dengan tangan satunya yang masih menjewer pria itu.


Pria gempal berteriak keras seraya menarik napas seperti melepaskan sesuatu dari tubuhnya. Seketika aura berubah dalam ruangan mini market dengan lampu yang berkedip berkali-kali. Semua orang melihat kearah lampu.

__ADS_1


Nayra melepaskan tangannya dari pria itu, begitu juga Adam. Pria gempal itu meringis kesakitan hingga terbatuk-batuk.


"Ada apa ini" ucapnya lirih.


"Anda baik-baik saja?" ucap Adam membantu pria itu bangun.


Nayra mengambil minuman dingin dari lemari es, lalu memberikannya pada si gempal. "Minum dulu, Pak." Nayra melangkah menuju kasir. "Udah lama ya, ada yang aneh-aneh?"


"Iya mba, sering banget di sini." jawab petugas mini market.


"Di ruangan gudang biarkan lampunya tetap menyala ya, Ka. kecuali toko tutup," ujar Nayra.


"Kenapa, Mba?"


"Ga apa-apa, jaga-jaga aja, kalau gelap apa pun sulit terlihat, kan?"


Beberapa orang mulai masuk ke mini market, pria gempal itu juga sudah pulih, dia sempat marah-marah karena sekarang tubuhnya terasa sakit.


Karena pria tersebut terus ngotot karena diperlakukan kasar, alhasil petugas mini market beserta kepala toko memutar ulang CCTV yang ada di mini market tersebut.


Disaksikan orang banyak, video tersebut memperlihatkan hal-hal yang menakutkan yang tanpa mereka sadari.


Setiap harinya ada saja penampakan yang usil mondar mandir di area mini market tersebut. Bahkan CCTV diluar mini market pun merekamnya. Tentu saja petugas mini market merasa ketakutan.


Bahkan salah satu petugas mendatanginya namun dirinya malah berteriak membuat petugas itu lari menjauhi. Kemudian Nayra dan Adam kini muncul mendekati pria tersebut dari awal hingga akhir. Tapi, tetap saja pria itu tidak terima atas perlakuan Nayra kepadanya.


"Mba nya ini nolong bapak loh," ucap petugas.


"Dimana nolongnya, jelas-jelas saya di aniayanya, rekaman CCTV jadi buktinya."


ucapnya.


"Bapak jangan asal bicara ya, kalau anak saya ngga begitu, sekarang anda masih kesurupan," ucap Adam membela.


"Bapak ini ga tau terima kasih" ucap Syahla ikut membela Nayra.


Nayra mendekati bapak itu


"Maaf ya pak saya berbuat kasar ke bapak."


"Tuh, anaknya ngaku, kan" ucapnya menyela Nayra


Adam menjadi geram melihat sikap si pria gempal itu.

__ADS_1


"Tapi, Pak." ucap Adam terpotong oleh Nayra yang menahan Adam yang tersulut emosi.


"Gini aja pak, saya balikin lagi aja gimana?"


"Balikin gimana?"


"Maaf ya pak saya pinjam tangannya."


Meski awalnya menolak, tapi Nayra memegang paksa tangannya,Nayra memegang satu tangan si bapak diantara tangan Nayra seperti sandwich.


Si bapak merasa lampu disekitarnya mati, orang-orang satu persatu menghilang, tersisa dia dan Nayra saja. ia melihat makhluk bertubuh besar, botak, dan hitam.


Si bapak itu berteriak ketakutan dan melepaskan tangannya dari Nayra.


"Cukup, cukup. Saya minta maaf," ucapnya ketakutan.


Masalah pun akhirnya selesai, Nayra, Adam dan Syahla kembali pulang setelah berbelanja beberapa cemilan di mini market tersebut.


🍇🍇🍇


"Nay hayo!" teriak Dewi mengajak Nayra untuk segera berangkat ke sekolah.


Nayra mencium punggung Adam pamit untuk berangkat sekolah.


"Hati-hati, Nay!" teriak Adam.


"Om juga ya, salam sama Tante Syahla." Lalu bergegas pergi.


Satu Minggu yang lalu Adam telah melamar gadis pujaannya, di usianya yang ke tiga puluh tahun, bulan depan mereka akan melangsungkan pernikahan. Nayra tampak gelisah ketika melewati rumah Dewi, entah mengapa auranya cukup aneh.


"Papah kamu di Jepang oke, kan?" Tanya Nayra pada Dewi.


"Oke, tadi pagi baru saja telepon, kenapa?"


"Mmm, sudah lama aku tidak dengar kabar Om Daru."


Sesampainya di sekolah Nayra dan Dewi berpapasan dengan Rio, mereka hanya tersenyum lalu pergi, Rio hanya menaruh tangannya di kepala Nayra tanpa ketahuan oleh Dewi, membuat Nayra tertegun sesaat.


"Tanya kek, senyum doang," protes Dewi seraya melihat Rio yang berjalan di depannya.


"Ngarep benar sih, Wi."


"Ya apa salahnya nanya, dia lupa apa, kita itu satu tim, apa lagi kita ini berperan besar mempertemukan kakeknya kepada cintanya." Nayra terkekeh pelan sambil terus berjalan menuju kelas.

__ADS_1


Saat kembali ke rumah, Nayra dan Dewi melihat seorang gadis keluar dari rumah Dewi dengan terisak, saat itu Nayra baru saja turun dari mobil.


__ADS_2