OH MY NDUT

OH MY NDUT
Ep 10


__ADS_3

"Pertama kalian melanggar peraturan dengan membawa ponsel, kami masih maklumi. Tapi lama kelamaan kalian di biarkan malah semakin melunjak (Dengan suara lantang) Kalian tau ini sekolah bukan tongkrongan. Kalian ini masih anak sekolah tapi kelakuan sudah macam orang dewasa" Di raihnya salah satu ponsel keluaran terbaru. Ponsel itu adalah milik Salah satu siswa. Setelah beberapa kali mengotak atik ponsel itu, Bapak kepala sekolah menyunggingkan senyum dengan beberapa kali gelengan kepala"Siapa pemilik hp ini?" seraya mengacungkan ponsel tersebut.


Salah seorang mengangkat tangan "Punya saya pak..."


Tatapan mata Bapak kepala sekolah semakin menusuk "Sini kamu"


Segera siswa tadi menghadap kepala sekolah. Semua teman sekelas saling berkasak kusuk, menduga hal buruk apa yang ada di dalam ponsel tersebut. "Jangan jangan ada film dewasanya" Bisik siswa lain kepada temannya.


"Hustt...jangan sembarangam kamu"


"Saya tidak habis pikir sama kamu, Anton(Kembali kepala sekolah menggeleng kepala)anak sekolah membawa hp semahal ini, bagaimana jika ada orang jahat mengintai kamu? apa kamu tau akibatnya?" mata kepala sekolah hampir saja loncat dari tempatnya.


Anton sangat ketakutan melihat amarah kepala sekolah sampai kepalanya tertunduk. Anton memang anak orang kaya tapi, dia suka pamer. Setiap hal baru yang di miliki pasti ia pamerkan kepada teman temannya.


Tok tok...


Semua orang melihat ke arah pintu. Seorang wanita berpakaian seragam guru, berdiri di sana. Beliau adalah wali kelas mereka.


"Mohon maaf, Pak. Ada sedikit kendala sama motor saya jadi agak kesiangan." Tutur beliau setelah mendekati kedua siswa dan guru di depan kelas.


"Iya, saya maklumi. Sekarang ibu bawa anak ini beri dia penjelasan. Anak sekolah kok bawa hp mahal seperti ini, bagaimana jika nanti ada orang jajat mengintainya. Ya kalau cuma hp yang hilang, kalau nyawanya ikut hilang bagaimana" Ketusnya seraya memberikan ponsel keluaran terbaru, harganya berkisar sekit 6 jt.


"Baik, Pak. Saya akan mengurus anak ini" Sembari menundukkan kepala, ibu wali kelas tersebut menyeret siswanya masuk ruang guru.


Semua murid kembali riuh. Da yang tertawa ada pula yang berkasak kusuk. Kapala sekolah mencari sesuatu lalu "Dan ini milik siapa?" Satu alat make up di tangan kepala sekolah.

__ADS_1


"Astaga, bagaimana ini?" Merry menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


"Tenang kita lempar ke dia saja. Pasti kepala sekolah tidak tau dari tas mana make up itu di ambil..." Lirih Nara.


Merry menatap Nara sesaat "Bagus juga ide kamu"


"Milik Adelia pak..." Lantang Nara.


"Hah..." Semua mata tertuju pada Nara. Mereka tidak percaya jika Adelia membawa barang tersebut "Masa sih.." Seseorang bertanya pada teman sebangku "Setau gua dia iru cupu, mana mungkin dia baqa barang kaya gitu..." Ucap yang lainnya.


"Iya, juga. Bahkan alat make up itu terlihat mewah, mana mampu dia membelinya. Dia itu hanya anak petani teh, kan.." Banyak orang meragukan ucapan Nara karena semua tidak masuk akal.


Adelia sendiri terkajut sebab ia tidak mempunyai itu apa lagi membawanya "Itu bukan milik saya pak" Jawab Adelia.


"Sini kamu..."


"Kamu Nara dan Merry juga maju" Tatapan kecurigaan kepala sekolah mulai mengusik keduanya.


"Astaga, kenapa kita di suruh maju" Merry ketakutan melihat mimik wajah kepala sekolah.


"Sudah, tenang saja. Kita maju dan bersikap biasa saja biar dia tidak curiga" Ucap Nara seraya maju duluan di ikuti dengan Merry.


"Kalian berbaris di tengah"


Setelah mereka bertiga berbaris, bapak kepala sekolah melihat wajah ketiga murid tersebut.

__ADS_1


Kepala sekolah mengitari ketiga anak didiknya dengan melihat sesuatu di wajah mereka "Saya tanya sekali lagi kepada kalian. Milik siapa ini..." Di angkatlah alat make up tersebut "Jawab jujur atau saya..."


"Jelas milik Adelia lah pak, siapa lagi" Ucap Merry.


Kepala sekolah menyunggingkan senyum "Adelia jawab bapak dengan jujur. Apa ini milik kamu?"


"Bukan, Pak. Itu bukan milik saya..."


"Jangan percaya Pak dia itu pembohong" Sambung Nara.


Dari kejauhan Tristan mulai tau siapa datang di balik semua ini. Adelia di tuduh oleh mereka berdua "Saya tau siapa pemilik barang itu..." Segera Tristan maju. Sampai depan kelas, Tristan mengambil tisu dari meja guru "Sekarang saya perlihatkan siapa pemilik alat make up itu..." Pertama Tristan mendekati Adelia seraya mententuh pipi Adelua menggunkan tisu. Kepala sekolah melihat trik jitu tersebut "Bagaimana pak, apakah anda lihat bekas bedak di sini?" Memperlihatkan tisu putih itu tidak ada noda bedak sama sekali.


Merry semakin ketakutan, ia meremas tangan Nara. Namun, Nara berusaha tenang sembari memikirkan cara untuk melindungi diri.


"Sudah terbukti bukan Adelia pemilik alat tersebut. Sekarang kamu boleh duduk..." Ucap bapak kepala sekolah tersebut. Adelia pun mengangguk kemudian kembali menuju tempat duduk.


Tristan masih berdiri depan kelas "Saya ijin kembali pak, sekarang terserah Bapak mereka mau di apakan..." Ia tak sudi menyentuh wajah kedua gadis gila tersebut.e


"Iya, Terima kasih, Nak."


Bapak kepala sekolah pun menatap keduanya seraya mengusap wajah keduanya.


"Merry, ternyata kamu dalangnya."


"Maaf, pak. Saya di suruh Nara" Jawab Merry menunjuk Nara.

__ADS_1


"Apaan sih..." ucap Nara.


"Oh, jadi kalian merencanakan ini semua untuk menuduh Adelia. Kalau begitu sekarang kalian keluar, berdiri di bawah tiang bendera sampai jam pulang sekolah" Ketus Pak kepala sekolah.


__ADS_2