
"Saya turun depan mini market saja" Ucap Adelia.
"Kenapa turun di sini, biar saya antar sampai rumah kamu " Tristan menoleh ke belakang sambil menatap wajah Adelia.
"Tidak perlu, terima kasih tawarannya. Tapi saya mau sekalian belanja dulu" Adelia bersiap keluar, namun Abraham menggapai tangannya "Tunggu, malam nanti saya ingin mengajak kamu makan malam di rumah saya" Pinta Abraham.
"Mohon maaf sebelumnya, tapi saya sudah ada janji nanti malam. Lain kali saja, pak" Jawab Adelia tanpa basa basi.
Abraham langsung melepas tangan Adelia "Oh begitu, ya susah mungkin di lain waktu saja"
"Saya permisi dulu, pak. Terima kasih untuk hari ini" Adelia pun keluar mobil.
Di dalam hati Tristan senang karena Adelia menolak ajakan Abraham (Artinya dia nurut sama omongan gue. Itu artinya dia masih mencintai gue)
Tak berapa lama Adelia masuk dalam mini market. Mobil Abraham juga mulai pergi. Setelah beberapa saat kemudian, Adelia keluar sambil menenteng barang belanjaan. Ia melihat ke araha jalan, berharap seseorang muncul "Kok belum datang juga sih" Meraih ponsel kemudian menghubungi seseorang "Kenapa sekarang nggak bisa di hubungin sih"
Tak berapa lama datanglah seseorang mengendarai sepeda motor matic "Maaf ya agak lama nunggunya, tadi di jalan sedikit macet" Ujar seorang lelaki sambil turun dari motor. Nampak Adelia kesal sampai membuang muka.
"Hey....jangan marah begitu dong. Kalau marah bidadari surga nangis lho" Mendekati Adelia sembari mencolek pinggang rampingnya.
"Mana ada bidadari nangis, yang ada aku nangis nunggin kamu dari tadi" Wajah Adelia terlihat kecut sehingga membuat si lelaki melebarkan senyum. Satu helm yang di bawanya langsung ia pakaikan di kepala Adelia "Pasalnya kalau kamu manyun tambah cakep, kasihan bidadari surga pada berkurang cantiknya, jadi pindah ke kamu semua cantiknya"
"Terus aja godoin aku"
__ADS_1
Si lelaki langsung menyentuh kedua sisi bibir Adelia, ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruk (U) memaksa senyum di bibir indah Adelia "Senyum dulu dong, sayang. Masa ketemu calon suami manyun begitu"
Adelia pun menatap dalam kedua mata si lelaki "Kamu pinter banget buat aku luluh. Ya udah yuk antar aku pulang, badan terasa capek banget" Sambil memijat pelan bahu.
"Oke, tuan putri. Pangeran siap mengantar pulang" Si lelaki langsung menyodorkan tengan dan langsung di sambut oleh Adelia.
"Pegangan, sayang." Ketika mereka sudah naik motor, si lelaki meminta Adelia melingkarkan tangan di badannya. Tentu saja Adelia langsung memeluk erat tubuh sang kekasih, atau lebih tepatnya calon suami.
"Kita pulang"
Di sisi lain Tristan melihat kekecewaan di wakah sahabatnya "Kenapa tuh muka jadi kaya kerupuk kesiram air begitu? tadi masih renyah sekarang mlempem" Ujar Tristan sedikit menggoda. Padahal memang dia senang melihat penolakan Adelia.
"Gila gue nggak habis pikir sama tuh cewek. Bertahun tahun gue kejar masih aja licin kaya belut. Gue kurang apa coba? kaya udah, ganteng udah, baik pula. Masih aja dia nggak tertarik sama gue" Memukul kosong sambil melihat samoing kaca mobil.
"Malah ketawa lo, sialan emang" Memukul lengan Tristan kala melihat dia menertawakan dirinya.
"Bukan begitu bro. Ini pertama kali gue lihat seorang pengusaha besar, terkenal kaya lo di kacangin sama bawahannya sendiri" Geleng kepala "Itu tandanya lo nggak di restuin bersanding sama Adelia"
Tatapan Abraham semakin tajam dengan guratan tipis di dahinya "Terus menurut lo siapa yang pantes buat Adelia? Elo gitu? halah nggak mungkin"
"Siapa tau dia lebih tertarik sama Gue. Lagi pula kita nggak kalah jauh kok. Gantengan gue, manisan gue, pengertian pula"
"Dih kepedean"
__ADS_1
Sepanjang jalan pulang, Adelia dan sang kekasih saling bercengkrama. Mereka terlihat sangat bahagia. Sampai berulang kali senyum di bibir Adelia mengembang.
"Oh iya, aku mau cerita sesuatu sama kamu. Tadi aku ketemu sama Tristan"
"Tristan?" Saking syok, si lelaki mengerem mendadak.
"Aw....kamu ini jangan ngerem mendadak begini dong. Untung aja nggak ada kendaran lain di belakang kita. Kalau tidak bisa menyebabkan kecelakaan beruntun tau" Memukul bahu sang kekasih.
"Maaf, maaf. Habisnya dengar nama dia bikin syok. Emang kamu betemu dia di mana?" Motor pun kembali melaju perlahan.
"Ternaya dia teman baik pak Abraham. Terus pas tadi kita meeting di perusahaan pusat, tiba tiba saja Tristan di ajak sama pak Abraham. Jadi mau nggak mau aku sama dia ada dalam satu situasi paling memuakkan" Ujar Adelia.
"Kok bisa sih dia temenan sama bis kamu itu. Bukankah setelah lulus sekolah dia itu ke luar negri ikut ama orang tuanya, kenapa tiba tiab dia nongol lagi"
"Nggak tau juga sih, bodo amat sama dia"
"Sudah aku bilang kita harus segera memberitahu hubungan kita kepada semua orang. Biar si bos kamu sama mantan pacar kamu itu nggak naruh harapan sama kamu" Si lelaki tidak suka jika Adelia terus di dekati lelaki lain. Sebab, mereka sudah terjalin dalam sebuah hubungan serius. Meski begitu tidak ada yang tau tentang hubungan mereka. Sengaja Adelia menyembunyikan hubungan mereka.
"Kita sudah sepakat nggak akan ngumbar suara sebelum ahad nikah terlaksana, masa kamu lupa sih"
Menghela nafas berat "Huff....ya udah tapi janji jangan tergoda sama permata di luar sana, karena di sini sudah ada berlian istimewa"
Adelia semakin mengeratkan pelukan sambil bersandar di bahu sang kekasih "Iya, sayang. Pokoknya cuma kamu orang teristinewa dalam hidup ini"
__ADS_1