
"Bagaimana bro dia cantik, bukan? dia calon ibu dari anak anak gue nantinya. Nanti pas gue udah nikah sama dia, gue mau punya anak sebelas, biar bisa jadi kesebelasan. Gue kaptennya, anak anak jadi pemainnya, dan dia jadi penjaga gawang. Duh senangnya hidup gue kalau udah nikah sama dia..." Bersandar pada bahu kursi. Memeluk potret Adelia sembari tersenyum senyum sendiri. Membayangkan betepa bahagia kehidupannya nanti saat menikah dengan Adelia. Foto di ambil ketika mereka tengah meeting di luar kota. Dengan parah cantik bagai bidadari membuat Abraham mencuri potretnya. Bahkan sangking cintanya foto Adelia ia simpan di dompet. Dalam kamar juga ada foto mereka berdua waktu perjalanan bisnis ke Eropa. Kala itu mereka tengah berada di depan sebuah Museum The Louvre. Mereka melakukan perjalanan bisnis ke Eropa semata untuk bisnis dan yang kedua untuk memperebutkan sebuah lukisan kuno yang di lelang di sana. Lukisan seharga milyaran rupiah tersebut di menangkan oleh Abraham selaku pengusaha yang membeli dengan harga paling tinggi. Abraham sengaja mengincar lukisan itu sejak lama karena kakek buyutnya sangat mengidamkan lukisan kuno tersebut. Akhirnya demi memenuhi keinginan sang kakek, ia pun membelikan lukisan itu. Sebagai kenang kenangan Abraham meminta foto berdua dengan Adelia di depan Museum The Louvre. Adeli sempat menolak tapi Abraham terus merengek dengam gaya bahasa khas. Membuat Adeli pasrah dan mereka pun berfose bersama. Senyum mengembang dengan salah satu tangan Abrahan melingkar di pinggang ramping Adelia. Fota itu ia jadikan hiasan di kamar supaya bisa setiap malam meluhat wajah cantik Adelia ini.
Melihat Abraham tenggelam dalam bayangan sambil tersenyum senyum sendiri, membuat Tristan mengepalkan kedua tangan (Sial, kenapa gue jadi nggak terima kaya begini ya)
Ketika sesuatu telah lepas dari genggaman barulah kita tau seberapa berharganya dia dalam hidup kita. Batu kerikil akan menjadi permata jika di tangan orang yang tepat. Setelah menemukan orang yang tepat barulan berlian menampakkan kilaunya.
"Bro, gue pamit pulang dulu ya. Besok gue ke sini lagi" Tristan beranjak dari kursi.
__ADS_1
"Lho kok buru buru, kopinya aja belum di minum" Abraham ikut berdiri seraya menghentikan Tristan supaya tidak segera pergi.
"Ya udah deh gue minum dikit deh demi menghargai persahabatan kita" Meraih secangkir kopi kemudian menyeruputnya "Dah ya gue balik dulu. Pan kapan gantian lo main ke kantor gue, sekalian ajak cewek itu...."
Abeaham jadi salah tinggah kalau meyangkut Adelia "Siap. Pokoknya gue nggak cuma mau bawa dia ke tempat lo tapi juga ke rumah gue"
Memicingkan mata "Mau ngapain?" Nada bicara Trisan sedikit meninggi.
__ADS_1
"Aduh nggak usah halu deh. Pacaran aja belum udah mikir nikah. Sudahlah gue mau pulang dulu...."Segera Tristan keluar dari ruangan Abraham.
"Gue harus cari dia" Melihat kiri kanan mencari sosok Adelia. Tak berapa lama Tristan melihat Anisa berjalan tidak jauh darinya. Ketika Tristan hendak menghampiri Anisa tiba tiba langkahnya terhenti. Dari kejauhan ia melihat sosok Adelia tengah berjalan elagan sambil melempar senyum kepada sslah satu staf perusahaan.
"Dia masih seramah dulu. Tapi di tambah cantik. Bodynya oke. Wajah tirus, hidung mancung, kaki jenjang, rembut indah bergelombang. Cantik banget...." Hampir saja air liur keluar dari ujung bibirnya. Sangking mengagumi ciptaan Tuhan yang satu itu.
Dan tiba tiba Tristan berlari kela pandangan Adelia mengarah ke arahnya "Sepertinya tadi aku lihat ada seseorang di depan pintu pak bos. Apa aku saja yang berhalusinasi. Toh dia juga pasti udah pergi" Langkah kaki semakin di percepat.
__ADS_1
Tristan masih menatap ke arah Adeli meski dia tidak menyadari itu.
"Sekarang dia jauh dari kata jelek" Berdecak kagum atas perubahan besar dalam diri Adelia.