
Kala kedua orang tengah berdebat datanglah sosok wanita "Kalian ini kenapa? apa pantas kalian berkelahi saat Adelia tengah terbaring sakit di dalam. Keterlaluan sekali kalian ini" Ketus Zaskia. Kedua laki laki itu saling membuang wajah, yabg satu kembali duduk yabg satu mengintip dari pintu, di lihatnya Adelia terbaring lemas. Tristan merasa sangat bersalah karena dia tidak bisa melindungi Adelia seperti janjinya dahulu.
"Sebenarnya permasalahan ini terjadai karena apa?" Tanya Doni pada Zaskia.
Zaskia duduk di samping Doni "Sebenarnya kejadian ini bermula saat aku terbawa emosi, sehingga para pembully itu semakin membuat Adelia tertekan. Semua ini adalah salahku" Rasa bersalahnya membuatnya sakit hati. Tepat di hadapannya Adelia di perlakukan tidak manusiawi. Sekarang Adelia mengalami trauma. Zaskia menunduk kepala berpangku tangan menutup wajahnya, air mata tumpah ruah.
Doni menyentuh pundak Zaskia "Sudahlah, jangan salahkan diri kamu sendiri. Toh sebelum adanya masalah ini mereka sudah membully Adelia. Tapi, sekarang kamu tenang saja, mereka mendapat hukuman keras dari pihak sekolah"
"Hukuman apa?" Sambung Tristan
"Mereka di skors selama seminggu. Bahkan, wali mereka di panggil ke sekolah."Jelas Doni.
Tiba tiba Ibunda Adel keluar ruangan bersama dengan suaminya.
"Nak kalian masuk saja Adelia sudah sadar. Kami akan tunggu di luar, siapa tau setelah bertemu kalian, dia bisa tenang dan kembali seperti dulu lagi"
__ADS_1
"Kalau begitu kami masuk dulu om, tante"
Tristan segera masuk "Adel..." Triatan duduk di samping ranjang Adelia, di gapailah tangan lemas Adelia "Aku sangat kesepian tanpa kamu. Lihat hp ku sepi tanpa kamu, dan kalau malam aku jd sedih, kamu tidak melihat senyummu di layar hp ku" Tristan memperlihatkan layar ponselnya.
Adelia menatap Tristan dengan tatapan kosong. Zaskia tidak tega melihat kondiri Adelia sampai ia menangis sesenggukan.
"Jangan nangis di depannya takut nanti dia jadi ingat masalah kemarin" Lirih Doni.
Zaskia berbalik, menyeka air mata "Del, gimana kabar kamu " Zaskia mendekati Adelia.
Adel masih diam seribu bahasa. Dia bagaikan mayat hidup, bisa bernafas, melihat, mendengar, tapi tak dapat merespon.
"Kamu harus berusaha keluar dari semua itu. Aku yakin kamu bisa melewatinya." Doni pun mendekati Adelia. "Apaan sih..." Tristan mendorong Doni sedikit menjauh dari Adelia.
"Eh jangan gitu dong, gua juga mau nyemangatin Adelia" Protes Doni.
__ADS_1
Tristan tersulut emosi "Dia gak butuh Lo...."
Belum sempat Tristan berkata, Zaskia lebih dulu melempar mereka menggunkan apel di atas meja "Kalian itu bisa tidak jangan bertengkar di sini. Kalau kalian cuma mau berantem jangan di sini, keluar sana" Ketus Zaskia.
Adelia perlahan membuka mulutnya, di gerakkan jari jemari. Ketika itu tidak ada yang menyadarinya. "Ja... jangan bertengkar"
Sontek mereka menoleh asal suara tersebut. "Sayang...." Tristan memeluk Adelia.
"Ha....sayang?" Kedua orang saling menadang, mereka tidak percaya dengan panggilang sayang.
"Astaga Adelia kamu sudah kembali" Zaskia pun ikut memeluk.
"Ikutan, Ah...." Doni pula ikut memeluk Adelia.
"Apaan sih, awas..." Zaskia mendorong Doni yang kala itu memeluk Adelia dengan melingkarkan tangan di badan Zaskia.
__ADS_1
"Biarin, tubuh lo ibu gak ngaruh sama iman gua. Bantet" Ucap Doni. Adelia tersenyum bahagia, sekarang ada tiga sahabat yang perhatian dengannya.
"Jangan erat erat leherku sakit" Lirih Adelia