
Beberapa hari kemudian. Abraham meminta Adelia ikut serta menghadiri meeting di perusahaan pusat. Mereka berangkat dari jam tujuh pagi, sebab perjalanan mereka akan menghabiskan waktu. Perusahaan pusat berada di luar kota. Perjalanan biasa mereka tempuh sekitar lima sampai enam jam itu pun kalau tidak terjebak macet.
"Kamu tadi sudah sarapan belum?" Tanya Abraham sambil menyetir. Mereka duduk di kemudi depan. Adelia duduk sembari membuka beberapa file yang harus ia cek ulang.
"Sudah, pak"
Abrahan melihat wajah cantik Adelia katika tengah fokus pada lembaran putih di pangkuannya "Sarapan sama apa?"
Pertanyaan Abraham membuat Adelia memutar bola mota jengah dengan semua pertanyaan ambigu ini "Peke nasi sama ayam pake telur, tahu, tempe, daging, sayur, buah, masih banyak lagi" Sengaja asal bicara supaya Abraham ilfil padanya. Seorang lelaki pasti menjauh kala mengetahui wanita incaran mereka makan dengan porsi super jumbo.
"Banyak juga ya kamu makannya. Tau begitu tadi saya sarapan di tempat kamu saja" Abraham masih saja membuat Adelia kesal.
"Maaf, pak Abraham. Saya sedang fokus dengan berkas untuk presentasi nanti, jadi tolong jangan tanyakan hal yang tidak penting." Sikap Adelia justru membuat Abraham semakin penasaran dan ingin segera mendapatkan hatinya. Seorang lelaki lebih suka tantangan, karena dia akan berjuang sekuat tenaga demi mendapat apa yang di inginkan.
__ADS_1
"Iya deh iya, saya minta maaf"
Ketika mereka melintas di jalan tiba tiba saja Abraham melihat sosok Tristan berdiri di pinggir jalan seolah terlihat marah "Eh dia kenapa?" Lirihnya seraya menepikan mobil. Adelia bingung kenapa Abraham menepikan mobil, padahal mereka belum sampai tempat tujuan "Ada apa, pak? kenapa kita berhenti di sini?" tanya Adelia.
Abraham lebih dulu melepas sabuk pengaman "Di depan ada teman baik saya, sepertinya dia sedang ada masalah. Kamu duduk tenang di sini biar saya kesana sebentar. Oke, cantik" Mengedipkan salah satu mata kemudian beranjak keluar.
"Tapi, pak waktu kita mepet sekali..."
"Soal itu perkara gampang. Masih ada banyak waktu" jawab Abraham dari kejauhan.
Beberapa menit kemudian Abraham kembali bersama seseorang "Anda sudah kembali, pak?" Betapa terkejutnya Adelia kala melihat sosok Tristan membuka pintu kemudi.
"Adelia, kamu kenapa?" Tanya Abraham yang baru saja naik. Abraham pindah ke kursi belakang sebab Tristan memaksa ingin mengemudikan mobil.
__ADS_1
"T.....tidak, pak. Saya boleh pindah ke belakang?" Merapihkan kembali lembaran kertas di atas pangkuannya.
"Oh jelas boleh. Mari silahkan...."
Tatapan Tristan terus menatap Adelia sampai dia berpindah ke kursi belakang.
"Woy....ngapain bengong, buruan jalan. Kita bisa terlambat" Dari belakang Abraham menepuk pundak Tristan.
"Oke, kita berangkat sekarang" Perlahan mobil kembali melaju. Sepanjang jalan Tristan mencuri pandang dari kaca depan mobil. Wajah cantik Adelia membuat jantungnya berdetak kencang tak menentu. Bayangan masa lalu membuatnya terbuai sampai tersenyum senyum sendiri.
Meresa dirinya di perhatikan, Adelia melihat dari pantulan kaca. Ternyata benar Tristan melihat dirinya. Di saat pendangan keduanya bertemu tiba tiba saja Adelia berpaling muka.
(Sebenarnya aku pengen banget ngobrol sama Kamu Del kaya dulu lagi. Aku mau minta maaf atas apa yang udah gue lakukan sama kamu. Andai saja kamu tau seberapa menyesalnya aku saat dulu, telah menggores luka di hati mu. Apa kita tidak bisa seperti dulu lagi)
__ADS_1
"Kamu mengantuk?" Tanya Abraham kala melihat Adelia menyandarkan kepala "Sini saya pinjamkan bahu untuk mu"
"Tidak, pak. Terima kasih." Berada di dalam satu mobil bersama orang yang paling di benci membuat bad mood.