
Setelah beberapa hari kemudian, semua murid yang di skors mulai kembali bersekolah. Mereka harus meminta maaf atas apa yang telah mereka perbuat kepada Adelia. Di bawah pengawasan kepala sekolah mereka terpaksa meminta maaf. Meski dalam hati mereka tidak ikhlas. Meski begitu, Adelia masih melihat dendam di mata mereka semua.
"Jika saya mendengar dan melihat kalian membully teman kalian, maka saya tidak akan sungkan mengeluarkan kalian dari sekolah ini." Tegas kepala sekoLah sembari menatap semua siswi yang ada di hadapannya. Mereka di suruh berbaris di depan tiang bendera oleh kepala sekolah dan guru lainnya. Mereka di paksa menundukkan kepala di hadapan teman lainnya juga para guru. Adelia juga di minta kepala sekolah untuk berdiri di hadapan beberapa siswi yang melakukan pembullyan pada dirinya. Awalnya Adelia menolak untuk maju karena ia tidak ingin memperpanjang semua masalah. Tapi kepala sekolah ingin semua anggota sekolah tau jika perbuatan bullying sangat di tentang di sekolah itu, dan berharap tidak akan ada kejadian seperti yang Adelia alami.
"Kami sudah minta maaf, pak. Bolehkan kami kembali ke kelas?" Tanya Nara.
Tatapan mata Bapak kepala sekolah semakin tajam. Beliau malangkahkan kaki menuju ke arah Nara. "Siapa yang mau langsung ke dalam kelas? silahkan saja asalkan esok kalian mau di coret dari daftar sekolah ini"
Nara menundukkan kepala kala kepala sekolah mengitari dirinya sembari melempar pendangan tidak menyenangkan. "Kamu pikir masalah ini sampai di sini saja? tidak. Masih ada beberapa hal lagi yang harus kalian pahami" Bapak kepala sekolah berpindah tempat menuju arah Adelia.
"Adelia, apakah kamu benar sudah memaafkan mereka dengan ikhlas?"
"Iya, pak. Saya sudah memaafkan mereka."
Merry membuang muka dengan sedikit menjulurkan lidahnya "Huek...sok cari muka. Dasar gendut" lirih Merry.
"Gara gara si gendut itu gue kena marah nyokap...Awas saja tu anak" Sambung salah seorang siswi yang tidak lain adalah kakak kelas mereka.
__ADS_1
"Stttt...kalau pak tua dengar bisa habis kita" Sambung Nara.
"Hey, kalian sedang membicarakan apa?" Bentak Kepala sekolah. Beliau tidak sengaja meliahat ketiga anak didiknya sedang berbisik di belakangnya.
"Tidak, ada pak." Singkat Merry.
Kepala sekolah menggelengkan kepala melihat sosok Merry, siswi berprestasi berbuat hal seperti itu. Bahkan, Kepala sekolah sempat yidak percaya jika anak didik sepintai, dan baik di hadapan para guru tersebut harus malakukan bullying pada temannya sendiri.
"Kalian semua harus menjadikan ini pelajaran. Siapa pun yang melakukan pembulliyan akan langsuang saya keluarkan dari sekolah ini. Tanpa terkecuali" Tegasnya sambil menatap semua murid sekolah itu.
"Pak...." Salah seorang mengangkat tangan.
"Jika ada tindakan kekerasan dalam sekolah ini seharusnya hukuman apa yang setimpal, pak?" Tanya siswa itu.
"Oh, jelas kami akan memberikan hukuman berat bagi mereka"
Lantas seorang siswa itu menyunggingkan senyum kepada Tristan yang berdiri di barisan depan.
__ADS_1
"Dia (Menunjuk Tristan) telah membuat Robby masuk rumah sakit, pak. Beberapa hari lalu dia membuat tangan Robby patah sampai saat ini Robby belum bisa sekolah, pak." ternyata teman Robby menjebak Tristan supaya mendapatkan hukuman.
Bapak kepala sekolah lantas menatap Tristan. Dengan santainya Tristan tersenyum.
"Apakah benar, Trsitan?"
"Iya, pak. Saya berbuat seperti itu karena mereka menantang saya. Dan saya menerima tantangan itu karena mereka menyudutkan Adelia tentang pembulliyan itu. Sekarang saya bicara jujur, dan bapak bisa putuskan sendiri siapa yang bersalah." Dengan santai Tristan maju ke depan lalu mengeluarkan sebuah rekaman.
Dalam rekaman itu terdengar suara Robby mengatai Adelia dengan kata kata kotor dan menghina.
"Saya melakukan itu karena saya membela yang benar. Jika saya tidak menerima tantangan mereka, maka pembuliyan di sekolah ini akan semakin menjadi."
Kepala sekolah bertepuk tangan. Semua siswa saling memandang. Mereka tidak tau apa yang beliau pikirkan, entah mendukung Trustan atau begaimana. Tapi dari senyum dan tatapan mata beliau, saling bertolak belakang.
"Anak didik sekolah ini semuanya hebat (Kembali bertepuk tangan) jagoan semuanya" Bentak kepala sekolah sampai membuat semua mutid terdiam. Kali ini kepala sekolah benar benar habis kesabaran.
Kepala sekolah mendekati Tristan "Kamu memang tidak salah membela Adelia, tapi kamu tetap salah. Masalah tidak akan dapat di selesaikan dengan pertengkaran. Kalian pikir dengan baku hanyam kalian merasa jagoan dan menang. Kalian itu masih di kuasai ego. Harusnya kalau ada kasus seperti ini, lapor pihak sekolah biar kami yang beetindak. Kamu paham?" Tekan Kepala sekolah pada Tristan.
__ADS_1
"Sekarang semua bubar. Tapi, saya mau Tristan, Adelia, Robby dan kamu (Menunjuk si pelapor) ikut saya ke ruangan." UmTutur beliau seraya melangkah pergi. Semua murid bubar, masuk dalam kelas masing masing.
"Semua masalah yang terjadi di sebabkan oleh si gendut itu. Coba saja dia tidak ada pasti nggak akan kejadian kaya gini" Ucap salah seorang. Adelia tidak sengaja mendengarnya. Tentu hatinya hancur. Seharusnya dia mendapat dukungan tapi malah di sedutkan.