OH MY NDUT

OH MY NDUT
Ep 23


__ADS_3

Sepulang sekolah Tristan dan kakak kelas tadi saling beradu jotos di samping sekolahan. Keduanya menunjukkan siapa di antara mereka yang paling kuat. Tapi si kakak kelas harus menelan kekalahan saat si juara karate itu membuatnya malu di depan teman teman lainnya. Tentu saja Tristan menang sebab di sekolahnya dulu ia selalu juara pertama dalam kompetisi karate. Arogansi Tristan mulai muncul ke permukaan kala ia di tantang. Delam hitungan menit ia melibat musuhnya.


"Makanya kalau punya otot jangan cuma modal gede tapi otak juga harus gede..." Tristan meninggalkan dia yang tergeletak kesakitan karena lengannya di pelintir. Semua teman teman kakak kelas itu sampai heran pada Tristan karena bagi mereka tidak ada yang bisa mengalahkan si Robby, kakak kelas itu. Robby terkenal geng paling nakal dan brutal di sekolah itu, bahkan kenakalannya sudah terdengar sampai ke sekolah lainnya.


"Hebat juga dia bisa ngalahin kamu, Rob" Ucap salah seorang teman Robby.


"Gila, Lo. Teman lagi kesakitan masih bisa muji musuh..." Maki Robby.


"Sorry, Rob. Soalnya dia serem banget pas mukul Lo tadi. Das des gitu..."


Robby semakin kesal "Lo mau bantuin gua apa mau muji tu anak?"


"Iya, deh iya. Sini gua bantu..."


"Aw...." Robby sangat kesakitan di bagian tangan, sepertinya mengalami patah tulang.

__ADS_1


Di sisi lain ada Adelia dan Tristan di perkiran motor. Adelia memberikan obat merah pada wajah kekasihnya. "Kenapa harus berantem sih? aku tidak suka kalau kamu berkrlahi lagi" Seraya mengusapkan air es ke wajah Tristan. Karena ia tidak membawa obat merah jadi ia mengurangi sakit dengan es batu yang di beliinya di warung dekat sekolahan.


"Aw...pelan sedikit, sakit tau" Tristan menyeringai keaakitan kala Adelie tidak sengaja mengusapnya dengan kasar.


"Lagian kamu nyebelin. Pokoknya nggak boleh berantem lagi, titik"


Tristan melihat wajah Adelia saat cemberut dan itu membuatnya tertawa. Pipi gembulnya semakin lucu kalau dia sedang marah.


"Kok malah ketawa?" Heran Adelia.


Krukkkk...


Terdengar suara gemuruh perut. Tristan melihat Adelia "Kamu lapar?"


Adelia menggeleng "Tidak, aku udah makan" Jawabnya sambil membuang muka. Sebenarnya Adelia sedari pagi belum makan apa pun. Dia melakukan diet ketat supaya kurus. Tapi, perut bulatnya tidak mampu menunggu terlalu lama sampai membunyikan gemuruh yang keras.

__ADS_1


"Udah lah kita makan dulu, yuk. Nggak usah malu" Tristan meraih es batu dari tangan Adelia lalu merangkul gadis itu mesra "Aku sayang kamu apa adanya..." Bisiknya sambil mendekatkan wajah ke telinga Adelia.


Adelia tersipu malu, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Jangan kaya gitu aku malu..."


Tristan terus melempar candaan rimantis pada Adelia sampai keduanya teelihat tertawa lepas.


Dari kejauhan ada Doni tengah melihat mereka berdua. Dia sengaja melihat mereka dari kejauhan sebab ia tidak sanggup melihat keduanya saling bermesraan seperti itu.


"Woy, ayo jalan" Anton memukul pundak Doni yang saat ini menghentikan motornya demi melihat Adelia.


"Apan sih. Tunggu bentar..." Jawab Doni sambil meneleh ke belakang.


"Ngapain Lo liatin mereka? jangan bilang lo cemburu"


"Mana ada gua cemburu sama tu anak. Gua cuma mau lihat tu bocah sok jagoan, gak lebih. Ngapain gua cemburu ama dia toh si Adelia bukan tipe gua." karena gugup dan tidak mau memperlihatkan rasa cemburunya, Doni segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2