OH MY NDUT

OH MY NDUT
Ep 42


__ADS_3

Sesampainya di pantai mereka langsung mencari tempat teduh untuk mereka singgahi sejanak, seraya menikmati pemandangan pantai berpasir putih. Desir angin menerpa pasir menyentuh wajah beberapa orang di bawah naungan terik mentari. Gemuruh ombak bersahutan menyapa para wisatawan. Lekuk liuk terombang ambing di tengah lautan lepas, menyuguhkan keindahan alam ciptaan Tuhan. Hamparan permadani biru terlihat sejauh mata memandang.


"Kita duduk di sini saja..." Abraham membantu Adelia duduk di bawah pepohonan sekitar pesisir pantai.


"Terima kasih, pak" Ucap Adelia.


"Sebentar saya cari minum dulu. Tan, tolong jagain Adelia sebentar" Abraham memukul pelan bahu Tristan.


Tristan mengacungkan jempol "Sip, deh"


Setelah kepergian Abraham, mereka saling diam. Meski sudah saling mengenal tapi seolah menjelma menjadi orang asing. Adelia tak mau terlarut dalam kediaman, ia pun meraih ponsel dari dalam tas.


Tristan masih berdiri sembari menatap jauh hamparan permadani biru "Nggak nyangka bisa ketemu sama kamu lagi, Adelia. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bahkan setelah bertahun tahun kita tidak saling sapa, atau sekedar bertukar kabar"


Adelia melirik Tristan. Melihat lelaki paling di benci berada tepat di depan mata, membuatnya mengeratkan rahang. Goresan luka masih membekas di hati. Tidak ada satu pun orang bisa menghapusnya, termasuk Tristan sendiri. Kebencian berawal dari sakit hati ketika cinta di dusta. Ketulusan Adelia di jadikan pembalasan dendam semata.

__ADS_1


(Omong kosong apa ini? melihat dia sekarang membuat ku muak)


"Apakah kamu tau setelah kita lulus sekolah, aku mencari mu kemana mana. Tapi, aku tidak menemukanmu. Padahal waktu itu aku hanya ingin meminta maaf padamu atas apa yang telah ku perbuat" Menunduk sembari mengingat kisah beberapa tahun silam. Kala itu di siang hari yang cerah, semua siswa siswi merayakan kelulusan mereka. Tapi, ketika kelulusan telah di umumkan hati Tristan hancur kala mengetahui kekasihnya menggendeng lelaki lain yang jauh lebih segalanya. Awalnya Tristan berencana menjempur Kania sepulang sekolah, namun ketika di pintu gerbang ia di kejutkan dengan sang kenyataan. Kania keluar dari sekolah berboncengan dengan lelaki lain. Tristan langsung mengikuti mereka, hingga akhirnya mereka berhrnti di sebuah taman kecil. Di sana Tristan baru tau bahwa cinta Kania tidak setulus yang dia pikirkan. Sejak saat itu Tristan sadar bahwa ketulusan itu hanya ada dalam diri Adelia.


Fisik tidak menjamin seseorang dalam berperilaku. Kadang kala yang terlihat sempurna belum tentu sesuai dengan harapan kita, begitu pun sebaliknya. Fisik buruk pura bukan bearti tidak bisa memberikan kesempurnaan, tetapi dalam mencapainya harus di landasi dukungan dan ketulusan.


Kejadian itu membuat Tristan menyesal telah melukai wanita tulus seperti Adelia demi seorang sampah. Ketika penyesalan datang, maka kesempatan tidak lagi terbuka. Adelia sudah pindah ke luar kota bersama kedua orang tuanya. Tidak hanya pindah tempat, Adelia juga mengganti nomor telepon demi terlrpas dari kenangan masa lalu. Hidup baru, tempat baru, suasa baru, akhirnya hidupnya menjadi jauh lebih berharga.


Tatapan Tristan beralih pada wajah ayu Adelia "Selama ini Aku menyesal telah menyakiti kamu"


Adelia membuang muka "Tidak perlu bahas masa lalu" Adelia bangkit. Langkah kaki menuntunnya ke tepian pantai. Air laut menyapu kedua kaki indah tanpa alas. Menghirup udara sekitar sembari memejamkan mata sejenak.


Ketika seseorang mulai menyesali apa yang dulu di tinggalkan, itu bukan cinta namanya. Tapi, sebuah obsesi. Penyesalan lantas membuat mereka ingin kembali memperjuangan, sampai mereka lupa apa yang sudah di tanam. Tidak semudah itu, jika sesuatu telah lepas dari genggaman maka tidak akan dia kembali lagi. Ibarat sebuah kayu di bakar menjadi abu kemudian di genggam, abu tadi tidak akan kembali menjadi kayu. Begitu pula cinta Adelia.


"Dunia masih mempertemukan kita, itu artinya semesta menginginkan sesuatu dari kita"

__ADS_1


Sontak kedua bola mata membulat sempurna "Bicara apa kamu ini?" Dengan nada sinis.


Tristan menatap mata Adelia penuh harap "Kita bisa kembali seperti dulu. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Selama berpisah darimu, baru aku sadari kalau ternyata aku masih mencintai kamu"


Plak...


Tamparan keras mendapat di pipi Tristan "Kamu kira setelah apa yang terjadi, masih bisa bicara seperti itu sama aku. Heh....sadar, dulu kamu mendekati ku dengan seribu cara, menjadikan aku bagai ratu lalu setelah mendapatkan semuanya, kau hancurkan hidup ku menjadi serpihan abu. Dan sekarang kamu masih bisa bicara omong kosong seperti itu?" Ujar Adelia sembari melempar tatapan sinis.


Hendak menggapai tangan Adelia, namun sigap Adelia menundurkan langkah "Suatu saat nanti kamu akan tau betapa sakit di lukai. Kamu kira dengan wajah tampan bisa mendapat apa pun yang kamu mau? tidak. Justru kamu akan memetik buah dari perbuatan mu dulu" Kedua mata Adelia berkaca kaca. Sakit hati kembali menjalar dalam diri, membangkitkan kebencian setelah bertahun tahun lamanya.


"Aku sadar selama ini aku banyak menyakiti kamu, maka dari itu aku minta maaf padamu. Beri satu kesempatan untuk ku lagi" Berlutut di hadapan Adelia sembari mendongak menatap wajah wanita cantik yang tengah melihatnya. Sesaat pandangan mereka bertemu. Dalam diam keempat mata saling bercerita hal yang di rasa para pemiliknya selama ini. Dalam pandangan Tristan terlihat sebuah harapan besar dan rasa bersalah. Tapi, Adelia tidak lagi berharap kata maaf atau kembali dalam pelukan Tristan. Segera Adelia membuang pandang "Simpan kata kata kamu itu. Mendengarnya saja membuat ku mual" Tersenyum jijik.


Tak barapa lama Abraham sudah kembali dengan membawa beberapa minuman dan snack "Kalian ngapain?"


Tristan menoleh "Udah lama lo di situ?"

__ADS_1


"Baru aja gue nyampe. Kalian ngapain berdiri di situ, sini kita minum dulu"


Adelia pun melewati Tristan menuju ke arah Abraham. Tidak lama Tristan pun berjalan ke arah mereka.


__ADS_2