OH MY NDUT

OH MY NDUT
Ep 36


__ADS_3

"Tolong bawakan saya dua cangkir kopi" Titah Abraham pada seseoranng di telepon.


Adelia nampak gelisah setelah menerima telepon dari atasannya. "Mbak, mbak, bisa bantu saya tidak...."


"Mbak Adel kenapa? kelihatan cemas begitu, emanga ada apa sih? kalau saya bisa bantu pasti akan saya bantuin kok" Salah satu karyawati menawarkan diri. Kebetulan sekali ada penolong datang. Emang kalau orang baik itu pasti ada saja jalannya "Untung ada kamu Nis, aku boleh minta tolong buatin dua kopi terus sekalian antar kopi ke ruangan pak Abraham. Tolong ya tiba tiba nggak enak badan nih" berpura pura sok sakit padahal sedang pura pura. Semua ia lakukan demi menghendari mantan kekasihnya itu. Sejaj kajadian semasa Sma dulu, membuatnya bertekat membenci lelaki tersebut sampai mati.


Seketika Anisa membantu Adelia duduk "Ya sudah mbak Adel istirahat saja. Kalau masalah pak Abraham serahkan sama saya..." Anisa menyunggingkan senyum seraya menyeduh kopi yang di minta.


"Makasih banyak ya Nis, kamu paling bisa di andalkan" Ucap Adelia.


"Sip lah mbak. Pokoknya kalau butuh bantuan Anisa Maharani siap membantu Mbak Adel" Dari dulu Anisa paling suka berhadaoan dengan Abraham. Wanita centil yang satu ini begitu tergila gila dengan Abraham.


"Kalau begitu saya antar kopi dulu" Sebelumnya Anisa lebih dulu membehani tatanan rambut serta baju agar terlihat sesempurna mungkin.


"Oke deh, kamu udah cantik pol" Sengaja Adelia membumbung tinggi supaya dia semakin telena.


"Ah mbak Adel bisa saja" Sambil tersenyum malu "Sudah ah mbak jangan buat saya jadi tambah grogi dong, lihat nih tangan saya ampe gemetar lho. Baru pertama kali bikinin kopi buat pak Abraham. Udah berasa lagi bikinin suami kopi"


"Iya deh makanya banyak belajar bikin kopi yang enak biar calon suami kamu kesem sem" Celetuk Adel.

__ADS_1


"Pastinya dong mbak. Kopi khusus buat calon suami harus wenak pol" Tanpa tunggublama Anisa membawa kopi tersebut ke ruangan Abraham.


Tok, tok, tok...


"Masuk..." Ucap Abraham dari dalam ruangan.


Tristan langsung menoleh ke arah pintu. Mendengar semua ceritanya membuat dia kepo, seperti apa wajah wanita yang temannya itu ceritakan. Bercerita seolah wanita cantik di dunia hanya satu orang saja.


"Selamat siang, pak. Saya membawakan kopi pesanan bapak" Meletakkan dua cangkir kopi ke hadapan Abraham dan Tristan.


"Lho kok kamu sih? di mana Adelia?"


Deg...


"Mbak Adel tiba tiba sakit, pak. Jadi, saya beriniasif bantuin mbak Adel untuk mengantar kopi pesanan bapak" senyum manja di sudut bibir Anisa membuat Tristan menahan tawa. Abrahan melihat wajah Tristan (Sial, gue di ketawain gara gara dia) "Ya sudah kamu boleh pergi sekarang" Titah Abraham.


"Nggak mau saya bikinin apa lagi nggak pak?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Siapa tau bapak mau sekalian di buatin pisang goreng, bakwan, mendoan, atau kacang goreng gitu, buat teman ngopi" Anisa memang suka bergurau tapi dia malah semakin membuat Abrahan tercoreng wajah di hadapan sahabat lamanya.


"Aduh kamu itu ya, saya nggak suka semuanya. Udah sana keluar. Cepat kerjakan tugas kamu"


"Iya deh pak, iya. Tapi pak Bos kalau lagi marah ganteng tau" Sangking geli Abraham mendorong Anisa keluar dari ruangan


"Ahahahahahaha....." Tristan tertawa lepas. Puas dia melihat wajah Abraham. "Gue kira mata lo udah buta suka sama asisten model barbar kek begitu, ternyata salah orang"


"Enak aja gue suka sama ondel ondel macam begitu, kalau lo tau asisten gue secantik apa pasti langsung jatuh cinta lo"


"Ah, dasar halu. Mana ada asisten lo cakep yang ada burik iya" Lagi lagi Tristan tertawa lepas sampai kerut teras kaku.


"Sial....gue malah jadi bahan ketawaan" Tanpa di sadari tangan mengambil secangkur kopi lalu di minumnya "Aw....panas sekali"


"Ahahahaha....Abraham, Abraham, gara si asisten lo yang katanya cakep ampe kopi panas main di cium. Tuh bibie yang ada bengkak"


"Sialan lo ngetawain gue"


Ketika lagi asik tertawa terbahak bahak, kedua mata tiba tiba melihat sebuah foto di atas meja kerja Abraham "Dia? bukankah dia itu"

__ADS_1


"Kenapa? cakep kan. Gue udah bilang asisten gue itu super cakep banget. Unik dan menarik" Sambik tersenyum senyum membayangkan wajah Adelia.


Tristan yang tadinya terbahak bahak seketika terdiam seribu bahasa (Jadi benar Adelia yang dia maksud adalah....)


__ADS_2