
Semua hidangan makan siang telah tertata rapi di ruang tamu. Mereka terpaksa makan di sana karena keluarga Adelia tidak punya ruang makan jadi, mereka setiap hari makan di tempat itu. Ruang tamu itu pula hanya tersedia empat kursi dan satu meja kecil. Jika makanan di letakkan di meja itu pasti akan sulit bagi mereka mengambilnya. Akhirnya ibunda Asel mengambil tikar dan mereka makan di lantai. Tristan melihat kehidupan Adelia sampai ingin menangis. Sepanjang hidupnya tidak pernah ia bersyukur atas nikmat Tuhan. Sekarang Tristan sadar bahwa rasa syukur itu nomor satu. Dalam kondisi apa pun jika rasa syukur itu ada maka semuanya akan nampak baik baik saja.
Keakraban di keluarga Adelia belum pernah ia rasakan selama ini. Tristan terus melihat keluarga Adelia dengan senang hati saling berbagi makanan dan kasing sayang. Keterbatasan ekomoni tidak membuat mereka menderita tapi malah sebaliknya.
"Kenapa diam, ayo makan. Maaf ya cuma seadanya" Ucap Ibunda Adelia seraya menungakan nasi di piring suaminya.
Bahkan Tristan belum pernah melihat kedua orang tuanya makan bersanding bersama dan saling melempar senyum. Hati Tristan mulai terhanyut. Betapa ingin memiliki keluarga seperti keluarga Adelia ini. Namun, takdir berkata lain. Keluarga Tristan saling acuh dqn keram bertengkar. Masalah yang mulanya tidak ada di buatnya menjadi ada. Pertikaian kedua orang tua Triatan membuatnya sangat tidak nyaman berada di rumah sampai ia sering menghabiskan waktu di luar. Dalam sehari hanya beberapa jam Tristan berada di rumah.
"Heh, kok bengong" Adelia menghuyung lengan Tristan.
Seketika itu lamunan Tristan buyar "Enggak kok. Kamu enak ya punya keluarga rukun seperti ini"
Ucapan Tristan menghentikan tangah Ibu Adel yang kala itu hendak menuangkan sayur ke dalam piring suaminya.
__ADS_1
"Lha memang keluarga kamu tidak rukun?" celetuk Zaskia sambil menuangkan nasi dalam piring miliknya.
"Hust...Tidak baik itu" Ibunda Asel menyenggol bahu sahabat putrinya itu.
"Ya kali lihat kaya gini aja dia baper. Salah sendiri" Dengan santainya Zaskia melanjutkan ucapannya.
"Ada apa, Nak?" Ayah Adelia melihat raut wajah Tristan. Kediaman anak itu membautnya tau bagaimana kondisi kelaurganya.
Adelia mengusap lengan Tristan "Kamu yang sabar ya..."
Tristan menatap Adelia "Aku pengen punya keluarga seperti ini. Meski kehidupan sederhana tapi sangat bahagia. Kalian saling melengkapi satu sama lain. Sedangkan aku..." Wajahnya seketika menunduk.
Ayah dan ibu Adelia saling memandang. Mereka sudah tau apa yang di rasakan Tristan.
__ADS_1
"Ehem....kok malah melo gini sih, keburu laper nih perut" Ayah Adelia mencoba memecah kepiluan di hati Tristan.
"Iya, kita makan dulu nanti keburu nasinya dingin."Sambung Ibunda Adel seraya meraih piribg Tristan lalu menungakan nasi "Kamu juga sudah tante anggap anak sendiri, malah kamu lebih spesial lho. Bukatinya Tante ngambilin kamu makan lebih dulu di bandibg adelia" Senyum di wajah Tristan mulai terlihat.
"Terima kasih, Tante" Tristan mengambil piring berisi nasi.
"Sini biar tante ambilkan sayur sama lauk "
"Tidak usah Tante. Saya ambil sendiri saja" Tristan pun menuang sayur dan sepotong telor. Setelah Tristan makan sesuap, air matanya meronta ingin keluar "Enak sekali masakan tante" Puji Tristan.
"Siapa dulu yang masak. Tante gitu loh" Zaskia ikut memuji Ibunda Adelia.
"Kalian bisa saja. Udah cepet makan, nanti keburu dingin.
__ADS_1