OH MY NDUT

OH MY NDUT
Ep 07


__ADS_3

Selepas kepergian Adelia, tanpa sengaja Doni melihatnya keluar dari sebuah mobil mewah. Perlahan ia datangi si pemilik mobil. Dengan rasa penasaran langkah kaki perlahan mendekat "Siapa orang di dalam mobil ini?" Lirihnya seraya membungkukkan badan.


Tok tok..


Doni mengetuk kaca mobil. Tak lama kaca mobil terbuka. Terlihat seorang laki laki turun dari mobil. Kaos putih yang di kenakan terlihat basah, dengan peluh di wajah lelaki itu "Siapa kamu?" Doni meraih baju Tristan dan mencengkeram dengan kuat.


Tristan menyunggingkan senyum "Siapa saya? seharusnya saya yang pantas bertanya, kamu siapa? tiba tiba datang tanpa di undang macam jalangkung" Sahut Tristan santai.


Sebenarnya Tristan sudah tau siapa laki laki di hadapannya itu. Meski begitu, dia berpura pura tidak mengenalnya. Mereka berdua saling perang mata, keempat mata tersebut berperang dalam gejolak amarah.


Doni semakin mengeratkan cengkramannya "Kamu apakan Adelia? jangan sampai kamu macam macam sama dia. Kalau tidak kamu berhadapan denganku" ancam Doni.


Tristan tertawa "Hahaha..." Dengan kasar Tristan melepas tangan Doni dari bajunya"Memang kenapa jika saya berbuat sesuatu sama dia. Memang kamu ini siapa? pacarnya? atau pamannya?"


Doni mengeratkan rahang, menahan emosi. Biar bagaimana Adelia pernah ada di hatinya. Mungkin lebih tepatnya masih ada dalam hatinya "Jangan membuatku marah..." Doni hendak melayangkan kepalan tangan. Namun, Tristan lebih dulu menangkisnya "Kamu pikir siapa kamu berani mengangkat tangan padaku?" Seraya memelintir tangan Doni. Membuat badan Doni berbalik seketika. Lengan Doni di lipat ke belakang seraya di pelintir sekuat mungkin.


Awalnya Tristan bukan ingin menyakiti Doni, hanya saja terbawa suasana sampai mengharuskan dia bersikap kasar.

__ADS_1


"Jangan ikut campur urusan kami. Ngerti kamu" Semakin kuat Tristan menekan lengan Doni.


"Awww...." Doni pun meringis kesakitan.


Tristan tersenyum puas "Saya peringatkan jangan dekati Adelia lagi. Dia adalah milik saya, mengerti" Melepas tangan Doni seraya mendoronganya sampai hampir terjatuh.


Setelah itu Triskan kembali masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan tempat tersebut.


Doni masih penasaran siapa laki laki itu, sampai menyatakan kepemilikan Adelia. Setelah tiga bulan masuk sekolah Sma, Doni belum pernah melihat Adelia dekat dengan siapa pun atau di antar oleh laki laki manapun. Wajah laki laki itu juga asing baginya. Kalau di pikir lebih dalam, mana ada seorang pelajar mengendarai mobil semewah itu. Tapi, di lihat dari wajahnya, laki laki itu masih terbilang muda.


"Siapa dia sebenarnya..." Segera Doni bangkit lalu menuju parkiran khusus sepeda. Setiap hari libur banyak para pemuda pemudi berolahraga menjaga kesehatan badan.


Di sisi lain ada Adelia yang menangis di bawah pohon rindang. Ia melipat kedua kakinya dengan menenggelamkan wajahnya. Di saat bersamaan langit mulai redup, pagi yang cerah berganti kelabu. Langit menampakkan gumpalan awan hitam serta angin berhembus membawa tetesan air. Percikan air menyapanya lembut, menusuk pori pori kulit. Seakan dunia merasakan kesedihan Adelia. Hujan pun semakin deras mengguyur bumi, tapi Adelia masih berdiam diri. Mati rasa dalam luka.


Semua orang berlarian menuju tempat yang lebih teduh. Badannya di basahi air hujan, setiap tetes tercampur dengan air matanya. Hatinya sangat hancur. Ia merasa dirinya hanya di permainkan para lelaki.


Gemuruh air hujan di iringi angin kencang. Angin menyapu dedaunan. daun kering berjatuhan membelai ujung kepala Adelia.

__ADS_1


"Siapa dia? apa dia gila. Kenapa tidak berteduh" ucap salah satu orang di kerumunan.


Banyak orang berkasak kusuk dengan ucapan mereka "Apa jangan jangan dia meninggal.." Sambung salah seorang di kerumunan. Ada puluhan orang berteduh di teras toko seberang taman.


"Eh bantu dong. Kasian" Salah seorang berkata pada yang lainnya. Namun, mereka semua menggeleng. Tiba tiba dari kejauhan ada sebuah mobil berhenti di samping taman. Seorang laki laki keluar dengan membawa payung. Tentu saja dia adalah Tristan. Awalnya dia hendak pulang tapi si tengah jalan menuju jalur rumahnya, jalan tiba tiba si tutup karena ada perbaikan jalan. Penutupan jalan itu mengakibatkan kemacetan, sampai Tristan memutuskan berputah arah melewati taman itu. Di tengah jalan ia melihat sosok Adelia di bawah pohon. Ia menghentikan mobil.


"Hey, ngapain"


Adelia mendongak, melihat wajah Tristan berpayung teduh. Adelia mengucek mata meyakinkan hal yang di lihat "Pasti hanya halusinasi" Sesekali ia menampar kedua pipi.


"Bangun..." Tanpa pikir panjang Triatan menyeret lengan Adelia sampai ia berdiri. Karena baju Adelia basah, bra yang di pakai terlihat jelas. Warna merah muda, sontak Tristan meneguk air liurnya. Dengan sigap ia melingkarkan tangan di badan Adelia.


"Apa sih...." Adelia mendorong Tristan sampai payung mereka terjatuh.


Mereka berdua terguyur air hujan. Keduanya saling bertatap muka. Deru nafas Adelia semakin cepat, di iringi emosi dalam dirinya.


"Kita tidak saling kenal. Jadi, jangan sok akrab." ucap Adelia.

__ADS_1


Tristan hendak menjelaskan sesuatu pada Adelia namun, Adelia lebih dulu melepaskan diri darinya lalu berlari sekuat tenaga.


__ADS_2