OH MY NDUT

OH MY NDUT
Ep 46


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Trisntan mulai sering ke kantor Abraham. Adelia dan Tristan kerap bertatap muka, bahkan setiap hari Tristan mengirim pesan padanya. Namun, tidak satu pun di belas.


"Sampai kapan dia mengirim pesan sampah seperti ini sama kamu?"


Adelia baru saja keluar dari dapur membawa secangkir kopi beserta gorengan kesukaan sang kekasih "Nggak tau aku sampai bosan baca pesan dia" Menaruh minuman kemidian duduk di samping sang kekasih.


"Pernikahan kita tinggal dua hari lagi. Kenapa tidak kamu beri mereka surat undangan, sulaya tidak mengganggu kamu terus menerus. Aku nggak suka ada lelaki lain mengirim pesan romantis kaya begini ke kamu" Meletakkan kembali ponsel Adelia kemudian menghempaskan badan pada bahu sofa.


"Iya, besok aku kasih undangan pernikahan kita sama dia. Kamu nggak usah khawatir, sayang. Kalau aku sudah menjatihkan pilihan tidak ada yang bisa mematahkan pilihan ku. Kamu adalah pelabuhan pertama dan terakhir ku" Mengusap lengan sang kekasih. Berharap dia mau mengerti.


"Tapi janji undangan ini besok kamu berikan sama mereka"


"Iya deh iya. Ya udah kamu minum dulu setelah itu antar aku ke halte bis depan, seperti biasa"


Meraih secangkir kopi kemudian meminumnya "Sampai kapan sih kita pacaran diam diam begini. Udah kaya maling aja"


"Sabar lah dua hari lagi lho" Ujar Adelia sambil merapihkan rambut. Pesiapan pernikahan di laksanakan di sebuah gedung. Jadi, Adelia mau pun keluarga si lelaki tidak begitu keropotan.


"Oh iya bapak, ibu, mas abang kamu kapan datang? waktu udah mepet tapi mereka belum juga datang. Nggak pengen cept lihat calon manantunya dulu gitu?"


Memukul pelan lengan sang kekasih "Udah kenal lama kali"


"Hari ini gue mau bawain makanan kesukaan dia. Biar dia ingat kalau cuma gue yang tau semua tentang dia" Tristan barada dalam sebuah toko coklat paling enak. Sengaja membeli beberapa coklat termahal dan terenak demi untuk Adelia seorang.


"Pasti dia suka sekali" Tersenyum sembari membayangkan reaksi Adelia setelah membuka bingkisan coklat.

__ADS_1


Tak lama kemudian Tristan keluar dari toko. Sampai dalam mobil ia mengirin pesan pada Adelia. Meski tidak di balas namun ada jejak Adelia telah membacanya "Gue nggak bakal nyerah sebelum dapetin lo lagi"


Setelah beberapa saat kemudian sampailah Tristan di kantor sahabatnya "Dia ke sini lagi? Gue rasa dia sering sekali ka kantor gue. Kesambet apa anak itu" Abraham baru saja datang dan masih berada di parkiran. Dia melihat Tristan berjalan memuju kantor.


"Emang dia nggak kerja atau bagaimana? sepagi ini udah nongol di kantor gue aja tu orang" Abraham pun segera keliar mobil lalu menghampiri Tristan.


Tak berapa lama Adelia pun datang. Ia nampak tertatih sebab sedikit terlambat dari biasanya. Semua karena sang kekasih sedikit merajuk "Semua karena dia jadi aku terlambat masuk kerja" Adelia ngedumal sambil terus malihat jam di ponsel.


"Lebih baik gue taruh di laci kerjanya saja" Tristan membuka laci meja Adelia kemudian meletakkan coklat.


Bruk....


Tanpa di sengaja Adelia menabrak Abraham yang kala itu berhenti depan life. Adelia terburu buru jadi tidak melihat jalan sampai menabrak Abraham.


"Lain kali lebih hati hati lagi, atau kamu akan jatuh dalam hati saya"


Ucapan itu membuat Adelia mendongak. Bwnar saja irang yang di tebraknya adalah Abraham "Pak Abraham? maaf saya tidak sengaja"


Abraham tersenyum "Tidak masalah. Tumben kamu berangkat telat?"


"Jalanan macet, pak."


"Oh begitu, ya sudah kita hari ini ada meeting dengan orang penting. Saya minta persiapkan diri dan semua berkas" Tutah Abraham.


"Siap, pak. Semua sudah siap."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka sampai depan pintu ruang kerja "Lho lo udah di sini aja bro? ada apa?" Abraham berpura pura tidak melihatnya. Padahal dia sudah tau kedatangan Tristan sedari tadi.


Sambil menggaruk kepala "Em....itu tadi cuma mau bilang aja kalau nanti malam kitq jadi kumpul di rumah gue kan?"


"Jelas jadi lah."


"Oh iya Adelia juga boleh ikut. Ini kartu undangan buat kamu" Memberikan secarik kertas undangan "Datang ya"


"Sebelumnya saya mohon maaf karena tidak bisa menghadiri acara anda, pak. Dua hari lagi ada acara penting. Kalau kalian berkenan luangkan waktu untuk datang ke acara saya. Adelia tidak memberi mereka surat undangan, hanya memberitahu tempat acara di gelar.


"Acara apa sih memangnya?" Tanya Abraham heran


"Datang saja, pak. Nanti anda tau sendiri" Ujar Adelia.


"Kalau gue pasti datang" Sambung Tristan penuh senyum.


"Oke, kalau begitu kita harus siap siap meeting, pak. Mari kita persiapkan diri" Adelia dan Abraham masuk dalam ruangan. Sedangkan Tristan masih berdiri depan pintu. Ia tersenyum bahagia "Pokoknya di acara malam itu gue harus tampil maksimal" Perlahan ia meninggalkan tempat.


Adelia baru saja sampai di meja kerja. Langsung membuka laci lalu terkejut. Ada banyak coklat di dalamnya. Secarik kertas tersemat di atasnya. Sambil duduk Adelia membaca surat tersebut. Ternyata semua coklat itu dari Tristan.


"Membuat ku muak" Mengambil semua coklat lalu memasukkan ke dalam tas.


"Pak, saya ijin ke luar sebentar" Adelia keluar ruangan lalu menghampiri salah satu staf perusahaan. Coklat tadi ia berikan kepada siapa saja yang ada di sana.


"Makan semua coklat ini atau kalian bawa pulang, terserah suka suka kalian"

__ADS_1


__ADS_2