
Tiba hari di mana Adelia kembali ke sekolah. Seperti biasa dia di jemput Tristan. Kali ini Adelia menolak Tristan karena ingin berangkat sekolah bersama Zaskia. Awalnya Tristan terus membujuknya agar ikur naik motor bersamanya. Setelah perbincangam panjang antara keduanya, Tristan mengikuti keinginan Adelia, ia pun brrangkat sekolah lebih dulu. Sedangkan Adelia dan Zaskia jalan kaki menuju sekolah seperti biasanya. Adelia masih merasakan trauma kala melihat gerbang sekolah. Ingatan itu terus membayanginya. Sesaat langkah kaki Adelia terhenti.
"Kenapa, Del?"
Keringat dingin mengalir deras di pelipis mata. Tangannya mulai terasa dingin dan. Seketika pula wajahnya memucat.
"Adelia..." Menghuyung pelan lengan Adelia "Ada dengan kamu? apa kamu masih teringat kejadian itu?"
Adelia menatap mata sahabatnya dengan berkaca kaca. Tanpa bersua pun Zaskia tau bahwa saat ini Adelia masih merasakan trauma.
"Kamu tenang saja, tidak akan ada yang nyakitin kamu lagi. Mereka masih di Skors. Lagi pula sekarang ada kami yang jagain kamu." Jrlas Zaskia sambil menggandeng tangan Adelia, membawanya memasuki gerbang sekolah. Awalnya kaki teras berat memasuki sekolah, di tambah tatapan para siswq siswi di sana membuatnya takut.
"Sudahlah, jangan perdulikan mereka" Bisik Adelia kala tangannya di genggam begitu erat.
__ADS_1
"Gara gara, kita nggak bisa lihat si manisku Merry..." Celetuk seorang siswa dengan beberapa gerombolan. Siswa itu adalah kakak kelas 12 yang tertarik pada Merry.
"Iya, nih. Si gendut ini harunya nggak sekolah di sini, bawa masalah aja bisanya" Sambung siswa lainnya yang ada di gerombolan kakak kelas 12 itu.
Adelia berjalan di belakang Zaskia, ia sangat ketakutan mendengar ucapan mereka, seolah Adelia bukan korban melainkan pelaku. Adelia mengekor pada Zaskia. Wajahnya menunduk ketakitan.
"Minggir kalian atau aku laporkan kalian biar sekalian di kena skors...." Lantang Zaskia.
"Sejengkal saja kamu dekati pacar gua, kalian tanggung sendiri akibatnya" Muncullah sosok Tristan dari dalam kelas. Sengaja ia melihat sampai mana kekaaihnya di bully.
Tristan menerobos gerombolan kelas 12 tersebut, menghampiri lelaki si penindas itu "Jangan mentang mentang Lo kakak kelas jadi kita takut sama lo. Kalau berani gua tangtang lo sepulang sekolah kita selesaikan dengan jantan..." Tristan menantang kakak kelas itu, tentu saja dia menerima tantangan itu, sebab dia merasa mampu. Di lihat dari segi fisik Tristan tidak setinggi mereka, badan mereka juga kekar jadi mereka yakin yang menang pasti kelas 12. Dengan sombangnya dia membusungkan dada ke arah Tristan "Siapa takut. Anak kemaren sore nantangin jagoan."
"Ganteng doang nggak jadi jaminan menang, bro." Sambung grombolan lainnya.
__ADS_1
Tristan mengepalkan tangan, namun tiba tiba Adelia menghentikannya "Jangan, kita masuk ke dalam kelas saja." Melihat Adelia, Tristan pun luluh dan ia merangkul kekasihnya masuk ke dala kelas.
Clometan kakak kelas itu masih terus menggema di loring sekolah, sampai Tristan hampir tersulut emosi lagi. Di dalam kelas pandangan murid tidak lepas dari Adelia dan Tristan, pasalnya mereka tau mula dari kegaduhan adalah mereka berdua.
"Setiap kali ada dia pasti sekolah jadi kacau" Kesal salah seorang siswa di kelas.
"Apa kamu bilang?" Tristan bangkit dari duduknya. Ketika hendak melangkah menuju meja anak itu, tangan Adelia menghentikannya.
"Sudahlah, jangan ladenin mereka..."
Brak...
Tidak terima Adelia yang selalu di tindas yang lainnya, akhirnya Tristan menggebrak meja dengan keras "Kalian ini anak sekolah tapi mulutnya kaya nggak pernah sekolah aja. Di sini Adelia itu korban tapi kalian malah menyalahkan dia. Kalian punya mata nggak sih? udah jelas jelas Adelia itu di bully. Masih aja kalian nyalain dia, harusnya yang kalian salahkan itu si pelaku bukan malah berbalik" Bentak Tristan. Semua murid terdiam dan tidak ada suara sedikit pun.
__ADS_1