
Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Perlahan Adelia mulai dekat dengan Tristan. Bahkan, mereka saling bertukar nomor, tak jarang mereka saling memberi kabar juga melakukan panggilang vidio call setiap malam menjelang. Kedekatan mereka membuat semua orang cemburu, Tristan mengekor kemana pun Adelia pergi. Selama bersama dengan Tristan Adelia sangat terlindungi, tidak ada lagi orang berani membully atau mangatainya. Meski begitu hubungan mereka masih mendekati pacaran, atau lebih tepatnya pendekatan.
"Tumben lo gak di kawal..." Ucap Zaskia dengan nada tidak enak.
Adelia menghentikan langkah kakinya, saat ini mereka berangkat ke sekolah seperti biasa. Hanya saja biasanya Adelia di bonceng Triatan tapi sekarang jalan kaki bersama dengan Zaskia. Dengan perasaan tidak enak hati, Adelia menyunggingkan senyum "Ah, kamu bisa saja. Tristan bukan pengawal kok..."
Zaskia memutar bola mata jengah melihat Adelia. Beberapa bulan ini Adelia terlalu sibuk dengan Tristan sampai tidak ada waktu untuk sahabat baiknya.Zaskia mulai membenci Adelia karena perilakunya berubah. Tidak ada lagi sahabat yang saling menunggu berangkat sekolah begitu pula saat pulang sekolah. Waktu main mereka terhalang sosok Tristan. Persahabatan mereka kandas karena seorang laki laki, bukan memperebutan sang laki laki tapi, renggangnya persahabtan mereka di sebabkan oleh Adelia sendiri. Sangking senengnya punya teman laki laki, dia lupa ada Zaskia yang merindukan dirinya.
"Kia, ikut gak Lo..." Seorang perempuan mengendarai motor matic menepi, menawari Zaskian tumpangan, padahal jelas jelas Zaskia tengah bersama Adelia.
"Emm....gimana, ya" Zaskia terdiam sejenak.
"Udah deh gak usah banyak pikir, ikut gua aja. Toh, biasanya Lo juga jalan kaki sendiri, buat apa Lo perduli sama orang yang gak pernah perduli sama Lo" Nara turun dari motornya lalu menarik tangan Zaskia. Nara sengaja menyindir Adelia supaya persahabatan mereka putus. Nara sangat membenci Adelia di dasari salah paham yang berujung putusnya hubungan Nara dengan Ilham. Si tambah Adelia dekat sama laki laki yang ia inginkan.
"Udah ikut aja..." Kembali Nara membujuk Zaskia.
__ADS_1
Zaskia melihat wajah Adelia, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Adelia sendirian tapi karena selama ini Adelia tidak memikirkan dirinya setiap berangkat dan pulang sekolah, akhirnya dia memutuskan ikut Nara "Oke deh gua ikut Lo..." Segera Nara dan Zaskia pergi.
"Zaskia kok berubah. Biasanya dia tidak pernah pake kata lo, gua. Sekarang kok jadi kaya gitu..." Heran Adelia. Dari kejauahan Zaskia dan Nara masih terlihat oleh matanya "Apa dia marah karena selama ini aku di antar jemput Tristan.." Akhirnya Adelia sadar jika selama ini dia telah menyakiti hati sahabatnya "Tapi aku juga pingin di perhatikan. Aku ingin seperti mereka, menjadi sitimewa. Apa aku salah" Sambil berjalan Adelia mengedumal sendiri. Setalah bertahun lamanya tidak mendapat kasih sayang seorang laki laki, membuatnya terhanyut sampai melupakan sahabat yang selalu ada untuknya.
Tak berapa lama Adelia sampai di sekolah, kala di depan kelas ada tiga orang tengah berdiri di depan pintu, dua di samping kanan dan satu di sebelah kiri. Mereka adalah Merry, Nara, dan Zaskia. Tatapan ketiganya sangat aneh. Adelia merasa sedikit takut "Permisi...." Ucapnya kala hendak masuk ke dalam kelas.
"Anak saja..." Nara menghalangi pintu dengan satu kaki "Eh, gendut. Mana satpam Lo? tumben Lo sendirian...?"
Adelia ketakutan, tak berani menatap mereka.
"Jawab kali..." Bentak Merry seraya menggebrak pintu kelas "Kalau ada Tristan aja Lo sok berani ketaw tawa, sekarang aja lo diem kaya patung. Dasar Lo..."
"Enaknya kita kerjain aja..." Bisik Nara pada Zaskia di ikuti acungan jempol dari Merry. Sebelumnya Nara dan Merry telah menyiapkan sesuatu untuk Adelia sampai mereka membuatnya jera dan menjauhi Tristan.
Kebetulan sekolah belum begitu ramai, hanya ada beberapa orang saja. Ketika Zaskia mengangguk, Merry dan Nara menyeret Adelia masuk ke ruang kelas 12 yang terletak paling ujung. Di bungkam mulut Adelia dengan sebuah kain.
__ADS_1
"Emmmmm....." Adelia berusaha memberontak, dengan tubuh yang gemuk membuat kedua orang itu kesulitan memegangi tangan Adelia "Eh, bantuin dong jangan bengong aja Lo" Ketus Nara pada Zaskia.
Seketika saja Zaskia membantu memagangi tangan Adelia. Dengan jantung berdegub kencang membuatnya iba atas perlakuan mereka terhadap Adelia. Zaskian melihat tatapan mata Adelia seolah meminta tolong namun, Zaskia tidak bisa berpaling dari rasa kesalnya.
"Ra, Lo duluan biar kita di belakang, takutnya pintu gak muat sama badan ni anak" Nyinyir Merry seraya mencubit perut bagian bawah Adelia.
"Emmmm...." Air mata Adelia menetes deras. Rasa sakit di bagian perut tidak sebanding sakitnya dengan rasa sakit yang hatinya rasakan. Sekarang teman temannya tidak hanya membully melainkan juga main fisik, di tambah sahabatnya ikut membenci dirinya.
"Eh, kalian mau bawa kemana dia? emang kalian gak takut kalau Tristan marah nanti" Tanya kakak kelas mereka yang tiba tiba menghampiri.
"Trsitan hari ini sakit, tadi nyokap gua ke warung trus liat nyokap dia beli obat, katanya Tristan sakit." Jawab Nara.
"Kalau gitu kita senang senang hari ini" Sorak beberapa kakak kelas yang bersiap mengerjai Adelia.
Dengan segera Adelia di bawa kenruang kelas, mulutnya di sumpal kain dan tangannya di ikat kebelakang dengan tali "Eh, gua punya ide" Merry di bisiki sesuatu oleh kakak kelasnya.
__ADS_1
"Oke juga ide lo. Kalau gitu kita bawa di sekarang"
"Apaan?" Tanya Nara lalu ia di bisiki begitu pula dengan Zaskia. Mereka segera membawa paksa Adelia ke kamar mandi. Mereka memasang plakat jika kamar mandi sedang dalam perbaikan.