OH MY NDUT

OH MY NDUT
Ep 15


__ADS_3

Setelah sadar Adelia menjadi diam. Ingatan tentang pembulian itu maaih terngiang di otaknya, sampai pandangan matanya kosong. Mereka telah melukai mental seseorang sedemikian kejam, tak hanya itu mereka juga menyakiti secara fisik. Luka lebam di bagian paha kanan terlihat membiru, pipinya terlihat bengkak. Kedua orang tua Adelia sangat menyayangkan tindakan para teman sekolah putrinya, hanya karena fisik tidak sempurna mambuat mereka melakukan hal kotor seperti itu.


Awalnya ayah Adelia tidak terima atas perlakuan mereka terhadap putri kesayangannya. Ketika sang ayah hendak melakukan klarifikasi tengtang sebab mereka membully anaknya sampai seperti sekarang, ibunda Adelia menghentikannya. Semua itu hanya akan lebih mempersulit putri mereka kedepannya.


"Jika bapak ingin anak kita tidak di bully lagi, maka tolong jangan bertindak gegabah. Yang di butuhkan Adelia sekarang adalah bagaiman cara dia kembali seperti semula. Biarkan mereka menjadi tanggung jawab pihak sekolah." Tuturnya sembari menenagkan hati suaminya tersebut.


"Tapi saya tidak terima bu..." Tanpa sadar Sang ayah memukul tepi ranjang, di mana saat ini Adelia terduduk menatap arah jendela. "Aaaa...." Teriak Adelia sembari menutup kedua telinga.


Sontak kedua orang Adelia panik bukan main, segera sang ayah berlari ke luar memanggil dokter.


"Sayang, tenang nak. Ada ibu di sini" Sang ibu memeluk tubuh Adelia.


Mata Adelia terus menatap kosong di iringi isak tangis, mulutnya terasa kaku sampai sulit baginya berkata kata.

__ADS_1


Tak berapa lama sang Ayah kembali dengan seorang Dokter "Tolong anak saya, Dok"


"Kalian keluar dulu, biar kami memeriksa kondisi pasien" tutur Dokter.


Kedua orang tua Adelia keluar.


"Om gimana kondisi Adel?" Tanya Doni yang baru saja datang.


"Semoga Adel bisa melewati semua ini. Saya tau Adelia orangnya kuat" Doni duduk di sampinh ayahnya Adelia.


"Saya juga tidak menyangka anak jaman sekarang mampu melakukan hal buruk seperti itu. Apakah karena adelia itu gemuk, jelak, miskin, jadi mereka memperlakuannya secara tidak manusiawi." Mata yang berkaca kaca memperlihatkan kesedihan luar biasa. Bagaimana tidak, seorang anak terluka lahir batin hanya karena sebuah kekurangan semata.


Di sisi lain ada Tristan yang baru saja datang, ia memberi salam kepada kedua orang tua Adelia "Bagaimana kondisi Adelia sekarang Om Tante?"

__ADS_1


Doni membuang muka kesal saat kedangan Tristan "Adelia masih diam saja sejak kemarin coba nanti kamu ajak bicara siapa tau kamu bisa membuatnya tertawa seperti hari sebelumnya" pinta Ayah Adelia.


Tak berapa lama Dokter keluar, ia menjelaskan kondisi Adelia saat ini. Dia harus istirahat cukup, dan tidak boleh ada keributan sehingga menyebabkan psikis Adelia semakin memburuk."Kalau begitu kalian tunggu di luar dulu" Ucap Ibunda Adelia.


Kedua laki laki itu hanya mengangguk. Keduanya duduk di luar ruangan, menunggu hasil Adelia sadar"Kenapa lo datang ke sini?" Tanya Tristan.


Doni menatap laki laki yang tengah berdiri di depannya "Kenapa mamang? suka suka gua dong mau kemana aja, urusan Lo apa"


"Jelas ini urusan gua, Adelia itu cewek gua. Mau apa lo..."


Doni bangkit lalu mencengkeram baju Tristan "Jangan mentang mentang lo lagi deket sama dia, trus lo ngaku jadi pacarnya. Lo harus tau Adelia juga masih cewek gua"


Tristan menepis tangan Doni "Mana mungkin Lo itu cuma mimpi"

__ADS_1


__ADS_2