Our World Is Different

Our World Is Different
CHAPTER 22


__ADS_3

..."Terkadang, tidak semua hari berjalan dengan baik seperti yang direncanakan. Namun, akan selalu ada kebaikan disetiap harinya, yang dapat dijadikan sebuah pelajaran."...


..._Rizal Kiman...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


22. Ruang Bawah Tanah


Setelah urusannya dengan Xander beres, kini Hellena berjalan menuju lantai bawah. Lebih tepatnya akan ikut menyusul ke ruang bawah tanah.


Begitu sampai dilantai bawah, masih banyak terlihat anggota yang disana namun tidak lagi berkerumun seperti sebelumnya.


Kini mereka semua mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, "apa yang lainnya sudah datang?" Tanya Hellena pada salah satu anggota disana.


Mengerti dengan apa yang Hellena tanyakan, seorang itu langsung menjawab. "Sudah, Bos dan yang lainnya sudah datang beberapa menit yang lalu."


"Dan kami juga sudah menyampaikan pesan yang anda berikan," orang itu kembali berucap.


Hellena pun mengangguk pelan, lalu dengan santai melewati orang itu tanpa mengatakan apapun lagi.


Tujuan Hellena kali ini ruang bawah tanah, dengan pelan tapi pasti dia mulai melangkah mendekat kearah sama.


Sebuah jalan, lebih tepatnya lorong yang tersambung dengan ruang bawah tanah memiliki pencahayaan yang sangat minim. Tempat tersebut memang disengaja dibuat seperti itu, menimbulkan kesan seram dan horor secara bersamaan.


Namun hal tersebut sudah sangat biasa untuk Hellena, tanpa ada rasa takut sedikit pun dia terus melangkah.


Ketika jarak menuju ruang bawah tanah hampir dekat, dapat Hellena dengar sebuah suara cambukan yang cukup nyaring. Selain itu teriakan kesakitan juga mengiri suara cambukan tersebut.


"Ternyata mereka sudah memulainya," batin Hellena setelah mendengar suara tersebut. Ada rasa keterpuasan dan juga penasaran ingin segera melihat kejadian tersebut secara langsung.


Dengan sedikit mempercepat langkahnya, Hellena mulai mendekat dan tiba di pintu gerbang menuju ruang bawah tanah.


Sebuah pintu yang amat besar dan tingga, serta terkesan sudah sangat tua menjadi pemandangan yang ada didepan Hellena sekarang.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama lagi, Hellena mulai mendorong pintu tersebut terbuka dan langsung melangkah masuk kedalam.


Seorang yang sedang dicambuk dan kesakitan itu, kini terlihat sedikit memprihatinkan. Bagaimana tidak? Kini sudah terlihat beberapa luka yang muncul dipunggung orang tersebut akibat cambukan.


Selain itu, orang tersebut juga sudah dikelilingi oleh para anggota inti The Black Dream.


"Permainannya sudah dimulai ya?" Perkataan Hellena sedikit membuat kaget semua orang yang ada disana, tapi mereka langsung menormalkan kembali ekspresi mereka masing-masing.


"Ya, sangat seru bukan?" Miller menimbali perkataan Hellena, dia adalah orang yang sangat menyukai tontonan seperti ini.


"Apa yang sudah dia katakan?"


"Beberapa hal yang kurang memuaskan, masih sedikit bukti dan fakta yang dia beberkan." Kini Alterio yang menjawab pertanyaan Hellena, dia merasa geram dengan pelaku yang belum mau jujur sepenuhnya.


Setelah mendengar perkataan tersebut, Hellena semakin mendekat kearah pelaku dan juga Dalbet, serta Keano yang tepat berada di kedua sisi.


"Kau masih belum mau mengaku? Apa perlu ku cambuk lagi hah?" Dengan wajah penuh amarah Dalbert membentak orang tersebut.


Namun orang itu tidak menjawab pertanyaan Dalbert, hanya sebuah gumaman yang tidak jelas keluar dari mulutnya.


"Dia sepertinya sangat suka dengan cambukan mu, Bos. Ayo, cambuk lagi saja!" Terdengar sangat enteng ketika Keano mengatakannya, dia merupakan orang yang sangat suka melihat orang lain terluka.


Sedangkan Dalbert kini sudah kembali mengangkat tanganya tinggi-tinggi, siap untuk kembali mencambuk orang itu.


Namun perkataan Hellena menghentikan hal tersebut, "cukup Dad."


Suara itu membuat Dalbert mengurungkan tindakannya dan kini menatap kearah Hellena yang ternyata sudah berada didepan mereka.


"Dia masih belum mau bicara semuanya, bagaimana bisa kita berhenti mencambuknya?" tanya Dalbert yang belum puasa dengan tindakan dan juga jawaban yang diberikan orang tersebut.


Tanpa menjawab perkataan Dalbert, Hellena kini berjongkok tepat didepan muka orang itu.


Dengan sedikit kasar, Hellena menyentak wajah orang itu agar melihat tepat ke depan wajahnya. Sangat tertera wajah takut, dan kesakitan menjadi satu disana.


Bahkan wajah itu terlihat pucat dengan dibanjiri oleh keringat yang begitu banyak, tidak lupa terdapat sebuah darah yang hampir mengering disudut bibir orang itu. Mungkin dia mendapatkan sebuah pukulan diwajahnya sebelum mendapatkan cambukan.


"Apa rasanya sakit ketika dicambuk?" Pertanyaan Hellena yang terkesan konyol, karena tentu saja rasa sakit sangat terasa ketika dicambuk. Namun orang itu tidak menjawab pertanyaan Hellena, orang itu terus diam sambil menatap Hellena.

__ADS_1


"Pasti sakit kan? Lalu, apakah Ibu mu juga akan merasa sakit ketika dicambuk?"


"Tidak! Apa yang kau katakan? Jangan pernah melakukan apapun pada Ibu ku!" Orang tersebut langsung berteriak merespon dengan cepat perkataan Hellena, wajah marah dan panik kini menjadi satu.


Hal itu membuktikan, jika kelemahan orang tersebut berada pada Ibunya. Itu bisa menjadi kunci untuk mempermudah mereka mendapatkan informasi yang di inginkan.


"Jika hal itu tidak ingin terjadi, maka segera katakan semua yang kau tau sialan!!" Teriak Miller yang merasa gemas sendiri karena dari tadi menonton hal yang kurang seru menurutnya.


"A-aku akan mengatakannya, tapi ku mohon untuk jangan melakukan hal apapun pada Ibu ku." Kini orang itu mengiba pada semuanya, tapi dia antara mereka tidak ada yang merasa iba pada orang tersebut.


"Itu tergantung pada mu, jika kau jujur berarti Ibu mu akan aman dari kita." Keano juga ikut menimpali perkataan tersebut.


"Aku hanya disuruh seseorang agar menjadi mata-mata di markas ini karena orang tersebut tau, bahwa aku pernah ikut sebuah geng Mafia sebelumnya.


Dia mengancamku dengan keselamatan Ibu ku yang sedang sakit, selain itu aku juga terdesak karena sangat membutuhkan uang untuk mengobatan Ibu ku sehingga mau bekerja sama dengan orang itu."


Orang itu sudah berkata dengan sejujur-jujurnya, sekarang dia tidak menutupi apapun demi keselamatan Ibunya.


"Lalu, siapa orang yang bekerja sama dengan mu itu?" Dalbert penasaran dari kubu mana musuhnya kali ini, geng Mafianya terlalu mempunyai banyak musuh sehingga tidak tahu muruh yang mana yang bertindak.


"Aku tidak tau, dia selalu memakai topeng ketika bertemu dengan ku."


Ya, orang yang bekerja sama dengannya selalu memakai topeng untuk menutupi wajahnya. "Tapi, yang ku ingat ada sebuah tato kecil dipergelangan tangannya." Orang tersebut kembali berucap.


"Tato apa?"


"Sebuah kata HEMEC."


Seketika semua orang disana terdiam, tidak bisa mengelurkan kata-kata lagi. Mereka sedang berpikir keras tentang orang dengan ciri-ciri memiliki tato seperti itu.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!

__ADS_1


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.


__ADS_2